Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Perasaan Adnan!


__ADS_3

"Bagaimana bro?" tanya pria tersebut yang tidak lain adalah sahabat Felix sejak dulu.


Riki.


Riki tampak bahagia saat mengetahui Felix akhirnya bertunangan. Sebab selama ini tidak pernah menggandeng wanita mana pun. Sehingga saat dirinya mendapatkan kabar dari Nayla, segera pulang ke Jakarta untuk menyaksikan acara tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya tidak kalah penting, tidak apa lagi-lagi itu demi sahabat sejatinya Felix.


"Riki," sapa Nayla.


"Apa kabar, Tante? Untungnya Tante ngabarin aku. Karena pria tolol ini, tidak sama sekali," Riki menunjuk Felix, tetapi tatapan matanya pada Nayla. Menyapa Nayla dengan tidak kalah ramah.


"Benarkah? Wah, dasar anak ini nakal. Ayo minum dulu," Nayla menunjukan hidangan dan beberapa minuman yang di sajikan untuk para tamu undangan.


"Terima kasih, Tante cantik," kata Riki.


"Heh, dia Bunda ku!" Felix pun menyenggol Riki, sebab tahu seperti apa playboy nya Riki.


"Jangan macam- macam, suaminya Devan Bima Putra! Kamu bisa di penggal!" Felix memberikan peringatan kepada Riki, lagi pula dirinya tak suka saat Ibunya di goda.


Sangat tidak sopan bagi nya.


"Aku hanya bercanda, dalam hati pun tidak memakai hasrat!" Bisik Riki sambil menggerakkan sebelah alisnya.


"Bagus!"


Acara pertunangan pun segera berlangsung, Rena pun keluar dari kamar Vanya yang di gunakan sebagai kamar rias nya dengan kini memakai gaun indah yang membuat seseorang di sana memujinya terkecuali Felix sebab di matanya hanya Cahaya yang paling bersinar. Namun, karena kesalahpahaman malam itu semua memaksanya untuk berada di pertunangan ini.


Felix lebih memilih perlahan mencari bukti daripada berdebat dengan orang-orang lebih tua darinya. Sebab, dirinya tahu bahwa orang tua harus di hormati. Biarlah nantinya bukti yang berbicara.


"Sepertinya kau sangat tertarik pada ku," kata Felix dengan suara pelan pada Rena.


Rena pun tersenyum seakan apa yang dikatakan oleh Felix benar adanya.


"Agar ada yang menyelesaikan skripsi ku, kita satu jurusan bukan?" Rena tersenyum bahagia mengejek Felix.


Felix memilih untuk melihat Cahaya yang kini sedang berbicara dengan Riki.


Apa maksud pria menyebalkan itu, bukankah tahu jika itu adalah wanita yang di cintainya.


Riki tahu tentang itu semua tetapi malah mendekati Cahaya.

__ADS_1


"Kepada para tamu undangan, saya ucapkan terima kasih atas kehadiran kalian di acara pertunangan anak kami," kata Nayla sambil tersenyum bahagia. Sebagai ucapan pembukaan acara.


Akhirnya acara tukar cincin pun di langsungkan, kini Felix dan Rena sudah resmi bertunangan. Dan satu minggu kedepan nya pernikahan akan di langsungkan. Sungguh menjengkelkan menurut Felix, tetapi Rena tersenyum melihat wajah kesal Felix.


"Lihatlah sekarang, wanita yang kau anggap murahan adalah calon istri mu," kata Rena dengan senyuman manis, dirinya menertawakan Felix yang terus menatapnya tajam.


Felix pun memilih pergi, dari acara tersebut. Walaupun masih banyak tamu.


"Selamat," Adnan pun menghampiri kemudian mengulurkan tangannya memberikan ucapan bahagia untuk Rena.


Rena tersenyum dan membalas uluran tangan Adnan.


"Terima kasih," Rena tampak begitu bahagia karena melihat wajah Felix yang penuh kekesalan setelah mereka benar-benar bertunangan.


"Minum," Adnan pun memberikan segelas minuman.


"Terima kasih," dengan senang hati Rena menerimanya bersulang merayakan malam ini. Mungkin orang-orang berpikir Rena bahagia karena pesta pertunangan nya yang berjalan baik. Tapi sesungguhnya tanpa ada yang tahu, kalau dirinya merayakan kemenangan untuk dirinya sendiri. Peduli setan dengan esok hari, yang jelas hari ini dirinya begitu bahagia.


"Kamu sepertinya bahagia sekali, ya?" Tanya Adnan dengan senyuman di buat semanis mungkin. Padahal hati pria itu cukup rapuh, sebab dirinya sudah jatuh hati pada wanita yang kini notabenenya adalah calon Kakak iparnya tersebut.


Adnan, jatuh hati sejak beberapa bulan lalu. Tepatnya saat itu tanpa sengaja melihat Rena tengah berenang mengenakan bikini di kolam renang. Sejak saat itu memutuskan untuk bertanggung jawab, karena matanya melihat apa yang tidak seharusnya di lihat. Tapi sejujurnya, semenjak saat itu Adnan berjanji akan mendapatkan Rena.


"Minum," Adnan tersenyum tanpa ingin membahas apa yang ada di hatinya. Katanya cinta itu tidak harus memiliki, itulah yang kini di pikirkan olehnya. Adnan harus belajar untuk merelakan demi kebahagiaan Rena.


Rena sendiri yang mengakui mencintai Felix semua yang menyangkut kebahagiaan Rena akan dituruti nya. Meskipun harus merelakan menjadi istri Kakaknya sendiri, mungkin ke depannya akan lebih sering bertemu. Sayangnya sudah tidak ada kesempatan untuk memilikinya.


Adnan akan berusaha melepaskan perasaan yang ada, sekalipun bingung bagaimana caranya.


"Adnan, apa kabar? Kamu semakin tampan saja. Kabarnya, sekarang sudah memimpin perusahaan cabang, ya? Jadi dosen juga ya?" Sapa Jessica.


"Iya Tan, Adnan ini Dosennya Rena," Rena pun ikut menimpalinya.


"Wah, benarkah," Jessica begitu kagum dengan prestasi yang di milik oleh Adnan, anak-anak Nayla memang sangat membanggakan.


'Andai kau tahu tujuan ku menjadi dosen adalah kamu,' batin Adnan sambil mencuri pandang menatap Rena.


"Terima kasih Tante," Adnan pun tersenyum bahagia, seakan tidak ada kesedihan di hatinya sedikitpun.


"Bagaimana kalau kamu jadi mantu Tante saja?" Tanya Jessica dengan senyuman.

__ADS_1


"Tante, bisa saja," Adnan tersenyum kecil, sebab usia Cahaya jauh lebih tua daripada dirinya.


Perbedaan usia satu tahun walaupun tidak terlalu jauh. Tapi memang tidak tertarik, tentu banyak alasannya bukan?


Begitulah posisi Adnan saat ini.


"Oh, kamu menganggap ku tua?" Cahaya yang tidak jauh berdiri dari Adnan pun mendengarnya.


Akhirnya Adnan, Jessica dan juga Rena pun tertawa melihat wajah kesal Cahaya.


"Aku ini cantik, seksi dan juga idaman para lelaki," Cahaya pun tersenyum membanggakan dirinya. Tapi percayalah itu hanya gurauan semata, pada dasarnya Cahaya adalah wanita pemalu. Itu jarang terjadi dan hanya di sekitar orang-orang yang sudah dikenalnya sejak kecil.


"Maaf, tapi kau memang sudah tua," seloroh Adnan.


Bibirnya tersenyum namun hatinya terluka.


Di malam yang penuh kebahagiaan ini, Adnan menyembunyikan luka dengan senyuman.


"Bagaimana kalau kita berdansa," kata Adnan sambil mengulurkan tangannya pada Cahaya.


"Boleh ya Tante?" Adnan menatap Jessica untuk meminta izin.


"Tentu," Jessica sangat suka kesopanan yang di miliki Adnan maupun Felix, keduanya benar-benar memiliki kesopanan yang begitu tinggi.


Cahaya pun menerima uluran tangan Adnan, hingga akhirnya alunan musik pun terdengar. Semua tamu undangan pun ikut berdansa dengan pasangan mereka masing-masing.


Riki pun segera menemui Felix yang memilih menyendiri di kamarnya, kemudian mengatakan jika Cahaya tengah berbahagia di bawah sana.


"Wanita yang kau kagumi itu, ya memang dia sangat cantik sekali. Dan, aku tidak mendekatinya karena kau. Tapi sepertinya sekarang ini sudah boleh, lagi pula wanita yang bernama Cahaya itu sedang berdansa," Riki tersenyum melihat wajah Felix yang mendadak semakin menegang.


Dengan segera Felix kembali menuju pesta, memakai jas nya yang semula sudah terlepas.


Riki pun tersenyum melihatnya.


"Kejar cinta sejati mu kawan, jangan hanya diam seakan dalam diam menunggu takdir yang menyatukan," Riki tahu seberapa besar perasaan Felix pada wanita bernama Cahaya. Sebab, setiap harinya bibir Felix terus saja bercerita tentang Cahaya tanpa hentinya.


Riki memang penjahat wanita, tapi tulus dalam persahabatannya bersama dengan Felix.


Saat ini pun Riki ingin Felix mendapatkan cinta sejatinya, bukan hanya diam dalam luka.

__ADS_1


__ADS_2