
Saat ini Riki membawa Felix menuju apartemen milik Felix, di sanalah rencana pun mulai di jalankan.
"Riki?" Felix menendang kaki Riki dengan kencang nya.
"Sakit tolol!" Riki sangat geram pada Felix sebab dirinya sudah menolong malah di buat hampir tidak bisa berjalan dengan baik.
"Mati saja sekalian!" Geram Felix.
"Lihat penampilan ku!" Felix pun menunjukkan dirinya.
Riki pun melihat penampilan Felix dari kaki yang kini menggunakan sepatu wanita sampai gaun yang melekat pada tubuh nya, jangan lupakan ada rambut palsu berwarna kecoklatan terurai panjang.
"Bagus!" Riki pun memberikan jempol atas apa yang kini di pakai oleh seorang Felix.
"Tidak lucu!" Felix ingin sekali memberikan bogem mentah pada Riki, sebab dirinya malah di dandani seperti seorang wanita.
"Hey tunggu dulu!" Riki pun menjauh agar tidak mendapat bogem.
"Kau mau bertemu Cahaya tidak?"
"Tapi tidak begini juga caranya!"
"Hanya ini cara satu-satunya, pegang ini!" Riki memberikan sebuah ponsel pada Felix.
"Berikan nanti ponsel itu padanya setelah kalian bertemu, agar bisa membuat janji saat akan bertemu," jelas Riki.
"Riki!" Felix pun mengepalkan tangan nya hingga ingin sekali menembus jantung Riki.
"Tidak ada cara lain! Kau berhadapan dengan Om Alex dan orang yang paling berbahaya yang kau sebut Devan! Kau tahu siapa Devan? Seorang pria yang memilik mata-mata di mana-mana dan kau itu hanya abu di matanya!" Papar Riki.
Felix pun hanya bisa mendesus sampai saat ini pun Ayahnya masih tidak bisa terkalahkan sama sekali. Kemampuan dan kecerdasan Devan memang sangat luar biasa.
"Kau paham? Hanya sekali ini saja jika kau berhasil memberikan ponsel nya. Maka kalian bisa berkomunikasi!" Jelas Riki lagi.
"Awas kalau tidak berhasil!"
"Ayo cepat!"
Keduanya pun keluar dari apartemen memasuki taksi yang sudah di pesan oleh Riki sejak tadi.
"Kenapa harus naik taksi?" Tanya Felix bingung.
"Kau tidak lihat berapa mata-mata yang mengikuti kita?"
Felix pun mengangguk mengerti sesaat kemudian Riki meminta taksi berhenti. Kemudian menaiki taksi lainnya untuk mengantarkan mereka menuju rumah sakit.
Riki benar-benar tidak ingin rencana nya tercium oleh Alex dan Devan sehingga ingin bermain dengan cara halus.
__ADS_1
Akhirnya keduanya sampai di rumah sakit, Riki memakai pakaian wanita dan selendang yang menutupi kepala nya. Felix pun demikian, ada masker juga untuk menutupi wajah keduanya.
Berjalan dengan santai seakan tidak ada apa-apa padahal keduanya sedang berusaha untuk lolos dari orang-orang yang di perintahkan untuk menjaga Cahaya yang sedang bertugas di rumah sakit tersebut.
"Aduh," sepatu yang di gunakan oleh Felix jebol, kakinya yang begitu besar dan terbiasa berjalan dengan gagah nya kini harus menjadi seorang wanita feminim.
Sangat menyulitkan.
"Hati-hati, sepatu mu tidak menggunakan hak," kata Riki dengan suara pelan.
"Ada yang bisa di bantu, Ibu?" Tanya seorang perawat.
Sedangkan dua orang pria berdiri di depan ruangan Cahaya menatap wajah-wajah yang akan bertemu dengan Cahaya. Tepatnya mengawasi agar Felix tidak sampai masuk.
"Saya Rini. Saya ingin berkonsultasi dengan Dokter Cahaya tentang pertumbuhan anak saya, sekarang anak saya di rumah, Sus. Saya ingin berbicara dulu dengan Dokter nya," kata Riki dengan gaya ala-ala wanita.
Huuueekkk!
Felix menahan mual yang tidak terkira, sebab Riki yang terlihat seperti seorang yang tengah terkena gangguan jiwa.
"Baik Ibu, tapi sebaiknya Adek nya di bawa," kata suster tersebut kembali.
"Sus, untuk kali ini saja. Karena anak saya sangat sulit di bawa keluar dari rumah, mungkin setelah bertemu akan ada pelajaran khusus dari Dokter cara membuat anak saya bisa di ajak keluar dari rumah," Riki pun tidak tahu apakah penjelasan nya masuk akal atau tidak, tetapi dirinya sedang berusaha sekuat tenaga membuat Felix bisa bertemu dengan Cahaya.
"Ada apa Sus?" Cahaya keluar dari ruangan nya dan bertanya.
Felix ingin berlari mengejar Cahaya dan memeluk dengan erat.
Tetapi Riki menahan dengan memegang lengannya.
"Tahan dulu," bisik Riki.
Felix pun terpaksa mengurungkan niatnya, kemudian mengangguk menurut pada Riki.
Cahaya merasa janggal saat melihat dua orang di hadapannya begitu aneh dan juga terlihat berbeda dari penampilan wanita pada umum nya.
"Sus itu apa ya?" Tanya Riki sambil menunjuk ke bawah.
Suster tersebut pun melihat ke bawah.
Sedangkan Felix membuka sedikit maskernya menunjukan wajah nya pada Cahaya.
"Ff..."
"Rini, Dok!" Kata Riki dengan cepat agar Cahaya tidak menyebutkan nama Felix.
"Tidak ada apa-apa," suster yang tertipu itu pun tidak melihat apa-apa.
__ADS_1
Cahaya menarik napas sebanyak-banyaknya kemudian melihat sekitar nya. Ada beberapa bodyguard yang mengawasi nya sesuai dengan perintah Alex.
"Biarkan mereka masuk," kata Cahaya pada suster tersebut.
"Baik Dok"
"Silahkan masuk, Bu," Cahaya pun mempersilahkan kedua wanita jadi-jadian itu untuk masuk.
Felix dan Riki pun segera masuk dengan cepat Cahaya mengunci pintu ruangan nya agar tidak ada yang masuk. Felix pun melemparkan selendang di kepalanya, berikut dengan rambut palsu yang ikut terlepas. Kemudian melepaskan maskernya.
"Ahahahha," Cahaya yang awalnya bersedih mendadak tertawa terbahak-bahak karena ulah Felix dan Riki yang berpenampilan seperti wanita.
"Tertawa saja, aku begini karena ingin bertemu dengan mu," jelas Felix dengan wajah dingin nya kesal pada Cahaya.
Cahaya pun menghentikan tawanya, semakin kesini merasa yakin akan cinta yang di ucapkan oleh Felix. Cahaya mengakui kehebatan Felix dalam berjuang untuk memiliki nya.
"Maaf," kata Cahaya.
Felix pun tersenyum dan memegang tangan Cahaya.
"Ingat, kamu sudah menjadi milik ku! Aku akan berjuang untuk kita, jangan coba berkhianat. Atau kita akan mati bersama!" Ancam Felix.
"Apaan sih? Ngaco!" Cahaya kesal saat Felix yang mengancam nya.
"Aku serius! Jadi, jangan pernah mencoba untuk bermain-main? Ini hanya sampai aku mendapatkan bukti bahwa aku dan Rena tidak melakukan semua itu!" Terang Felix dengan yakin.
Cahaya pun mengangguk, dirinya sudah jatuh hati pada Felix dan percaya sepenuhnya kepada apapun yang di jelaskan padanya.
Felix pun tersenyum dan ingin mencium Cahaya, tetapi tiba-tiba ada tangan yang memukul wajah nya.
Felix pun kesal dan melihat ke samping.
"Nyamuk!" Kata Riki sambil tersenyum, sebab dirinya di lupakan oleh dua orang anak manusia yang sedang melepaskan rindu.
"Dasar!"
"Udah, yang penting kita udah ketemu. Aku kangen loh," kata Cahaya dengan malu-malu.
Wajah Felix seketika berbinar, bayangkan saja Cahaya kini mengatakan rindu padanya.
"Ehem!" Riki pun berdehem karena melihat hal yang memuakkan.
"Ck!" Lagi-lagi Felix kehilangan mood jika sudah melihat Riki.
"Untuk saat ini ku biarkan kau hidup karena masih berguna. Walaupun sebenarnya aku ingin melempar mu melewati jendela kaca itu!" Kata Felix menunjuk jendela.
"Felix," Cahaya pun tersenyum dan tidak ingin melihat pertengkaran antara dua sahabat itu.
__ADS_1
"Tidak tahu diri!" Umpat Riki penuh kekesalan.