
"Mana?" tanya Ferry, karena dia tidak melihat keberadaan orang yang di maksud oleh pemilik pengilingan padi.
"Bentar."
Pemilik pengilingan padi, turun dari mobil, kemudian berjalan menuju ke arah depan. Di mana ada beberapa sepeda motor yang memang terparkir di sana.
Tapi, pemilik pengilingan padi, hanya menuju ke satu arah. Di mana ada pengendara motor yang masih berada di atas jok motor.
Jadi, orang tersebut hanya menepi. Dan bukan bermaksud untuk memarkiran kendaraan motornya.
Ferry melihat pemilik pengilingan padi, sedang berbicara dengan orang tersebut. Sesekali, pemilik pengilingan padi juga menoleh ke arahnya.
Ferry, sebenarnya tidak begitu jelas melihat siapa orang yang sedang ditemui oleh pemilik pengilingan padi.
Tapi dari kejauhan, Ferry seperti tidak asing. Dan pernah melihat wajah orang tersebut.
Meskipun dia juga tidak ingat, di mana pernah bertemu dengan orang, yang saat ini sedang berbincang dengan pemilik pengilingan padi.
"Siapa ya orang itu? Kok Aku kayak gak asing lagi dengan postur tubuhnya dan wajahnya," gumam Ferry, yang masih terus memperhatikan orang tadi.
Sayangnya, orang tersebut mengunakan helm. Jadi, tentunya Ferry juga kesulitan untuk mengenalinya.
Tak lama kemudian, pemilik pengilingan padi, sudah selesai dengan urusannya. Dia kembali ke tempat mobilnya terparkir, dengan membawa beberapa tas jinjing di tangan.
Pemilik pengilingan padi, meminta pada Ferry untuk membuka bagasi mobil. Dia ingin menyimpan tas jinjing tersebut di bagasi mobil saja.
"Buka bagasinya ya Ferr. Aku mau naruh ini," pinta pemilik pengilingan padi.
Ferry hanya mengangguk saja. Kemudian turun dan membuka bagasi mobil. Dia juga membantu meletakkan tas jinjing tersebut. Meskipun dia tidak tahu, apa isi dari tas yang sekarang ini berjejer di bagasi mobil.
Dia tidak mau mencampuri urusan orang lain. Karena dia hanya bertugas sebagai seorang supir saja.
"Kita cari makan dulu Ferr. Setelah itu baru kira pulang." Ajak pemilik pengilingan padi.
Sekali lagi, Ferry mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menghidupkan mesin mobil. Dia berusaha untuk bisa keluar dari tempat parkir yang sebenarnya bukanlah tempat parkir.
Tapi hanya menepikannya di trotoar jalan saja. Hal yang sebenarnya tidak diperbolehkan oleh pengguna jalan.
Dan sekarang, mobil sudah kembali ke jalan raya. Berjalan menuju ke rumah makan. Sesuai permintaan dari pemilik pengilingan padi.
*****
__ADS_1
Di rumah ibunya Linda.
Erli baru saja tidur, setelah lelah bermain dengan boneka. Bersama dengan beberapa anak kecil yang ada di sekitar rumah simbahnya.
"Pak. Danang ke kampus dulu. Titip Erli ya!" Danang berpesan kepada bapaknya, yang sedang duduk-duduk di depan televisi.
"Iya Nang. sebentar lagi ibumu juga pulang," ujar bapaknya.
"Oh iya Nang. Itu mbakmu jadi transfer uang yang Kamu butuhkan?" tanya bapaknya lagi, di saat ingat dengan uang iuran yang dibutuhkan oleh Danang.
"Sudah Pak. Langsung ke rek administrasi kampus. Ini Danang mau ke kampus juga untuk memberikan bukti pembayarannya. Soalnya, administrasi kampus baru buka sekitar jam sepuluh tadi."
"Lho, kok gak dari tadi perginya?" tanya bapaknya dengan heran.
"Iya gak apa-apa Pak. Sekalian ngerjain beberapa pekerjaan yang harus selesai juga," jawan Danang, memberikan penjelasan kepada bapaknya.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan. Jangan sia-siakan kesempatan dan perjuangan mbakmu. Dan itu, jika bapak tidak bisa mengembalikan uang tersebut, terus Kamu juga tidak bisa kembalikan juga. Sawah jadi milik mbak ya!"
"Ibaratnya, sawah itu di beli sama dia. Tapi, selama bapak dan ibu masih ada, sawah itu hasilnya untuk makan kita." ucap bapaknya, memberikan nasehat dan pesan kepada Danang.
"Ya Pak, gak apa-apa. Semoga saja, setelah lulus nanti, Danang dapat kerja yang lebih baik dan gajinya juga besar."
"Ya-ya. Hati-hati."
Setelah kepergian Danang, bapaknya menengok Erli yang masih tidur di kamar.
Setelah menutup pintu, dia kembali lagi ke tempat duduknya yang tadi. Yaitu di depan televisi.
Setelah beberapa menit kemudian, istrinya pulang dari sawah.
"Lho Pak, Danang ke mana?" tanya istrinya, yang begitu datang tidak lagi melihat keberadaan motor anaknya, Danang.
"Dia pergi ke kampus. Urus administrasi yang kemarin," jawab suaminya, dengan membantunya menyimpan alat-alat yang tadi di bawa ke sawah.
"Lho, memang Linda sudah kasih uangnya? kok cepat?" tanya istrinya lagi.
"Ya sudah. Di kirim langsung ke rekening bank milik administrasi kampus katanya." Suaminya itu, mencoba untuk menjelaskan, sama seperti yang tadi dikatakan oleh anaknya, Danang.
Mereka berdua sama-sama terdiam beberapa saat. Karena istrinya berjalan menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu
"Oh, terus bagaimana Pak?" tanya istrinya lagi, setelah selesai mencuci tangan dan kakinya di kamar mandi.
__ADS_1
"Bagaimana apanya Bu?" tanya suaminya bingung.
Karena pertanyaan yang diajukan oleh istrinya itu, tidak jelas sedang bertanya tentang hal apa.
"Sawahnya," sahut istrinya, yang secara tidak langsung ingin tahu, bagaimana status uang yang sudah diberikan oleh Linda pada Danang.
Karena uang dengan jumlah yang besar itu, tentu saja bukan hal yang mudah untuk mereka bisa mengembalikannya nanti.
Sekarang, suaminya baru mengerti. Apa yang ingin ditanyakan oleh istrinya itu.
"Ya sawahnya masih ada. Tapi, tadi Bapak bilang sama Danang. Jika kita tidak bisa mengembalikan uang tersebut pada Linda, atau dia juga tidak bisa mengembalikan uang itu. Ya sawahnya jadi milik Linda."
"Tapi selama kita masih ada, sawahnya tetap saja untuk kita. Sumber pangan kita sekeluarga."
Mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh suaminya, istrinya mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
Jadi, setidaknya dia masih bisa tenang. Karena untuk makan mereka sehari-hari, masih ada dari sawah tersebut. Dia tidak mungkin bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, untuk mengantikan uang yang sudah diberikan Linda pada Danang.
"Erli ke mana Pak?" tanya istrinya, setelah mereka berdua terdiam sejenak.
Sedari dia pulang dari sawah. Dia tidak melihat keberadaan cucunya, Erli. Dia tidak tahu jika, cucunya sedang tertidur di dalam kamar.
"Tidur di kamar."
Mendengar jawaban itu, istrinya berdiri dengan cepat. Dia ingin melihat keadaan cucunya.
Klek!
Pintu kamar terbuka. Dia melihat bagaimana cucunya yang sekarang ini masih dalam keadaan tertidur.
Beberapa saat kemudian, dia sudah kembali lagi ke tempat duduknya yang tadi. Di dekat suaminya duduk. "Untungnya ibu liat Pak. Hampir jatuh dia. udah sampai di pinggir tempat tidur," katanya melaporkan keadaan cucunya.
"Lho, tadi bapak sudah kasih guling di sekitarnya. Biar dia anteng gak ke mana-mana."
"Anteng bagaimana? Dia tidurnya itu kan kayak orang jumpalitan Pak."
"Hemmm... di rumahnya, bagaimana itu dia tidur? Dia kan tidur sendiri sekarang. Gak ikut mama dan papanya."
Ibunya Linda merasa khawatir, dengan keadaan cucunya itu. Karena menurut penuturan Linda, sekarang Erli sudah diajari untuk tidur sendiri di dalam kamarnya.
Jadi, Erli sudah tidak lagi tidur bersama dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1