
Devan pun sampai di apartemen milik Felix, matanya melihat Felix yang duduk di sofa sambil menyeruput secangkir kopi.
Seketika Devan mengedarkan pandangan nya, seakan mencari sesuatu. Tetapi, tidak ada yang janggal, semua terlihat biasa saja.
"Bagaimana pekerjaan mu di kantor?" Tanya Devan.
"Baik," jawaban Felix singkat dan jelas wajahnya pun tampak biasa.
Devan terus menatap wajah putranya merasa tidak ada yang mencurigakan Devan pun memilih pergi. Menyimpulkan bahwa, tidak benar Felix menemui Cahaya di rumah sakit. Meskipun demikian, Devan tetap waspada dan tidak ingin kejadian itu terulang kembali.
Sesampainya di rumah Devan melihat Vanya.
Pakaian mini dan ketat melekat di tubuhnya, membuat Devan menghentikan langkah kaki putrinya tersebut.
"Ayah udah pulang," Nayla tersenyum menyambut suaminya.
Devan pun membalas senyuman dan mencium kening Nayla, kemudian kembali menatap wajah Vanya.
"Duduk!" Devan menunjuk sofa pada ruang tamu, meminta putrinya untuk segera melakukan perintahnya. Vanya mendesus kesal, dirinya sudah terlambat untuk bertemu dengan teman temannya di Mall.
"Ayah," Vanya mencoba untuk membuat Devan luluh dan mengijinkan nya segera pergi, tetapi raut wajah Devan yang memancarkan kemarahan membuat nyalinya menciut.
Devan pun duduk dengan Nayla di sampingnya, sedangkan Vanya duduk di sofa lainnya, saling berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Devan kembali menatap penampilan putrinya, dari bawah sampai ke atas.
"Ayah, cepat! Mau ngomong apa? aku udah telat!"
Devan pun melihat pintu yang terbuka.
"Pergilah," kata Devan.
"Dari tadi kek," gerutu Vanya sambil bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju pintu utama.
"Jangan kembali lagi ke rumah ini!" Tegas Devan sambil melihat putrinya.
Glek!
Vanya pun meneguk saliva mendengar suara Ayahnya itu, merasa dirinya tidak memiliki kesalahan tentulah sangat mengejutkan.
"Ayah ngomong apa?"
__ADS_1
"Semua fasilitas mu Ayah cabut, kamu pun boleh pergi dari sini. Dan jangan pernah kembali lagi!" Papar Devan.
"Apa?" Pekik Vanya shock.
"Itu hukuman untuk mu yang pernah melanggar perintah yang sudah Ayah terapkan!"
"Aku melanggar apa?"
"Kamu mabuk-mabukan dengan Rena, sampai akhirnya Rena dan Kak Felix tidur bersama!" Terang Devan.
Degh!
Jantung Vanya berdetak kencang, merasa begitu sulit untuk menghirup udara saja. Matanya tertutup sejenak kemudian membukanya kembali. Mencoba melihat raut wajah Devan dan ternyata begitu menyeramkan. Akhirnya peristiwa yang di pikirkannya sudah aman kini malah terungkap, bahkan Devan sudah mengetahui semuanya.
"Mulai hari ini dan satu bulan ke depan. Kamu harus bekerja keras menjadi OG di kantor. Tanpa uang saku seperti biasanya, tanpa ada yang boleh tahu kalau kamu anak Ayah! Tanpa fasilitas apapun, pulang dan pergi naik kendaraan umum!" Jelas Devan.
"Ayah," Vanya tidak bisa hidup dengan cara seperti itu, Vanya sudah terbiasa dengan kemewahan sejak dalam kandungan Bundanya. Lantas bagaimana hari-harinya jika sudah di ubah begitu drastis.
"Ayah tidak suka ada yang berani melanggar aturan yang sudah Ayah buat, agar kamu tahu cara hidup baik seperti apa! Bukan hanya berfoya-foya. Sekaligus belajar hidup di siplin! Kuliah saja tidak tidak jelas...!!"
"Ayah, aku..."
"Kau itu sering mengulang, tidak usah banyak membela diri! Dari masa sekolah kau selalu sesuka mu, dari dua puluh delapan siswa kau adalah peringkat ke dua puluh tujuh!" Kata Devan lagi.
"What!" Vanya semakin terkejut dengan aturan yang di berikan oleh Devan.
Kali ini Devan tidak main-main, apa yang di langgar oleh putri nya memang begitu fatal. Beruntung saat itu bukan Vanya yang tidur dengan Felix, jika iya maka itu adalah sejarah paling menjijikkan. Mungkin Devan yang akan mengubur anaknya hidup-hidup, kemudian dirinya juga ikut bunuh diri merasa gagal mendidik anaknya.
"Bunda," Vanya berharap Nayla dapat membantunya.
Sayangnya Nayla pun tidak memiliki keberanian untuk melawan Devan, sehingga hanya tersenyum melihat wajah permohonan putri nya. Lagi pula Vanya terlalu di berikan kebebasan, sehingga tidak tahu hidup yang baik seperti apa. Nayla pun takut anaknya terjerumus ke dalam dunia yang nantinya hanya merugikan anaknya. Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, begitupun dengan Devan. Akhirnya Vanya hanya bisa menerima tanpa berani membantah lebih jauh lagi, tampaknya apa yang di lakukannya adalah hal yang begitu fatal hingga Devan begitu murka. Untuk menatap wajah Devan saja Vanya tidak memiliki keberanian lagi.
"Mengerti atau tidak?" Tanya Devan dengan suara baritonnya.
Vanya pun mengangguk.
"Keluarkan semua kartu kredit dan kartu lainnya, kecuali KTP"
Vanya pun mengeluarkan dari dalam tas nya, membuka dompet nya dengan perlahan. Kemudian mengambil dompetnya dan mengembalikan kartu berharga yang sudah di berikan Devan padanya dengan perasaan tidak rela.
"Kunci mobilnya!"
__ADS_1
"Mobil?" Vanya terkejut mendengarnya.
"Berikan! Sehari Ayah berikan uang tunai Rp. 50.000!"
"Apa?" Vanya benar-benar shock mendengarnya.
"Itu hukuman untuk anak yang berani melanggar aturan yang sudah berlaku!" Devan pun bangkit dari duduknya kemudian pergi menuju ruang kerjanya.
"Bunda," Vanya memasang wajah melas, berharap Nayla bisa membantunya, sedikit saja.
"Maaf sayang, untuk kali ini kesalahan mu sangat fatal. Ini pun demi kebaikan mu," Nayla pun memilih menyusul Devan.
Meninggalkan Vanya dalam kegalauan tingkat tinggi.
"Semuanya di ambil, aku seperti anak tiri saja," Vanya mendesus dan tidak tahu bagaimana caranya untuk hidup. Tapi bibir Vanya mendadak tersenyum mengingat wajah Felix.
Felix tentu bisa membantunya.
"Ada Kak Felix."
Vanya pun segera mengirimkan pesan.
( Kak bagi duit )
Tiba-tiba ponsel Vanya pun berbunyi, ada notifikasi sebuah pesan. Kemudian Vanya pun membacanya.
( Jangan menambah masalah ku ) Kak Felix.
Vanya pun kehilangan senyuman, mengerti jika Devan pasti sudah meminta Felix dan Adnan untuk tidak memberikan uang padanya.
"Sepertinya aku benar-benar anak tiri di keluarga ini," Vanya pun kembali berpikir siapa yang bisa membantunya. Seketika mengingat wajah Rena, segera mengirimkan pesan.
( Ren, pinjem duit dong )
Ting!
( Fasilitas aku abis di sita Nya, ) Rena.
Rena pun di sebrang sedang menanggung beban, karena Nanda sudah mengetahui dirinya mabuk di malam itu bersama dengan Vanya.
Hingga Rena pun harus menjalani hukumannya.
__ADS_1
"Ternyata nasib Rena juga sama saja," Vanya mengacak rambutnya dengan kesal.