
Dengan meremas selimut di dada Rena mencoba untuk melihat wajah Felix. Tatapan mata Felix begitu tajam mengarah padanya. Sesaat kemudian Felix mendekati Rena rahangnya mengeras sempurna. Dengan buku-buku jarinya yang terlihat saat terkepal erat.
"Apa yang kau lakukan di kamar ini?" Tanya Felix berusaha untuk tetap menahan amarahnya.
Glek!
Rena meneguk saliva mendengar pertanyaan itu, seketika air matanya menetes sambil menggeleng. Dirinya juga tidak tahu mengapa bisa ada di kamar tersebut. Terakhir kalinya dirinya berada di apartemen milik salah satu sahabatnya bersama dengan Vanya juga. Niat hati hanya ingin coba-coba untuk minum tapi malah membuatnya bingung di saat ini.
Ya benar!
Rena mengingat saat mereka minum bersama dengan Vanya dan beberapa temannya karena penasaran.
Tapi setelah nya? Rena tidak tahu apa-apa. Lalu dimana Vanya? Apa yang terjadi sungguh membingungkan Rena tidak mengingat sama sekali.
"Jawab!" Bentak Felix.
Rena pun tersentak pertama kalinya mendengar suara kasar Felix membuatnya benar-benar shock.
"Kak Felix, aku tidak tahu kenapa bisa ada di kamar mu," jawab Rena dengan terbata-bata karena takut pada Felix.
Kepalanya terus mencoba untuk mengingat penyebabnya berada di sana, tapi tidak. Semua masih membingungkan dengan kepala yang terasa berat.
"Jangan-jangan kau sengaja menjebak ku!
Rena pun memberanikan diri untuk menatap Felix dengan kepala yang menggeleng.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, yang ada aku mau tanya. Kenapa kita ada di sini?" Tanya Rena kembali dengan raut wajah bingung.
"Kau menyalahkan aku?" Tanya Felix.
"Kau yang berada di kamar ku!"
Rena pun melihat sekelilingnya dan itu memang benar, tapi apa yang membuatnya berada di sana yang sangat membingungkan.
"Kak, gimana kalau aku hamil?" Rena bertanya dengan suara yang bergetar. Mendengar pertanyaan Rena membuat emosi Felix semakin bertambah. Kini dirinya yakin jika Rena menjebaknya, mungkin saja Rena sedang mengandung.
"Jangan-jangan kau sedang hamil! Tapi tidak ada yang bertanggung jawab!" Tebak Felix.
"Nggak, Kak," Rena menggeleng cepat dengan peluh yang bercucuran.
Jantung Rena berdetak kencang mendengar hinaan Felix, seketika itu membalas tatapan tajam mata Felix. Entah keberanian dari mana, tapi kata-kata Felix barusan sungguh membuatnya terhina.
"Aku tidak murahan!" Tegas Rena.
"Lalu apa?" Tanya Felix lagi.
Rena pun mengangkat tangannya dan ingin melayangkan pada Felix. Dengan cepat Felix menahannya dan mencengkram erat hingga Rena meringis menahan sakit.
"Tangan mu itu terlalu kotor untuk menyentuh wajah ku!" Papar Felix, kemudian menghempaskan tangan Rena. Kemudian Felix pun keluar dari kamar setelah mengenakan pakaian nya. Rena memandangi pintu yang tertutup rapat, hatinya begitu sakit mendengar hinaan Felix.
Kedua tangannya mencengkram erat selimut yang menutupi dadanya, menangis dengan rasa penyesalan yang begitu luar biasa. Sesaat kemudian pintu pun terbuka, tampak Nayla yang kembali ke kamar. Dirinya sudah merasa begitu lama menunggu tetapi sampai saat ini pun Rena belum juga muncul.
__ADS_1
"Kenapa belum memakai pakaian mu!" Nayla pun bertanya masih dengan nada suara yang tinggi. Dirinya tidak membenci Rena, hanya saja terlalu shock dengan apa yang dilakukan oleh dua anak muda itu. Melakukan hubungan suami istri, bahkan di dalam rumahnya dengan tanpa status perkawinan yang suci. Padahal Nayla mempersiapkan jika pun anaknya berjodoh dengan anak dari sahabatnya sendiri.
"Cepat! Kenapa kamu masih diam!" Nayla pun yang kesal karena Rena hanya diam saja, akhirnya memakaikan pakaian Rena.
"Biar Bunda bantu."
Setelah selesai memakai pakaian Rena, dengan cepat Nayla menarik tangan Rena ikut keluar dari kamar. Sampai di ruang keluarga terlihat Devan menunggu.
Devan menatap Rena dari ujung kaki sampai ujung rambut, tidak tahu entah apa yang dipikirkan nya saat ini.
"Yah. Aku ingin berbicara." kata Felix yang duduk di sofa lainnya.
Devan hanya diam sambil melihat Felix dengan tatapan tajam.
"Aku pulang untuk memberikan kejutan pada Bunda, tapi tiba-tiba saja ada dia di kamar aku. Tidak tahu entah kenapa kami bisa berada di ranjang berdua," jelas Felix, kemudian menatap Rena.
"Dia itu tidak ada istimewanya, sama sekali aku tidak tertarik padanya. Mana mungkin aku mau menyentuh wanita model begini!" Felix menatap Rena dengan remeh seakan menatap hina.
Rena mengepalkan kedua tangannya menahan sakitnya hinaan yang dilontarkan oleh Felix. Jika pun tidak tertarik padanya tidak harus menghinanya seperti saat ini. Dirinya juga tidak tertarik sama sekali pada Felix, tapi tidak pernah bibirnya dengan lantang menghina.
"Felix, cukup!" Bentak Devan, seketika bangkit dari duduknya dan menunjuk wajah Felix.
"Kau berbicara seakan tidak pernah di ajarkan cara menghargai wanita, seakan tidak pernah di ajarkan sopan santun. Nikahi Rena!" Devan tidak ingin mendengar bantahan.
Dirinya benar-benar kecewa saat Felix menghina seorang wanita.
__ADS_1