Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Aku cinta kamu!


__ADS_3

Setelah memutuskan menyetujui persyaratan yang di berikan oleh Cahaya. Akhirnya Cahaya pun setuju untuk menikah dengan Felix.


Namun, tiba-tiba saja terdengar suara perut Felix yang bernyanyi.


Cahaya pun terkejut mendengarnya. Sedangkan Felix pun menyadari belum makan sebutir nasi sejak pagi tadi.


Itu karena memikirkan Cahaya, belum lagi kebagian saat Devan dan Nayla memintanya menemui Cahaya pagi tadi.


Namun, saat ini Felix sadar. Bahwa makan cinta tidak mengenyangkan perut.


"Kamu lapar?"


"Iya,, kita cari makan ya."


Cahaya pun mengangguk.


"Aku mandi dulu, kamu juga mandi sana."


"Nggak boleh, kita belum menikah," tolak Felix dengan penuh percaya diri.


Cahaya mendengar jawaban Felix yang seakan-akan menolak dan membuatnya tersudutkan. Pada dasarnya tidak pernah mengajak Felix untuk mandi bersama.


"Apanya? Aku minta kamu mandi di kamar kamu! Bukan di sini!" Cahaya kesal dan mencubit lengan Felix, mungkin dengan begitu bisa menyadarkan otak Felix yang koslet.


"Oh begitu? Kirain......" Felix pun tersenyum malu. Menyadari kebodohannya, baru saja begitu percaya diri menolak Cahaya. Namun ternyata dirinya yang malu sendiri.


"Dasar otak mesum!"


"Hehehe, kirain. Mana tahu setelah tadi kamu ketagihan," Felix pun tertawa kecil walaupun merasakan malu.


"Apaan sih! Nggak usah aneh-aneh, cari dulu duit buat beli cincin nikah. Sesuai dengan keinginan aku!"


"Iya," Felix pun segera keluar dari kamar Cahaya, dirinya menuju kamarnya untuk membersihkan diri setelah merasakan kenikmatan surganya seorang wanita yang di cintainya.


Sedangkan Cahaya pun menutup pintu kamarnya, kemudian segera mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sebenarnya Cahaya masih begitu kecewa atas apa yang menimpa dirinya, namun semua sudah terjadi. Apapun yang dilakukan tidak mungkin bisa menjadikannya wanita yang suci lagi. Tapi paling tidak orang yang mengambilnya adalah Felix, lelaki yang juga dicintainya.


Mungkin Cahaya bisa bernapas lebih tenang, apa lagi Felix yang begitu mencintainya.


Selesai mandi Cahaya pun keluar dari kamar mandi, memakai pakaian dengan perlahan. Sebenarnya tubuh Cahaya terasa sakit, tetapi dirinya bukan wanita cengeng apa lagi suka mengeluh. Sehingga tidak ada yang menyadari dirinya yang sedang tidak nyaman dengan bagian utama dari tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu, Cahaya yang memakai dress berwarna putih kesukaannya pun membuka pintu. Melihat Felix dengan kemeja coklat berpadu celana jeans putih.


"Udah siap?"


"Udah."


Keduanya pun berjalan dengan langkah kaki yang pelan, terutama Cahaya yang tak bisa bergerak bebas seperti biasanya.


Tampaknya Felix menyadarinya, hingga menyesuaikan langkah kakinya dengan Cahaya. Sekalipun terasa lambat tetapi Felix tetap bersabar. Keduanya berjalan beriringan menuju restoran, semua mata yang melihat keduanya begitu tercengang.


Bahkan ada yang memuji kecocokan keduanya, dimana laki-laki yang bertubuh tegap dan wanitanya yang tampak anggun.


Hingga akhirnya keduanya duduk sambil menunggu makanan yang sudah di pesan barusan.


"Kamu udah selesai seminarnya?"


"Udah, kita pulang malam ini kan? Aku nggak mau Mommy sakit, karena mikirin aku."


Felix pun mengangguk mengerti, lagi pula tak ada lagi yang harus di lakukannya.


"Setelah makan kita kembali ke Jakarta," kata Felix dengan pasti.


Keduanya pun menikmati makanan, mungkin bagi Felix ini adalah makan pagi, atau siang, atau sore yang hampir malam. Yang jelas ini makanan yang masuk ke perutnya sejak pagi tadi.


"Kamu lapar banget ya? Perut kamu sampai bernyanyi," Cahaya pun tertawa kecil mengingat kejadian konyol barusan.


"Iya," Felix pun membenarkan dan terus saja makan dengan lahap.


"Kamu nggak makan berapa hari? Apa dari pagi nggak makan? Atau nggak makan siang?" Cahaya melihat Felix makan begitu lahapnya hingga membuatnya bertanya-tanya.


"Aku tidak sarapan, sedangkan makan siang ku kamu," jawab Felix asal.


Mendengar yang dikatakan oleh Felix amarah Cahaya pun menggebu-gebu.


"Apaan sih, nggak jelas!"


Felix pun tersenyum mendengarnya, akhirnya kembali melanjutkan makannya. Setelah selesai Felix pun merasa kenyang.


"Akhirnya kenyang juga, sekarang aku mengerti ada kata-kata yang mengatakan bahwa. Makan cinta saja tidak akan kenyang."


"Nggak jelas!"

__ADS_1


Felix tidak perduli pada apapun yang dikatakan oleh Cahaya, yang terpenting kini hubungannya menjadi lebih serius. Tanpa perlu bersembunyi jika ingin bertemu seperti sebelumnya.


Keduanya pun kembali ke Jakarta, hari yang mulai gelap dan kelelahan membuat Cahaya terlelap begitu saja.


Sampai akhirnya kepala Cahaya jatuh di pundak Felix. Felix pun tersenyum dan merangkul pundak Cahaya agar kepalanya tidak terjatuh.


Hingga akhirnya mobil pun berhenti, sebenarnya Felix tidak tega untuk menggangu tidak lelap Cahaya.


Tetapi tidak mungkin juga mengangkat Cahaya, mengingat mereka belum menikah tentulah akan membuat Alex murka jika melihatnya.


"Cahaya," Felix pun membangunkan Cahaya.


"Kita udah sampai?"


"Iya."


"Aku turun ya, aku ngantuk banget," Cahaya menguap hingga beberapa kali, namun di mata Felix calon istrinya itu begitu cantik.


Belum lagi ingatan akan tubuh Cahaya membuat otaknya tidak baik-baik saja.


"Felix!" Cahaya bingung melihat Felix yang tersenyum sendiri tanpa ada yang lucu.


"Iya, sampai jumpa besok."


"Besok aku di rumah sakit, tapi kamu harus kerja untuk aku. Atau..."


"Aku cinta kamu!"


"Apaan sih! Aku lagi ngomong!"


"Mau aku gigit bibir mu?"


"Apaan sih?"


"Makanya diam! Atau aku khilaf lagi!"


Dengan kesal Cahaya pun turun dari mobil, dari pada ancaman Felix menjadi nyata nantinya.


"Masuk!"


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2