Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Berbeda dengan pasangan satunya!


__ADS_3

Lantas bagaimana dengan pasangan pengantin baru satunya lagi?


Rena dan Adnan tampak canggung, tak ada yang terjadi sama sekali. Seharusnya malam pengantin adalah malam penuh kehangatan, kemesraan dan peluh yang bercucuran karena penyatuan cinta yang panas dan membara.


"Adnan, kenapa di luar?" Nayla tanpa sengaja melihat Adnan duduk di sofa tepat di depan pintu kamar, sedangkan pintu kamar terbuka lebar.


Tampak Rena di dalam sana yang tengah duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Membuat Nayla semakin kebingungan pada pengantin baru tersebut.


"Aku sedang mencari udara segar, Bun," jawab Adnan dengan asal.


Asal jawab saja seperti saat ini, dari pada diam tanpa jawaban yang nantinya semakin membuat Nayla bertanya banyak hal.


"Apa kamu tidak salah?" Nayla tampak bingung dengan jawaban putranya tersebut.


"Sejak kapan mencari udara segar di sini? Bukannya di luar seharusnya?" Nayla terus menatap putra keduanya itu penuh tanya.


Adnan membenarkan apa yang di katakan oleh Bundanya itu, tetapi bagaimana cara mengatakan kebenarannya. Adnan tak mungkin mengatakan kecanggungan yang terjadi saat dirinya bersama dengan Rena di satu ruangan yang tertutup. Mengingat selama ini mereka adalah sahabat, banyak suka maupun duka yang mereka lewati bersama. Awalnya Adnan mengira semuanya akan semudah itu, tetapi ternyata tidak. Setelah bersama pun masih saja terjadi kecanggungan, sedangkan berjauhan sangat merindukan.


Sungguh perasaan yang serba salah.


Nayla pun memilih menghampiri Rena yang masih berada di dalam kamar.


"Rena," Nayla duduk di samping Rena, merangkul pundak menantunya tersebut dengan penuh kehangatan.


Rena pun segera meletakkan ponsel di tangannya, walaupun dari tadi tak tahu melihat apa di sana. Dia hanya menggerakkan tangannya, matanya menatap layar ponselnya tetapi pikirannya entah di mana.


"Bunda, belum tidur?" Rena melihat jam dingin yang sudah menunjukkan pukul 00:00 tetapi masih menghampirinya ke kamar.


"Bunda baru selesai mandi, kalau kamu kenapa belum tidur?" Tanya Nayla kembali.


Tak tahu harus mengatakan seperti apa, tetapi Rena pun hanya menjawab dengan senyum kecut.


Apakah Nayla tahu jantungnya saat ini seperti apa?


Berdetak kencang, karena gugup saat berhadapan dengan Adnan yang kini adalah suaminya.


"Baiklah kalau begitu, Bunda sudah sangat mengantuk. Kamu juga tidur ya," Nayla pun keluar dari kamar tersebut, kembali berjalan ke arah Adnan.


"Adnan, masuk ke dalam kamar dan tidur!" Titah Nayla.

__ADS_1


Adnan pun menatap ke dalam, tampak Rena yang sedang menarik selimut kemudian merebahkan tubuhnya.


"Kenapa hanya diam?" Nayla semakin tidak mengerti dengan anaknya yang satu ini.


Berbeda sekali dengan anak sulungnya yang ingin selalu mengurung diri dengan istrinya, walaupun begitu Nayla tak pernah membeda-bedakan anak-anaknya.


Hanya saja sifat keduanya saling bertolak belakang.


"Iya," Adnan pun bangkit dari duduknya, kemudian masuk ke dalam kamar.


Sebelum benar-benar pergi Nayla pun menarik daun pintu agar tertutup rapat, ingin memastikan bahwa putranya benar-benar sudah masuk. Sebab, Nayla tak ingin Rena merasa terhina sebab Adnan yang terus berada di luar kamar. Tanpa Nayla tahu bahwa Rena pun sedang begitu tegang. Rena menutup mata dengan rapat merasakan ranjang yang bergerak. Menandakan Adnan mulai menaiki ranjang, kemudian ikut berbaring di sampingnya.


Rena yang memunggungi Adnan terus saja menggigit kuku-kukunya, bahkan rasa kantuk pun tampak tak juga menghampirinya. Adnan yang menjadikan kedua tangannya sebagai bantal pun terus saja melihat ke langit-langit kamar. Mencoba untuk memejamkan matanya tetapi begitu sulitnya, hingga akhirnya melirik Rena yang memunggunginya. Tangannya ingin bergerak untuk memeluk wanita yang kini sudah menjadi istrinya tersebut, tetapi keberanian tak ada.


Aneh bukan?


Sungguh menikahi sahabat sendiri tidak semudah yang dibayangkan selama ini.


Ting!


Ponsel Rena pun bersuara, notifikasi sebuah pesan singkat masuk.


Rena pun segera mengambil benda tersebut dari meja nakas dan membaca isi pesannya.


Wajah Rena pun memerah saat itu juga, sesaat kemudian belum sampai membalas pesan dari Vanya, Rena pun melihat group yang begitu ramai.


Dengan penasaran Rena pun membukanya.


( Mana ya, manten baru ) Iska.


( Masa nggak ngerti ) Ririn.


( Lagi hangat-hangatnya sama Pak Adnan ) Vanya.


"Kurang ajar," Rena pun mendesus saat membaca pesan yang di kirimkan Vanya.


Di kampus memang tak ada yang tahu jika Vanya adalah adik dari Adnan, sebab sejak kecil Devan dan Nayla selalu menyembunyikan identitas anak-anaknya.


Sebab tak ingin orang diluar sana hanya memanfaatkan anaknya yang terlahir dari keluarga berada.

__ADS_1


Apa lagi Vanya adalah anak perempuan satu-satunya, membuat Devan benar-benar takut anaknya itu jatuh di tangan pria yang salah.


"Kamu belum tidur?" Tanya Adnan saat mendengar suara Rena.


Rena pun memejamkan matanya, mengapa lupa jika ada Adnan juga yang kini berbaring di sampingnya.


Sesaat kemudian Rena pun kembali memejamkan matanya, agar tak ada yang lebih dan lebih menegang dari ini.


"Baiklah, selamat tidur," Adnan tak ingin keduanya berada dalam ketegangan, hingga dirinya juga memilih untuk tidur.


Rena pun mencoba untuk berbalik, dan mengintip Adnan yang kini sedang menutup matanya.


Merasa sudah bisa bernapas dengan baik, setelah dari tadi begitu menegang.


Sesaat kemudian napas Rena pun mulai beraturan, tidur dengan lelapnya karena terlalu lelah.


Bukan lelah fisik melainkan lelah pikiran yang terkuras habis karena sudah menyandang status sebagai istri seorang Adnan.


Mendadak menjadi istri sungguh rasanya begitu luar biasa.


Begitu berbeda saat mereka hanya bersahabat seperti selama ini dan juga saat Adnan adalah dosennya.


Apa lagi pernikahan mereka tidak di rencanakan sama sekali.


Semua berjalan begitu saja tanpa ada persiapan, baik hati mau pun mental.


Apa lagi untuk kata pendekatan sebagai calon pasangan suami istri.


Semua itu tak ada sama sekali.


Adnan pun membuka matanya, dirinya hanya berpura-pura tidur dari tadi.


Walaupun sebenarnya ingin sekali terlelap, tetapi entah mengapa begitu sulit untuk memejamkan mata.


Akhirnya Adnan hanya menatap wajah Rena, mata tertutup rapat dengan dengkuran kecil yang terdengar.


Sesaat kemudian ada air liur yang keluar, membuat Adnan menahan tawa melihat wanita itu.


Tak disangka sama sekali ternyata wanita secantik Rena bisa sejorok itu saat sedang tidur.

__ADS_1


Tetapi Adnan tetap saja mencintai Rena, tanpa berkurang sedikitpun.


Malahan merasa gemas.


__ADS_2