
Riki menerima laporan dari orang suruhannya jika Vanya saat ini berada di rumah keluarga Devan Bima Putra yang tak lain adalah rumah Felix salah seorang sahabatnya.
Riki terdiam dan memikirkan sesuatu, hingga akhirnya dirinya pun menghubungi Vanya.
Padahal Vanya sedang bahagia bersama dengan kedua orang tuanya, bahkan sedang menunggu dua orang yang sangat di cintainya tersebut untuk menikmati telor dadar buatannya.
"Jawab dulu, siapa tahu penting," kata Nayla saat mendengar suara ponsel Vanya terus saja berbunyi.
"Ya udah, bentar ya Bunda," Vanya mencari tempat aman terlebih dahulu untuk menerima panggilan telepon dari Riki. Karena Vanya tidak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka. Setelah di pastikan aman barulah Vanya menerimanya.
"Apa, duda lapuk! Dasar pengganggu!" Vanya langsung saja menjawab dengan kekesalan, karena menghubungi saat tidak tepat waktu.
Riki di seberang sana tidak perduli, saat ini hanya ingin bertanya dimana keberadaan Vanya.
Membuktikan apakah wanita itu berbohong atau tidak.
"Kamu di mana?" Tanya Riki dari balik sambungan telepon.
"Mau tau aja atau mau tahu banget?"
Vanya tidak berminat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Riki, selain tidak penting Vanya juga tidak memiliki kewajiban untuk memberikan laporan setiap waktu pada Riki. Memangnya siapa Riki? Bukan siapa-siapa dan sama sekali tidak penting.
"Cepat atau aku yang mencari mu!" Ancam Riki.
"Aku di rumah majikan Ibu ku," Vanya pun menjawab dengan apa adanya karena saat ini Ina juga menjadi Ibunya sedangkan Ina bekerja di rumah Bundanya.
Vanya tidak berbohong karena Ibu artinya Ina. Kalau Bunda barulah Nayla.
"Begitu?" Riki pun mengerti dan memutuskan panggilan karena Vanya memang pernah mengatakannya jika Ibunya bekerja sebagai pembantu.
Bahkan tidak lagi penasaran memilih melanjutkan pekerjaan agar segera pulang ke rumah untuk beristirahat. Sedangkan Vanya malah mengomel sendiri sebab merasa sangat terganggu.
"Woy!" Rena pun menepuk pundak Vanya hingga membuatnya tersentak.
"Rena! Kakak ipar kurang ajar!" Vanya yang kesal langsung memukul Rena, percaya keduanya lebih seperti seorang sahabat seperti saat Rena belum menikah dengan Kakaknya Adnan.
"Maaf, tapi kamu juga aneh. Menerima telepon sembunyi-sembunyi udah seperti maling aja!"
"Enak aja!" Kata Vanya penuh kekesalan.
"Aku ke toilet dulu ya, mual banget. Aroma badan kamu busuk!" Rena pun langsung melenggang pergi sambil menutup lubang hidungnya.
"Apa iya," Vanya pun mencium aroma tubuhnya, tetapi sesat kemudian dia juga muntah.
"Bau sih kan kena telor barusan."
Sesaat kemudian kembali ke ruang telivisi dimana Nayla dan Devan berada.
Tetapi mata Vanya melihat piring sudah kosong, artinya telur dadar buatannya sudah habis.
Saat ini Vanya bersiap menantikan komentar terhadap masakannya barusan.
"Rasanya gimana Bunda?"
Nayla hanya diam saja karena telur dadar buatan Vanya sudah berada di bawah kolong meja.
Nayla mengambil kesempatan saat Vanya menerima panggilan telepon barusan.
"Enak, ya kan, Yah?" Tanya Nayla pada Devan.
__ADS_1
"Iya," jawab Devan dengan berbohong.
"Kalau begitu aku mau buat lagi."
"Nggak usah!" Tolak Devan dan Nayla dengan cepat.
Karena keduanya tidak mau memakan telur dadar dengan cangkangnya sekaligus.
"Kenapa?"
"Duduk, Bunda kangen," Nayla menarik lengan Vanya untuk duduk di antara Devan dan Nayla.
Itu jauh lebih baik dari pada Vanya malah kembali ke dapur dan memasak makanan yang jauh lebih aneh lagi.
Sampai akhirnya waktu sudah sore, Vanya pun berpamitan pulang ke rumah Ina lagi.
"Kamu balik ke rumah Bik Ina lagi?" Awalnya Nayla mengira jika Vanya kembali ke rumah, namun ternyata tidak.
"Bunda, aku ke rumah Ninda ya. Ijinkan ya, nggak lama lagi kok, hehe."
"Ya sudah, tapi jangan melakukan kesalahan lagi!"
"Makasih Bunda, Ayah."
Setelah berpamitan Vanya dan Ninda pun kembali ke rumah, tetapi siapa sangka ternyata Riki sudah menunggunya di teras.
"Ya ampun, aku tidak mengerti mengapa dia suka sekali datang ke sini," kata Vanya pada Ninda yang berjalan di sampingnya.
"Aku masuk ya, nggak ikut-ikutan!" Ninda memilih langsung masuk ke dalam rumah.
Dari pada melihat Vanya dan Riki yang hanya bertengkar dan bertengkar saja.
"Apaan sih?" Vanya kesal saat tatapan mata Riki seakan mengintimidasinya.
"Temani aku makan malam!" Riki pun mengutarakan keinginannya menemui Vanya.
Entah mengapa mendadak Vanya membuatnya nyaman.
"Makan malam?"
"Iya."
"Nggak ah, malas banget!" Tolak Vanya.
Riki pun mengeluarkan kartu kreditnya, membiarkan kartu kredit tersebut yang berbicara.
Benar saja Vanya langsung saja mengangguk setuju tanpa menawar sama sekali.
"Baiklah, senang berbisnis dengan anda," Vanya pun mengulurkan tangannya seakan sedang memberikan jasa pada Riki yang kini menjadi pelanggannya.
Ingat.
Pelanggan yang di maksud oleh Vanya hanya sebagai seorang yang menemani Riki untuk makan saja.
Tidak lebih.
"Mungkin aku bisa memiliki profesi baru. Menerima jasa untuk menemani makan," gumam Vanya sambil berjalan masuk ke dalam mobil Riki.
Sesampainya di sebuah Restoran keduanya pun duduk di salah satu meja sampai tiba-tiba Vanya melihat Felix yang duduk di kursi lainnya bersama dengan Cahaya ataupun kakak iparnya tersebut.
__ADS_1
Dengan segera Vanya menutup wajahnya dengan majalah kemudian masuk ke bawah kolong meja.
"Apa yang kamu lakukan?" Riki merasa Vanya semakin gila saja karena mendadak masuk ke bawah kolong meja.
Riki pun mengintip Vanya di bawah sana ternyata wanita itu sedang cengengesan padanya.
"Kenapa dia imut sekali, aku jadi tidak bisa marah," batin Riki.
"Om, ini namanya menemani dengan bayaran murah. Nanti kalau bayarannya tinggi baru duduk di kursi," bohong Vanya memberi alibi.
Riki tidak ingin pusing, memilih untuk memulai makan malamnya.
Terserah saja apa yang ingin dilakukan oleh manusia aneh tersebut.
"Om, makanannya mana?" Vanya meminta Riki untuk memberikan makanannya. Karena dirinya akan makan di bawah kolong mejanya saja dari pada kelaparan nantinya.
Tidak ingin banyak bertanya Riki pun memberikan makanan pada Vanya dan akhirnya Vanya makan di bawah kolong meja.
"Hay bro!" Sapa Felix saat melihat Riki. Sedangkan Riki baru menyadari Felix.
"Kau di sini?" Tanya Riki.
"Iya, kenapa memasukan makanan ke bawah kolong meja?" Tanya Felix sempat melihat apa yang di lakukan oleh Riki.
Vanya mendengar itu adalah suara Kakaknya Felix, apakah Riki dan Felix saling mengenal?
Vanya benar-benar ketakutan, bagaimana jika tahu dirinya di sini bersama seorang lelaki.
"Itu..."
"Meong...." terdengar suara kucing dari bawah kolong meja.
Membuat Riki terdiam dan tidak mengatakan apapun.
"Kucing?" Tanya Felix.
"Kamu membawa kucing?"
"Sepertinya begitu," jawab Riki, tetapi kucing yang di maksud olehnya adalah Vanya.
"Kalau begitu kami duluan," Felix pun pergi bersama dengan Cahaya.
Vanya yang mengintip dari bawah sana merasa lebih baik. Kemudian dirinya keluar dari kolong meja.
"Om kenal sama orang tadi?" Tanya Vanya dengan tiba-tiba.
"Bocah kurang ajar!" Riki pun mengetuk kepala Vanya karena sudah membuatnya hampir saja terkena serangan jantung.
"Hehe," Vanya pun cengengesan karena tahu kesalahannya.
"Maaf Om, tapi Om baik-baik saja kan. Tekanan darah aman? Syukur kalau aman, aku khawatir mengingat usia Om yang sudah rentan," kata Vanya.
Riki menarik napas panjang karena apa yang di katakan oleh Vanya seakan menganggapnya sebagai seorang pria yang sudah lanjut usia.
"Tapi, Om belum jawab pertanyaan aku. Om kenal sama orang tadi?" Vanya kembali mempertanyakan apa yang ingin ditanyakan olehnya barusan.
"Memangnya kenapa?" Tanya Riki kembali.
"Caelah, di tanya malah nanya balik. Kenal nggak?" Tanya Vanya lagi dengan kesal.
__ADS_1