Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Membuatnya menjadi tidak karuan..


__ADS_3

"Pak polisi tunggu," Sela pun ikut bersuara, karena sampai detik ini tidak ada yang salah malah di benarkan.


"Iya Ibu," polisi itu sedikit menunduk agar melihat ke dalam melalui jendela mobil, saat dirinya di panggil oleh seorang wanita yang jauh lebih tua darinya maka kesopanan harus tetap di utamakan.


"Sebenarnya, saya ingin mengatakan sesuatu. Tapi, ini menyangkut urusan pribadi tapi tidak apa," Sela pun menjeda perkataannya sambil melihat Riki yang menatapnya dari luar.


Begitu juga dengan Vanya yang menoleh ke belakang menunggu Sela selesai berbicara baru nantinya menekan pedal gas dan meninggalkan Riki yang menanggung kesalahannya.


Anggap saja sebagai penebus maaf darinya karena Riki selalu menganggapnya remeh.


"Pak polisi, mereka berdua ini pengantin baru," bohong Sela sambil menunjuk Riki dan juga Vanya bergantian.


Vanya dan Riki melongo mendengar apa yang di jelaskan oleh Sela. Tapi Sela tidak perduli sama sekali, memilih kembali melanjutkan penjelasan nya yang sedikit konyol.


"Jadi, tadi yang ugal-ugalan di jalan adalah perempuan ini. Tapi, dia istri dari pria itu." Sela lagi-lagi menunjuk Riki.


"Ma..." Riki mencoba untuk mengelak, tetapi lagi-lagi Sela terus saja berbicara bahkan dengan nada suara lebih tinggi agar hanya terdengar suaranya saja.


"Maklum Pak, semalam suaminya nggak dapat jatah. Karena, istrinya juga sedang datang bulan," kata Sela.


"Jatah?" Vanya tidak mengerti sama sekali dengan jatah yang di maksud oleh Sela.


"Datang bulan? Pengantin Baru?"


Semuanya sangat sulit untuk di mengerti, Vanya masih terlalu awam dalam urusan demikian. Tetapi tidak dengan Riki yang jelas tahu maksud Sela, tetapi tidak terima.


"Pak"


"Pak, mohon maaf ya. Janji ini tidak akan terulang lagi," kata Sela.

__ADS_1


"Tante, jatah apa?" Tanya Vanya bingung.


"Ma!" Tegur Riki menahan emosi.


"Vanya, pindah ke sini!" Sela meminta Vanya untuk berpindah duduk, kemudian melihat Riki.


"Riki, cepat masuk!"


"Ibu, Bapak, lain kali kalau ada masalah di rumah jangan ugal-ugalan di jalan raya seperti tadi. Ada baiknya selesaikan di rumah." Polisi tersebut memberikan saran, menurutnya itu adalah saran terbaik.


"Apa!" Pekik Vanya, dirinya shock karena polisi tersebut mengatakan bahwa dirinya dan Riki adalah pasangan suami istri.


"Maaf Pak, maklum Pak," tambah Sela lagi.


Riki pun bergegas masuk ke dalam mobil, dari pada lebih lama di sana. Muak sekali Sela terus menyebutkan Vanya sebagai istrinya.


"Bapak hati-hati mengemudinya, ingat istrinya sedang datang bulan. Jadi, mohon lebih bersabar," katanya lagi.


Riki kesal sekali pada Sela yang masih saja tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah kesal Riki sedangkan Vanya masih saja kebingungan.


Sesampainya di sekolah Vanya pun bertanya pada Sela.


"Tante, kok Om Riki di bebaskan? Alasannya juga nggak nyambung banget. Datang bulan, apa lainnya? Aneh," kata Vanya.


"Ini gara-gara kamu yang ugal-ugalan!" Riki lagi-lagi mengetuk kepala Vanya.


Vanya kesal bukan main, bukan kali pertama, bukan kedua, bukan ketiga juga. Melainkan, sudah sering kali.


Vanya pun mencoba untuk membalasnya, mengetuk kepala Riki dengan berlompat.

__ADS_1


Tetapi malah terpeleset dan dengan refleks tangannya mencengkram erat jas Riki.


Riki yang tidak seimbang pun terkejut hingga akhirnya terjatuh tepat di atas tubuh Vanya.


Sejenak Riki terdiam memandangi wajah Vanya dari jarak begitu dekat, hidung mancung dan mata yang begitu hitam pekat.


Tapi mata itu seakan meneduhkan, membuatnya betah untuk menatap lebih lama lagi.


"Ehem!" Sela pun berdehem, menyadarkan Riki.


"Om, bangun. Sakit tahu!" Vanya pun meronta-ronta ingin Riki segera bangkit dari atas tubuhnya, dari tadi dirinya kesulitan untuk bernapas.


Karena tubuh Riki yang besar itu menimpanya beberapa menit setelah itu barulah Vanya bangun dengan sudah payahnya.


"Om, ish! Pakai otak dong! Badan Segede gini, tenaga melempem!" Omel Vanya terus-menerus tanpa jeda karena terlalu kesal pada Riki.


"Ayo masuk!" Sela meminta Vanya untuk membantunya mendorong kursi rodanya, karena tidak baik berdebat di tempat tersebut.


Mengingat banyaknya murid yang masih terlalu kecil untuk mendengarkan perdebatan orang dewasa.


"Dasar, Duda Lapuk!" Kata Vanya sebelum akhirnya berlalu pergi membawa Sela.


Sedangkan Riki masih saja terdiam di tempatnya, sejenak tersenyum tanpa sadar karena merasa nyaman saat begitu dekat dengan Vanya.


Meskipun bibirnya terus saja mengomel tetapi hati wanita itu begitu baik.


"Duda lapuk," gumam Riki saat mengingat gelar yang di berikan oleh Vanya untuknya.


Aneh tapi begitu adanya, sayangnya Riki memilih untuk menepikan pikirannya sejenak tentang Vanya, karena wanita itu berasal dari keluarga sederhana.

__ADS_1


Riki sudah terlalu trauma dengan kejadian sebelumnya, sehingga tidak ingin terus memikirkan Vanya yang mendadak membuatnya menjadi tidak karuan.


__ADS_2