
Nayla bersama Reyna pun memasuki kamar rawat Jessica, melihat keadaan Jessica pasca melahirkan secara sesar. Tetapi keduanya terkejut melihat Alex yang sedang menangis dan berteriak ketakutan mungkin bermimpi sepertinya mimpi buruk yang sangat buruk hingga berteriak terus-menerus.
"Kak Alex! Kak!" Reyna berusaha membangunkan Alex. Tetapi begitu sulit hingga mengambil mineral dan menuangkan pada wajah Alex.
Bukan berniat tidak sopan, tetapi Reyna merasa kasihan pada Alex yang menangis tersedu-sedu terus-menerus dan sulit untuk terbangun. Sekalian sudah menggerakkan pundaknya sekencang mungkin.
Benar saja, setelah air itu mengenai wajahnya, Alex pun terbangun seketika itu juga dirinya menatap sekitarnya, ada Nayla dan Reyna di sana.
"Jessica!" Alex melihat Jessica begitu panik. Dengan refleks menggerak-gerakkan tubuh Jessica, ketakutan jelas terlihat di wajah Ayah dua orang anak tersebut.
Reyna merasa kasihan pada Jessica yang terus terguncang karena Alex, dengan cepat menarik Kakak nya agar menghentikan aksi gilanya tersebut.
"Kak, kamu apaan sih? Kamu nggak lihat istri mu sedang istirahat! Gimana kalau alat bantu napasnya terlepas?" Cerca Reyna dengan penuh pertanyaan.
Alex pun terdiam sambil memperhatikan Jessica.
Alat medis masih terpasang tanpa ada yang berkurang, tanpa kain penutup di seluruh tubuhnya seperti barusan dilihatnya.
"Kakak mimpi buruk?" Tanya Reyna dengan hati-hati.
Alex pun beralih menatap Reyna, kemudian memperhatikan sekitarnya.
Tidak ada Cahaya dan Rara yang terus saja menyebutnya sebagai seorang pembunuh.
__ADS_1
"Jessica masih hidup?" Tanya Alex dengan was-was.
"Masih, Kakak tadi tidur di sini. Mungkin ketiduran, Kakak pasti mimpi buruk!" Tebak Reyna.
Alex pun mengusap wajahnya yang sudah dibasahi oleh air yang di siramkan oleh Reyna.
Setidaknya sedikit merasa lega ternyata dirinya hanya sedang mimpi saja. Mimpi buruk itu sangat menyeramkan, semoga tidak terulang kembali apa lagi sampai menjadi nyata.
Perlahan mata lemah Jessica kembali terbuka, saat dirinya merasa ada yang mengusik tetapi baru berhasil di bukanya dan melihat sekitarnya.
"Jessica, kamu benar-benar masih hidup," Alex tersenyum, dengan mengusap air matanya yang entah untuk keberapa kalinya.
Tapi hanya itu yang bisa dilakukan oleh Alex tanpa ada yang memerintahkan nya air mata itu tumpah begitu saja.
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Jessica dengan suara pelan.
"Tidak, aku hanya takut. Tapi syukurlah kalau kamu baik-baik saja, ayo istirahat lagi. Agar cepat pulih," Alex menarik selimut untuk menyelimuti Jessica, kemudian setengah memeluk istrinya dengan rasa lebih baik setelah melihat mata Jessica terbuka barusan. Mimpi buruk barusan benar-benar menjadi ancaman terbesar bagi dirinya dan keluarganya.
"Kak, makan dulu. Kamu belum makan, ini Mama yang menitipkan pada ku," Reyna pun menunjukkan bekal makanan yang di bawanya barusan, dan sudah diletakkan pada meja saat datang barusan.
Alex tampak tak selera sama sekali untuk mengunyah makanan, tidak ada rasa lapar sedikit pun meskipun sudah sore begini.
"Kamu harus makan Kak, kalau tidak kamu bisa sakit. Kalau kamu sakit siapa yang mengurus istri dan anak mu?" Papar Reyna.
__ADS_1
Alex menimbang perkataan adiknya, sebenarnya tidak ada yang salah dari perkataan Reyna barusan.
Dengan perlahan Alex pun duduk di sofa, mengarahkan tangannya pada bekal makanan dan membukanya perlahan.
Padahal semua makanan yang dibawa adalah makanan yang biasanya menjadi makanan favoritnya. Alex akan sangat bahagia jika Puput memasak nya, tapi tidak dengan saat ini. Makanan tersebut tidak serta membuatnya bernafsu untuk makan.
Setelah memakan beberapa suapan Alex pun merasa cukup, bahkan entah apa rasa makan tersebut tidak sama sekali di nikmati.
Makan agar tidak sakit itu saja, demi bisa merawat Jessica.
"Alex, bisa aku bicara," Devan pun melihat Nayla sudah sampai di rumah sakit, tersenyum pada istrinya dan kembali melihat Alex.
"Iya, jangan ada yang ditutupi. Karena itu memudahkan untuk melakukan apapun tindakan selanjutnya," kata Alex.
Devan pun mengangguk dan menjelaskan segalanya tentang Jessica.
"Istri mu masih harus dirawat, aku rasa tidak masalah bukan?"
"Iya," Alex mengangguk.
"Anak mu pun sama, kita akan mencari Dokter spesialis untuk nya. Terutama masalah gizi, agar perkembangan nya lebih cepat."
"Untuk itupun aku setuju, lakukan saja yang terbaik. Jessica sangat berharap bayi itu bertahan. Tolong jangan buat dia bersedih karena kehilangan anaknya, aku tidak sanggup lagi melihatnya menderita," Alex menunduk, air matanya tidak pernah kering untuk waktu yang lama.
__ADS_1
Saat ini semua seakan tidak berarti selain kesembuhan istrinya.
"Iya, tapi bukan kita yang menentukannya. Tapi paling tidak kita sudah melakukan yang terbaik," Devan menepuk pundak Alex, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya tersebut.