
Vanya pun sampai di rumah dengan menumpangi taksi, kemudian memasuki rumah dan langsung menuju kamar.
"Vanya, kamu dari mana aja? Aku khawatir tau untung aja tadi malam Ibu percaya kalau kamu udah tidur aku bilang padahal aku bohong loh, untung juga ibu kecapean banget makanya nggak meriksa kamar dan nggak liat kamu nggak ada di kamar! Sampai Ibu nggak liat kamu di kamar, terus abis aku sama Ibu!" langsung saja Ninda menyambut kepulangan Vanya dengan berbagai macam ocehan dan juga kekhawatiran.
Bayangkan saja semalaman Vanya tidak pulang, sedangkan dirinya bertanggung jawab atas keselamatan Vanya.
"Berarti Ibu nggak tahu aku nggak pulang semalam?"
"Nggak, pagi tadi juga Ibu langsung ke rumah kamu."
Vanya pun bernapas lega setelah mendengarkan penjelasan dari Ninda.
Namun Ninda yang masih begitu penasaran dengan Vanya. Tidak pulang ke rumah semalam entah kemana perginya.
"Kamu ke mana semalam nggak pulang nginep di mana?" Tanya Ninda lagi, jika saja tidak di jawab dirinya bisa mati berdiri.
Ada-ada saja wanita itu bisa membuat Ninda kehilangan kepalanya karena di penggal oleh Ina jika saja terjadi hal buruk pada Vanya.
Tidakkah Vanya memikirkan dirinya?
Vanya pun menceritakan tentang dirinya dan dimana dirinya menginap malam tadi.
Ninda sampai shock mendengar cerita Vanya, bahkan pikirannya kini mendadak kotor.
Mendadak memperhatikan penampilan Vanya dari ujung rambut sampai ujung kaki hingga berulang kali.
"Aku sama dia nggak ngapa-ngapain Ninda, aku masih perawan," kata Vanya dengan yakin.
Ninda tidak yakin sama sekali, sehingga dirinya masih menatap Vanya tanpa jeda. Pikirkan buruknya jangan lagi dipertanyakan, sebab memang adanya benar
"Kamu yakin? Kamu sudah tidur dengan laki-laki, mana Om-om," Ninda pun merasa horor, rasanya seperti tidak percaya dengan pengakuan Vanya yang tidak melakukan apapun.
"Aku serius!" Ingin sekali Vanya meremas wajah Ninda karena tidak percaya dengan apa yang diceritakan olehnya.
"Nggak! Aku nggak percaya!" Dengan tegas Ninda mengatakan menolak untuk percaya pada apa yang dikatakan oleh Vanya.
Sedangkan Vanya semakin kebingungan bagaimana cara membuat agar Ninda mengerti bahwa dirinya sedang berkata jujur tanpa ada kebohongan sama sekali.
Lagi pula sejak kapan Vanya pandai dalam berbohong?
Tidak!
Vanya tidak pandai dalam berbohong, apa lagi menyangkut sesuatu yang serius.
"Aku ketiduran, benar-benar nggak ada yang terjadi. Aku jadi ingin ke Dokter membuktikannya agar kau percaya!"
"Ke Dokter?"
"Iya, ke Dokter biar aku diperiksa masih ORI atau udah jebol!"
Mendengar penjelasan Vanya kini Ninda pun malah yakin jika benar tidak ada yang terjadi pada Vanya.
__ADS_1
Sesaat kemudian Ninda pun meminta Vanya untuk membuka pakaiannya, sekedar ingin bukti saja bahwa tak ada bekas apapun yang tertinggal.
Sedangkan Vanya tidak menolak sama sekali, seketika itu melepaskan pakaiannya agar Ninda melihat dengan jelas.
Tidak ada gigitan ataupun tanda lainnya seperti apa yang di lihatnya di dalam Internet setelah terjadi percintaan.
"Ya sih, kamu kayaknya emang nggak di apa-apain juga."
"Aku yakin dua ribu persen, aku tidak melakukan apapun."
"Jangan ulangi lagi ya."
"Iya, aku mandi dulu."
"Untung, masih ORI kalau udah jebol rugi. Mana sama Om-om," seloroh Ninda.
"Amit-amit jabang bayi!" Vanya pun tidak mau yang menyentuhnya adalah Riki, duda lapuk tua itu sama sekali tidak menjadi idamannya. Karena lelaki idamannya adalah Sandi yang masih seusianya.
Tidak ingin lebih lama dalam kepusingan, Vanya pun memandikan tubuhnya tidak ada yang berbeda dari tubuhnya hingga tidak khawatir sama sekali. Akhirnya Vanya pun selesai mandi, kemudian berjemur di teras.
Sesaat kemudian Sandi pun datang dengan membawakan setangkai bunga mawar merah.
Dengan malu-malu Vanya pun menerimanya, ini sungguh luar biasa.
"Vanya, jadilah kekasih ku," Sandi berlutut kemudian memberikan bunga pada Vanya.
Vanya tidak percaya mendengar apa yang di katakan oleh Sandi, namun itulah yang sebenarnya di harapkan dan kini semua tercapai.
"Kita pacaran?" Tanya Sandi ingin lebih yakin jika Vanya setuju menjadi kekasihnya.
"Hu'um," Vanya pun mengangguk dengan perasaan yang berbunga-bunga.
"Akhirnya," Sandi benar-benar bernapas lega karena resmi sudah Vanya menjadi kekasihnya.
Keduanya tampak malu-malu, karena kini sudah memiliki hubungan yang jauh lebih jelas.
"Ehem!" Dari kejauhan tampak terlihat seorang pria, menatap sepasang anak manusia yang sedang terbuai akan apa itu cinta.
Rasanya Riki ingin muntah melihatnya, apa lagi saat ini Vanya adalah kekasihnya.
Meskipun kekasih yang terpaksa karena Riki yang memaksa Vanya dengan mengeluarkan ancaman.
"Apaan sih, duda lapuk ini sekarang mendadak jadi jailangkung ya. Datang nggak di jemput pulang juga bodo amat," gumam Vanya penuh kekesalan.
Entah mengapa Riki selalu datang di saat tidak tepat waktu, lagi pula kenapa mendadak Riki sering mengunjunginya, menjemput dan mengantarkan pulang.
Bukankah Vanya hanya menebus kesalahannya dengan bekerja sebagai teman Sela yang tak lain adalah Mama dari Riki sampai waktu yang sudah ditentukan.
Lantas mengapa sampai di sini semuanya seakan berbeda karena kelakuan Riki lebih terlihat seperti seorang yang begitu berhak atas Vanya.
"Om, pergi sana dong! Ganggu aja!" Kesal Vanya dengan wajahnya yang begitu masam.
__ADS_1
"Kamu lupa kita ini sudah pacaran? Kamu berselingkuh?" Tanya Riki.
"Kalian pacaran?" Tanya Sandi shock.
"Kemarin juga kami tidur bersama," Riki menunjukan sebuah foto.
Malam tadi Riki memindahkan Vanya dari ruang televisi ke kamar.
Tetapi dirinya malah merasa lucu saat melihat wajah Vanya yang sedang terlelap, akhirnya Riki pun mengambil ponselnya dimana dirinya dengan sengaja mengambil gambar tersebut untuk sekedar koleksi saja, namun siapa sangka malah berguna untuk mengancam Vanya kapan saja dia mau. Terutama di waktu seperti ini.
Lihat saja Riki begitu bahagia karena berhasil membuat Vanya shock, begitu juga dengan lelaki yang menjadi kekasih Vanya.
"Vanya? Kamu?" Sandi menatap Vanya penuh kekecewaan, bagaimana bisa wanita tersebut membuatnya begitu terluka.
"San, dengerin aku dulu," Vanya pun berusaha untuk menjelaskan sesuatu, tetapi sepertinya sulit sekali. Karena apa yang di perlihatkan oleh Riki sudah jauh membuat amarah Sandi meluap.
Riki pun duduk di kursi yang ada di teras, menyaksikan sepasang kekasih yang sedang bersitegang. Mungkin dalam hitungan detik akan ada kalimat putus yang terucap.
"Kamu tega, mana selera kamu Om-om. Ataupun kamu selama ini jadi simpanan Om-om?" Tanya Sandi meremehkan Vanya.
"San? Kamu kok ngomong gitu sih?" Vanya masih saja berusaha untuk menyakinkan Sandi tapi apa daya semua sia-sia.
"Udah, kita putus!" Tandas Sandi.
"Apa?" Vanya benar-benar shock mendengarnya, baru saja punya pacar malah sudah jomblo lagi.
Belum juga ayang-ayangan semanis madu seperti orang lain.
Sandi pun berlalu pergi meninggalkan Vanya yang terus saja memanggil namanya.
Vanya menghentakkan kedua kalinya, kemudian melihat Riki yang tersenyum mengejek dirinya.
Segera Vanya pun mendekati Riki, baginya duda lapuk tersebut harus diberikan sedikit pelajaran agar tidak mengulangi lagi.
"Ini gara-gara, Om!" Seru Vanya bahkan tangannya mengepal di depan wajah Riki.
Riki yang duduk di kursi menjauhkan wajahnya, sebab tak ingin terkena amukan Vanya yang menjelma bagai serigala yang siap menerkam mangsanya.
"Sejak aku ketemu sama Om, aku sial terus! Dasar duda lapuk kurang ajar!" Vanya terus saja meluapkan kekesalannya terhadap Riki, ingin menangis dan menjerit karena Sandi memutuskan setelah beberapa menit saja setelah jadian.
Sungguh mengenaskan.
Sedangkan Riki benar-benar hanya diam saja, tersenyum melihat anak bau kencur yang sedang di mabuk asmara.
Padahal cinta tidak selamanya membawa kebahagiaan pada kenyataannya cinta adalah hal yang begitu menyakitkan.
Tapi biarkan saja, biar saja Vanya marah besar padanya.
Lagi pula saat marah begini malah jauh terlihat menggemaskan, apa lagi saat tersenyum.
"Om! Dengerin aku nggak sih? aku lagi ngomong ini?" Vanya kesal merasa Riki tidak perduli padanya hanya menatap dengan pikiran-pikiran yang tidak di ketahui oleh Vanya sama sekali.
__ADS_1