Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Dulu?


__ADS_3

"Kok ke sini?" tanya Rima.


"Kita tinggal di sini saja sampai rumah kita selesai direnovasi," jawab Aditya.


"Rumah?" Rima tidak tahu sama sekali.


Rima memang tidak mengetahui apapun tentang Aditya selain dari profesi sebagai seorang Dokter ahli jiwa.


Aneh tetapi begitu adanya!


Aditya mengangguk kemudian mendekati Rima yang masih duduk di sampingnya. Rima pun mendadak menegang.


Apa Aditya akan menciumnya? melanjutkan apa yang terjadi saat di perjalanan tadi?


Rima pun menutup matanya dengan meneguk saliva beberapa kali. Sampai akhirnya tidak ada yang terasa sama sekali.


"Kamu kenapa?" tanya Aditya.


Rima pun membuka mata dengan peluh yang bercucuran.


"Ak... aku," Rima mendadak gagu dengan nafas yang naik turun.


Bisa tidak untuk tenang tanpa ada rasa tidak nyaman. Kenapa dengan keadaan ini?


"Sudahlah ayo turun, aku sudah melepas sabuk pengaman mu," Aditya pun kemudian turun.


"Sabuk pengaman?" gumam Rima.


Rima pun akhirnya menyadari kebodohannya saat dirinya berpikir Aditya akan menciumnya ternyata hanya membukakan sabuk pengaman dalam hati Rima berdoa semoga saja Aditya tidak menyadarinya.


Sejak kapan dirinya mau dicium oleh lelaki menerima bahkan menunggu, bukankah saat Aditya menyentuhnya pun dalam keadaan tidak senang, apalagi menikmati tapi kenapa juga dirinya malah berpikir akan dicium.


"Kamu kenapa?" tanya Aditya.


Rima tersentak saat Aditya sudah berada di luar dan membukakan pintu mobil untuknya, sejak kapan manusia itu berada di sana? sejak kapan Rima yang cerewet mendadak diam tanpa bisa berkata-kata?


"Maaf, apa suara ku terlalu kencang?" tanya Aditya merasa tidak enak.


Rima pun menggeleng lemah kemudian segera bergerak turun dari mobil.


Pikirannya masih penuh dengan perdebatan-perdebatan yang begitu membingungkan.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Aditya lagi.


Lagi-lagi Rima hanya menggeleng sebagai jawaban, entah kemana perginya suara cerewet yang selama ini selalu mengomel tanpa henti tanpa peduli akan keadaan ataupun pada siapa.


Aditya pun mengangkat tubuh Rima tanpa izin sehingga Rima terkejut dan cepat-cepat melingkarkan tangannya pada tengkuk Aditya.


"Dok," Rima panik dan tidak berani banyak bergerak sehingga hanya semakin mengeratkan pegangannya.


"Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja," ucap Aditya.


"Aku baik Dok,"


"Tidak apa, tadi di kantor polisi kamu juga sudah berdiri cukup lama," segera memasuki lift dan menuju unit apartemen.


"Dok, aku turun aja aku bisa jalan sendiri," Rima sangat takut jika nanti tangan Aditya terlepas sudah pasti tubuhnya terhempas ke bawah dan rasanya akan sangat berbahaya untuk dirinya sendiri.


Apalagi kandungannya.


Aditya memilih diam sampai akhirnya keluar dari dalam lift dan memasuki apartemen, dengan perlahan Aditya menurunkan Rima dari gendongannya, Rima pun melihat sekitarnya, ruangan tersebut sangat aneh menurutnya, dinding berwarna biru tua dan tidak ada yang istimewa, sofa pun berwarna hitam polos, gordennya juga berwarna hitam sama sekali tidak berwarna.


"Ini kok serem banget sih?" ucap Rima.


"Kenapa?" Aditya tersenyum kecil mendengarnya menurutnya semua biasa saja.


Sesaat kemudian Rima pun melihat Aditya masih berdiri pada daun pintu yang tertutup, sejenak Rima terdiam menatap Aditya dengan penuh intimidasi.


Tubuh tinggi tegak, dada bidang terasa nyaman, hidung mancung, mata hitam kecoklatan, jam tangan di sebelah kirinya, kedua tangan Aditya berada dalam saku celananya.


Tampaknya Rima mulai merasa tertarik pada Aditya.


"Kamu lihatin apa?" tanya Aditya.


"Nggak apa-apa," Rima pun kembali menatap sekitarnya.


"Ruangan ini aneh, tidak ada yang istimewa," ucap Rima lagi sambil terus memperhatikan sekitarnya.


"Jelas karena yang istimewa itu cuma kamu," Papar Aditya.


Degh!


Rima terdiam saat mendengar kata-kata tersebut, ya ampun tunggu dulu apa yang berdentum tapi bukan benda!

__ADS_1


Hati!


Hati yang mulai tidak karuan.


"Dok," Rima pun ingin menetralkan dirinya dan membuat keadaan seakan biasa saja, segera berbalik badan untuk menatap Aditya namun terlihat Aditya ada di belakang sehingga tanpa sengaja berbenturan begitu saja, Rima terkejut melihat keberadaan Aditya yang tiba-tiba berada di hadapannya.


Sesaat kemudian tubuhnya terhuyung ke depan saat tangan Aditya melingkar erat di pinggangnya.


"Dok," Rima sampai meneguk saliva kemudian tangannya mendorong dada Aditya sekuat tenaga, sayangnya Aditya tidak terusik sama sekali, menatapnya hingga Rima salah tingkah dan tidak tahu harus melakukan apa.


Sedangkan jantung terus saja berdegup kencang, bertambah keringat dingin ikut membuatnya basah.


"Dok, lepas sesak," Rima berharap Aditya segera melepaskan dirinya, jika tidak maka akan lebih malu lagi, namun Aditya hanya diam dengan wajah datarnya sambil terus menatap Rima.


Menyelami perasaan Rima padanya, melalui tatapan mata yang kadang bertemu dan kadang terputus karena Rima yang memutuskannya.


"Dok lepas," pinta Rima lagi sambil terus menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari dekapan Aditya.


Aditya masih memilih diam menatap Rima.


"Kenapa jadi takut? bukannya dulu kamu itu suka menggodaku?" tanya Aditya.


Rima pun mendongak mencoba menatap Aditya.


"Kaki aku udah nggak kuat berdiri, aduh!" Rima pun berpura-pura tidak kuat untuk berdiri selain untuk menghindari pertanyaan Aditya, juga untuk kesehatan jantungnya yang terus saja berdetak kencang tanpa hentinya.


Aditya mengangguk dan mengangkat Rima dalam keadaan berdiri.


"Dok turunin," seru Rima sambil memeluk Aditya takut terjatuh, kemudian duduk di sofa dengan Rima yang duduk di pangkuan Aditya.


"Dok," Rima ingin turun tetapi Aditya tidak mengizinkannya sama sekali.


"Katanya letih? begini tidak akan membuat kaki mu letih, kan?"


"Dok, aku mau turun,"


"Kenapa? bukankah dulu kamu sangat suka menggodaku? kenapa sekarang sepertinya kamu tidak memiliki nyali?" tangan Aditya melingkar di pinggang Rima sedangkan sebelah lagi menyisir rambut Rima dan tidak melepaskan tangannya dari tengkuk istrinya itu.


"Dok, dulu itu..." Rima tidak tahu harus menjawab bagaimana tetapi dirinya merasa kekurangan oksigen hingga dada begitu naik turun.


"Dulu?" tangan Aditya beralih menyentuh bibir Rima yang mendadak kelu tanpa bisa berbicara dengan baik.

__ADS_1


Rima menggigit bibirnya, menahan sesak yang kian terasa.


__ADS_2