
Semuanya seakan begitu indah bahkan sekelilingnya seakan di penuhi dengan taburan bunga mawar merah seakan kian menambah kesan bahagia. Dan Ninda menyadari itu matanya melihat sendiri saat Vanya senyum-senyum sendiri seperti orang gila di pagi hari ini. Bahkan mengunyah sarapan dengan senyuman, membuat Ninda pun berinisiatif untuk mengerjai Vanya. Menaburkan bubuk cabai pada sarapan Vanya, hingga akhirnya ter batuk-batuk.
Uhuk... Uhuk... Uhuk...
Vanya pun cepat-cepat meneguk mineral hingga membuatnya lebih baik. Sementara Ninda malah tertawa dengan terbahak-bahak melihat wajah Vanya.
"Ahahahhaha......." Ninda sampai mengetuk meja, sebab akhirnya Vanya bisa tersadar dari lamunanya.
Hingga mata Vanya pun melihat bubuk cabai di tangan Ninda.
Kemudian melihat sarapannya dan menebak Ninda yang menambahkan bubuk cabai pada sarapannya.
"Kamu sengaja masukin bubuk cabai?" Mata Vanya pun mengarah tajam pada Ninda, ingin rasanya mengunyah Ninda hidup-hidup detik ini juga.
"Ahahahhaha, iya." Ninda mengakuinya, bahkan terus tertawa dengan kerasnya.
Tapi Vanya yang semakin kesal pada Ninda, namun apakah Ninda peduli?
Oh, tentu tidak.
"Kamu sadar nggak dari tadi senyum-senyum sendiri seperti orang gila?"
"Apa iya?" Tanya Vanya kembali.
"Ya ampun, enak ya yang jatuh cinta," goda Ninda.
Vanya pun tersenyum kembali sambil mengingat wajah Riki yang tampan.
Apa tampan?
Vanya sudah tidak waras bahkan mungkin matanya juga sudah rusak.
Tetapi memang tidak di pungkiri lagi wajah tegas Riki dengan dada lebarnya membuat Vanya melayang.
Ya ampun Vanya, otak mu masihkah pada tempatnya?
"Nah kan, gila lagi!" Ninda pun kembali menyadari bahwa Vanya sudah kembali pada kegilaannya.
"Ternyata apa yang di bilang Ibu benar, ya."
"Apa?"
"Bangun tidur nggak boleh kesiangan, ini contohnya. Jodoh mu sepertinya Om-Om."
"Nggak apa-apa sih, orang Om-Omnya sekeren Om Riki."
Vanya pun tertawa penuh kebahagiaan lagi-lagi hanya membayangkan wajah Riki saja.
"Ya ampun, dasar nggak waras!"
Tok... Tok... Tok...
Keduanya pun tersadar setelah mendengar suara ketukan pintu.
"Paling Om Riki, kamu aja!" Tebak Ninda.
"Iya sih!" Vanya pun bergegas membuka pintu, ternyata benar ada Riki di sana.
Riki berdiri di sana dengan gagahnya ingin sekali Vanya terjatuh pingsan dan di berikan napas buatan.
__ADS_1
Dasar Vanya aneh.
"Apa kabar?" Tanya Riki.
"Hihi," Vanya malah cengengesan saat Riki menanyai kabarnya hari ini.
Membuat Riki menautkan kedua alisnya merasa sedikit aneh melihat ekspresi wajah bocah kesayangannya tersebut.
"Kenapa? Aku menanyakan kabar mu."
"Baik Om," Vanya pun menepuk dahinya setelah merasa malu.
Riki tersenyum melihat kekonyolan Vanya yang selalu saja mampu membuatnya semakin jatuh cinta.
"Om, jemput aku mau kerja ya? Ya udah bentar ya Om. Aku ganti baju dulu, Om duduk di teras aja."
Vanya pun masuk ke dalam kamar kemudian kembali dengan kemeja berpadu dengan celana senada. Tak lupa ada tas kecil yang menggantung dengan indahnya. Vanya pun sadar mereka bukan ke kantor, melainkan ke Mall.
"Om?"
"Kita beli ponsel dulu, ponsel kamu udah rusak kan?"
Vanya pun mengangguk membenarkan, tetapi apakah maksud Riki memberikannya ponsel untuk membayarnya?
Vanya sama sekali tidak tertarik untuk di berikan ponsel baru, lagi pula jika hanya sebuah ponsel tentunya tidak sulit baginya untuk mendapatkan kembali.
"Kenapa masih diam saja?"
"Om, kayaknya nggak usah deh. Nanti aku beli sendiri aja," tolak Vanya.
Vanya benar-benar tidak ingin menerima apapun, sebab tak ingin di bayar lagi seperti sebelumnya.
Sedangkan Riki tidak bermaksud demikian karena dirinya ingin bisa menghubungi Vanya dengan mudah. Bertanya kabar sebelum tidur, pastinya untuk memudahkan berkomunikasi saat sedang berjauhan.
Berpacaran dengan bocil artinya harus siap pula menjadi bocil, biarkan saja orang merasa aneh yang penting Riki bahagia.
"Apaan sih Om, genit banget sih!" Vanya pun mencubit lengan Riki karena tidak kuat mendapatkan sebuah godaan barusan.
"Ayolah."
"Ini bentuk bayaran nggak Om?"
"Bukan sayang, ini cinta," papar Riki.
Sayang?
Apa?
Vanya bahkan sampai lupa bagaimana caranya untuk bernapas ucapan Riki barusan benar-benar membuatnya melayang ke awan.
"Vanya kamu kenapa?" Riki panik saat melihat Vanya kesulitan untuk bernapas.
"Om, aku butuh udara!" Vanya pun buru-buru turun dari dalam mobil kemudian menarik napas dengan sebanyak-banyak mungkin.
Ini benar-benar gila.
"Kamu kenapa?"
"Hehehe," Vanya terkekeh saat melihat wajah Riki yang begitu dekat dengan dirinya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?"
"Om, nggak usah gitu liatnya. Soalnya jantung aku suka aneh!"
"Ahahahhaha," Riki benar-benar tertawa karena bocah polos seperti Vanya.
'Dia sangat polos, apa lagi kalau di polosin,' batin Riki sambil terkekeh geli.
"Ya udah, ayo. Aku tahu ada ponsel keluaran terbaru!"
Akhirnya jiwa shopping Vanya pun kembali lagi, menjadi seorang wanita yang hobinya berbelanja barang-barang mewah.
Sementara Riki sama sekali tidak mempermasalahkan sama sekali, apa lagi dirinya ingin menikahi Vanya dalam waktu dekat ini.
"Om, yang ini!"
Vanya memilih salah satu ponsel terbaik, soal selera Vanya memang tidak bisa di tawar sama sekali.
Terbiasa hidup mewah membuatnya tidak lagi asing akan barang-barang mahal.
"Makasih, ya Om," Vanya tersenyum bahagia setelah di belikan sebuah ponsel keluaran terbaru.
"Vanya, bisakah jangan memanggil ku Om" pinta Riki kemudian melihat sekitarnya.
Sedangkan Vanya merasa aneh saat Riki mengatakan demikian.
"Karena, orang-orang di sini pasti berpikir aku membawa keponakan," jelas Riki.
"Hehe," Vanya pun cengengesan mendengarnya, tetapi panggilan Om memang sudah terbiasa membuatnya merasa begitu nyaman.
Tapi tidak masalah, Vanya bisa mulai belajar memanggil dengan panggilan lainnya.
"Mas, lebih baik," kata Riki.
"Mas?" Tanya Vanya merasa aneh.
"Mas Riki, ish.....Aku kok geli ya Om," Vanya merasa sekujur tubuhnya dingin memanggil Riki dengan panggilan tersebut.
Sementara Riki juga ikut tertawa melihat ekspresi wajah Vanya yang kian semakin menggemaskan saja.
"Mas Riki," goda Vanya sambil menyenggol lengan Riki.
'Ya ampun, kenapa dia semakin terlihat lucu dan menggemaskan. Panggilan yang manja itu membuat aku tidak tahan,' Riki pun membatin dengan seketika.
"Om!" Vanya pun, kembali menyadarkan Riki dari lamunannya.
Tanpa di ketahuinya sama sekali bahkan Riki sekarang benar-benar tergila-gila padanya.
"Sayang, Mas!"
"Geli banget!" Vanya pun melingkarkan tangannya pada lengan Riki kemudian berjalan menuju sebuah toko pakaian.
Sementara Riki hanya mengikuti saja kemanapun Vanya membawanya.
"Om," Vanya meminta Riki untuk membayarkan semua barang belanjaan miliknya, tetapi Riki hanya diam saja karena panggilan Vanya.
"Mas," panggil Vanya dengan rasa geli yang luar biasa.
"Iya sayang," Riki pun segera membayar tanpa terkecuali.
__ADS_1
Tidak ada yang tidak jika sudah menyangkut Vanya, semua akan baik-baik saja tanpa ada alasan yang lainnya.
Sungguh jatuh cinta membuatnya menjadi lebih baik dan begitu bahagia.