Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Mari kita buktikan!


__ADS_3

Sebenarnya Felix sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Cahaya, kemudian mengatakan bahwa permasalahannya dengan Rena sudah selesai. Bahkan Devan dan Nayla meminta Cahaya yang menggantikan Rena. Sayangnya kini Cahaya sedang berada di luar kota, berdasarkan keterangan rumah sakit miliknya, tempat dimana Cahaya bekerja.


Pagi tadi Cahaya sudah berangkat menuju Bandung, untuk menghadiri seminar bersama beberapa Dokter lainnya.


Artinya Felix harus bersabar menunggu Cahaya kembali, untuk mengatakan sesuatu yang sangat indah.


Namun Felix kesal, berapa kali mencoba menghubungi Cahaya, tetapi tidak bisa.


Sampai akhirnya dirinya sudah di kejar waktu, segera Felix berangkat menuju Bandung melihat pembangunan Hotel yang sedang berlangsung.


Felix tidak ingin membuat Devan kecewa, sehingga segera meninjau lokasi.


Sesampainya di Bandung Felix kembali mencoba untuk menghubungi Cahaya. Tetapi sampai saat ini juga tidak bisa, akhirnya memutuskan menghubungi Riki untuk meminta bantuan melacak keberadaan pasti Cahaya.


Sayangnya Riki juga tidak bisa di hubungi sama sekali.


"Kemana manusia jelek ini," kata Felix penuh kekesalan.


"Bos, mau istirahat dulu atau langsung melihat keadaan proyek sekarang?" Tanya Dean, asisten Felix yang selalu setia.


"Kita ke lokasi sekarang."


Beberapa saat kemudian setelah kembali meninjau lokasi, Felix pun kembali ke Hotel untuk beristirahat.


"Bos mau langsung kembali ke Jakarta, atau?"


"Biarkan aku istirahat dulu."


Felix pun memasuki lift, menuju kamar yang sudah di pesan khusus untuknya.


Lagi pula kini dirinya juga sedang berada di Bandung, mungkin juga sebentar lagi Cahaya sudah bisa dihubungi dan bisa langsung bertemu. Kemudian kembali bersama ke Jakarta.


Ting!


Pintu lift terbuka, Felix segera keluar dari lift. Namun, tiba-tiba matanya melihat Cahaya yang keluar dari salah satu kamar Hotel.


Kedua tangan Riki memegang lengan bagian atas Cahaya.


Felix pun mengepalkan kedua tangannya, hingga bermunculan buku-buku jarinya.


Dengan langkah kaki yang lebar, Felix pun berjalan ke arah Cahaya dan Riki.


Tanpa bicara Felix menarik Riki dan menghajarnya hingga terkapar di lantai.


"Felix?" Cahaya terkejut melihat Felix yang menghajar Riki.


Begitupun dengan Riki, tentunya juga terkejut melihat keberadaan Felix yang berada di hadapannya.


Felix melupakan persahabatan mereka, seketika menarik kerah kemeja putih yang di kenakan oleh Riki. Kemudian kembali melayangkan bogem, hingga wajah Riki menjadi babak belur.

__ADS_1


"Felix, cukup!"


Hampir saja wajah Cahaya yang terkena pukulan dari Felix, beruntung bisa di tahan sehingga tidak terkena.


Tetapi Cahaya menutup matanya, dirinya juga takut jika tangan Felix mengenai wajahnya.


Tapi sedetik kemudian Cahaya pun membuka matanya, dan melihat Felix sudah menurunkan tangannya.


Cahaya masih berdiri di tengah, antara Felix dan Riki. Berusaha meredam ketegangan yang ada.


"Dasar wanita murahan! Aku pikir kau wanita baik-baik!" Kata Felix penuh kebencian.


Degh!


Hati Cahaya begitu sakit mendengar apa yang dikatakan oleh Felix.


"Murahan......." leher Cahaya terasa tercekat mendengar apa yang dikatakan oleh Felix.


"Banyak wanita di luar sana! Kenapa harus dia?" Kini Felix menatap Riki dengan tajam.


Persahabatan mereka hancur seketika itu juga, Felix benar-benar kecewa dengan apa yang dilihatnya.


"Felix, kita bisa bicarakan ini dengan kepala dingin. Dengarkan penjelasan ku," Riki berusaha untuk tetap tenang dan menjelaskan segalanya, banyak hal yang harus di dengarkan oleh Felix.


"Aku tidak perduli!"


"Felix, tolong tenang!" Cahaya mencoba memegang tangan Felix, tetapi di tepis begitu saja.


"Felix!" Teriak Cahaya.


Felix semakin terbakar amarah merasa Cahaya membela Riki, belum lagi apa yang dilihatnya begitu menyakitkan.


"Riki, pergi dari sini!" Cahaya mendorong Riki agar segera pergi dari hadapan mereka, sebab Felix yang sedang marah pasti tidak akan pernah bisa mendengar apapun penjelasan dari Riki.


"Tapi..."


"Aku mohon, jangan sampai ada yang melihat keributan ini," pinta Cahaya dengan memohon.


"Untuk apa kau memintanya pergi, biar aku saja yang pergi. Lanjutkan saja kesenangan kalian di kamar ini!" Felix pun tersenyum miring pada Cahaya.


"Maksud mu apa?" Cahaya mendongkak menatap Felix.


"Riki, biar kita saja yang pergi!" Mata Cahaya berkaca-kaca, kemudian ingin menarik Riki untuk ikut pergi bersamanya.


Sayangnya tubuhnya tertarik ke belakang seiring dengan tarikan tangan Felix yang begitu kuat.


"Felix sakit," Cahaya meringis menahan sakit, karena cengkraman tangan Felix yang begitu kuat.


"Ternyata kau hanya wanita murahan, bagaimana rasanya tidur dengan pria ini?" Tanya Felix pada Cahaya, namun tatapannya mengarah pada Riki.

__ADS_1


"Fel..."


"Pergi dari sini! Aku akan memberikan wanita ini pada mu. Setelah masalah kami selesai!" Papar Felix.


"Jangan sampai kau menyesal karena tidak mau mendengarkan penjelasan ku!" Riki pun memilih pergi, percuma saja berdebat dengan Felix yang sedang terbakar cemburu.


"Felix cukup, lepaskan aku!" Seru Cahaya meronta-ronta ingin tangannya di lepaskan.


"Apa kau puas setelah tidur dengan Riki? Dia itu Casanova kurang ajar, tentu permainannya hebat bukan?" Tanya Felix merendahkan Cahaya.


Air mata Cahaya pun menetes dari pelupuk mata indahnya, hatinya begitu sakit mendengar kalimat hinaan yang keluar dari bibir pria ABG yang sudah terlanjur dicintainya itu.


"Tidak usah menangis, simpan saja air mata mu itu!"


"Felix cukup! Aku tidak ingin mengenal mu lagi! Aku pun tidak mau menikah dengan mu seperti perjanjian awal kita!" Tegas Cahaya penuh kemarahan.


"Apa maksud mu? Atau kau sudah jatuh hati pada Riki?" Tebak Felix merasa di rendahkan.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Riki!"


"Pembohong!"


Cahaya tidak ingin melanjutkan perdebatan, sehingga lebih memilih untuk pergi. Tapi untuk kesekian kalinya lengannya terus dicengkeram oleh Felix.


"Kau sangat menghina aku!" Felix pun menarik Cahaya ke dalam kamar, kemudian menutup pintu dengan kakinya.


Cahaya meneguk saliva melihat wajah Felix yang dipenuhi dengan kemarahan, merasa belum pernah melihat wajah Felix yang seperti ini.


"Felix......" Cahaya semakin ketakutan melihat wajah Felix.


"Kenapa kau berkhianat! Padahal aku sangat mencintai mu?"


"Aku tidak berkhianat Felix!"


"Lalu kenapa kau berada di kamar hotel dengan Riki?"


"Aku tidak..." Cahaya terkejut saat Felix mendorongnya hingga terlentang di atas ranjang.


"Cukup! Sudah, aku ingin hubungan kita berakhir saja. Kau sangat kasar aku tidak mau lagi!" Seru Cahaya.


"Apa karena kau sudah nyaman dengan Riki?"


"Tidak ada hubungannya dengan Riki"


"Lalu apa?"


"Felix, apa yang mau kau lakukan?" Peluh Cahaya mulai bercucuran saat melihat Felix mulai naik ke atas ranjang.


"Tidak usah jual mahal, selama ini aku menahannya karena aku menghargai mu. Tapi, ternyata kau mau tidur dengan Riki, lalu kenapa menolak dengan ku?" Felix tersenyum meremehkan Cahaya.

__ADS_1


"Felix, dari mana kamu bisa berpikir begitu? Kamu tidak melakukan apapun!"


"Benarkah? Mari kita buktikan!"


__ADS_2