Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Adnan dan Felix harus melihat ini,,


__ADS_3

Rima pun sudah di bawa pulang ke rumah, bersama dengan dua anaknya yang sangat tampan dan begitu menggemaskan. Suasana rumah pun menjadi ramai, sebab mereka semua tinggal satu rumah untuk sementara waktu ini. Tapi setelah dua bulan usia babi twins D mereka akan berpindah ke rumah baru yang sudah selesai proses renovasi.


Nama anak Rima dan Aditya adalah Derren dan Dean.


"Hay, anak Papi," Aditya pun menggendong anak sulungnya dengan rasa bahagia, tidak menyangka kini sudah menjadi orang tua untuk dua anak sekaligus.


"Hai anak Ibu," Rima pun menggendong bayi bungsunya dan menciumnya dengan gemas.


Aditya memang di panggil Papi sedangkan Rima tidak mau. Karena merasa dirinya lebih cocok dipanggil Ibu seperti dirinya memanggil Ibunya. Aditya tidak mempermasalahkan sama sekali, karena semua terserah kepada istrinya.


"Dia lucu sekali," kata Aditya dengan penuh kasih sayang.


"Tapi wajah mereka lebih mirip ke kamu," Aditya sedikitpun kecewa akan hal tersebut.


"Sama Mas juga mirip kok," Rima tahu suaminya sedih, tapi dirinya merasa anaknya perpaduan antara mereka berdua. Sehingga Aditya pun ikut mendapatkan bagian dari wajah-wajah anaknya.


"Sedikit, kesal banget deh, padahal kan Mas yang nanam benihnya," Aditya memasang wajah melas.


"Mas, ish kok ngomongnya sekarang ngelantur banget!" Rima pun tidak mengerti mengapa suaminya sekarang sedikit berbeda, bahkan tidur saja tidak mau satu ranjang dengan dirinya.


"Ya udah, Mas tidur dulu," Aditya pun meletakkan baby D dan memilih keluar dari kamar, dirinya akan tidur di luar.


Rima meletakan baby Dean pada box bayi juga, kemudian Rima pun menyusul Aditya.


"Mas kok tidur di luar terus, kemarin juga gitu?"


"Mas di sini aja," Aditya pun merebahkan tubuhnya, berbaring bisa membuat tubuh lebih baik.


"Loh, kalian belum tidur?" Tanya Nayla yang tidak sengaja lewat di depan kamar Rima dan Aditya.


"Iya, tapi Mas malah milih tidur di sini," kata Rima.


Nayla pun melihat Aditya, begitu juga dengan Devan yang berdiri di belakang tubuh istrinya.


"Apa lihat-lihat?" Tanya Aditya kesal pada Devan yang tampak mengejek dirinya.


Devan pun tersenyum mengejek Aditya, kemudian kedua tangannya memeluk Nayla dari belakang.


"Aku mau buka puasa dulu ya, dan kamu selamat menunaikan ibadah puasa," ejek Devan sambil menggerakkan kedua alis matanya.

__ADS_1


Nayla pun meneguk saliva mendengar perkataan Devan. Dirinya baru tahu ternyata Devan dan Aditya biasa juga bertingkah laku aneh. Tapi tunggu dulu, barusan suaminya mengatakan berbuka? Nayla merasa masih butuh waktu satu Minggu lagi untuk itu.


Ah Nayla tahu.


Artinya Devan sedang berbohong untuk memanasi Aditya.


"Mas, mana ada..." Devan pun menutup mulut Nayla, mengetahui istrinya akan membocorkan rahasia tersebut.


"Aku ke kamar dulu ya, ini akan menjadi malam indah lagi, sepertinya malam pengantin akan terulang lagi," Devan tersenyum puas melihat wajah Aditya semakin kesal.


Aditya membuang pandangannya ke arah lain, tidak ingin melihat Devan yang memamerkan kebahagiaan nya malam ini.


"Sebaiknya masuk kamar, karena kamar mu itu kedap suara. Nanti kalau di sini, ada suara-suara aneh itu," kata Devan lagi.


Aditya pun segera bangkit dari duduknya, kemudian melemparkan bantal sofa pada Devan. Devan mengelak dengan sempurna, hingga tidak mengenai wajah nya.


"Lebih baik kau masuk ke kamar! Dari pada aku pisahkan kepala dan badan mu itu!" Kata Aditya penuh kemarahan.


"Iya memang, kami juga sudah tidak sabar. Untuk apa berlama-lama di sini! Hanya menghabiskan waktu saja!" Devan pun tersenyum puas melihat wajah Aditya yang semakin menahan amarah.


Kapan lagi bisa melihat Aditya menderita, dan inilah saat-saat yang sangat tepat.


"Iya," Devan mengangguk dan mencolek dagu Nayla.


"Sayang, ayo buat adik untuk Vanya," ujar Devan kemudian mengangkat Nayla dan membawanya ke dalam kamar.


Aditya pun meninju udara, jika saja bisa maka wajah Devan jauh lebih menarik untuk di hajarnya.


Sayangnya Devan sudah pergi dan dirinya sendiri merana, padahal dirinya ingin di manja juga oleh istri tercinta nya.


Rima sampai bergidik mengeri melihat exspresi wajah Aditya, dirinya pun hanya terdiam tanpa kata.


"Mas, tidur di sini saja, kamu juga kenapa harus pakai baju seksi begitu!" Aditya juga ikut kesal pada Rima.


Rima pun memandangi dirinya, merasa daster yang di kenakannya tidak seksi seperti yang di katakan oleh Aditya.


"Seksi dari mana? Lengan nya juga sampai siku begini?" Tanya Rima bingung.


"Itu kamu jelas terlihat begitu!" Aditya pun menatap kaki mulus istrinya yang bisa membuatnya panas dingin begitu mudah.

__ADS_1


Rima pun melihat ke bawah, memperhatikan kakinya. Merasa daster sampai di bawah lutut jadi tidak ada yang seksi, karena biasanya setiap malam Aditya mewajibkan nya memakai lingerie.


"Nggak kok, nggak seksi sama sekali," kata Rima lagi.


"Ck!" Aditya pun menggaruk kepalanya sambil menahan kekesalan nya. Tidak lama berselang terdengar suara tangisan baby D.


"Anak kita nangis, aku lihat dulu ya Mas. Mungkin mereka haus," Rima pun bergegas masuk kembali untuk melihat kedua anaknya.


"Apa aku juga harus jadi baby, kemudian menangis baru dia tahu jika aku juga sedang haus," gerutu Aditya sambil melihat pintu kamar yang terbuka dengan lebarnya, kemudian Aditya melemparkan bantal sofa pada pintu.


Baru beberapa malam saja sudah membuatnya hampir gila, sesaat Kemudian Devan kembali muncul.


"Aku mau ke dapur dulu, ambil minum. Biar pas istri ku haus ada mineral nya. Soalnya, sampai pagi tanpa jeda," kata Devan dengan bangga nya.


"Dasar gila!" Aditya pun melempar bantal sofa pada Devan.


Devan menunduk dan tiba-tiba saja Arini muncul langsung saja bantal sofa mengenai wajahnya. Arini merasa sakit, seketika kemarahan meluap matanya begitu tajam menatap Devan. Sedangkan Devan menunjuk Aditya yang berdiri beberapa meter darinya. Arini pun kini menatap Aditya dengan tajamnya.


Glek!


Aditya meneguk saliva, sepertinya dirinya akan segera mendapat hukuman. Benar saja, beberapa saat kemudian Aditya berdiri dengan sebelah kaki, dan menarik kedua telinganya sampai tiga puluh menit ke depan. Persis seperti seorang murid yang di hukum karena tidak menyelesaikan pekerjaan rumah. Sedangkan Devan begitu bahagia melihat penderitaan Aditya.


"Double hukuman," ejek Devan.


"Kamu juga sama saja, karena kalian berdua Mama jadi kena bantal itu. Cepat berdiri di samping Aditya dan lakukan hal yang sama!" Titah Arini tidak kalah kesal.


Glek!


Devan pun terkejut mendengar Arini yang memintanya juga untuk melakukan hal yang sama.


"Cepat!"


Dengan terpaksa Devan pun mengangkat sebelah kakinya dan menarik kedua telinganya. Dalam hati berdoa semoga anak-anaknya tidak melihat, demi harga diri yang harus di pertahankan.


"Mmmmfffffpp," Aditya menahan tawa melihat raut wajah kesal Devan. Seakan dirinya menderita tidak sendirian, mengejek Devan adalah salah satu kebahagiaan.


"Adnan dan Felix harus melihat ini," kata Aditya.


"Ck!" Devan pun berdecak kesal sambil berdoa semoga doa Aditya tidak terkabulkan.

__ADS_1


__ADS_2