Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Hanya ada kejengkelan.


__ADS_3

Riki pun mencoba untuk bangkit kembali, bangkit dari rasa sakit yang sebenarnya begitu menyiksa diri.


Diri yang sudah rapuh kian semakin hancur, sebenarnya sudah sejak awal Riki tidak ingin jatuh hati lagi pada semua wanita mana pun di dunia ini.


Namun, apa daya. Bahkan tanpa disadarinya cinta tumbuh seiring dengan kebersamaan.


Padahal hanya ada pertengkaran, perselisihan dan juga kekesalan. Tetapi, tetap saja hatinya mencintai wanita tersebut.


Entah sampai kapan ini akan terjadi, tetapi tampaknya sampai detik ini tidak ada titik terangnya sama sekali.


Semuanya masih gelap seakan tidak ada titik terang dari hubungan ini, entah berakhir dengan kebahagiaan nantinya ataupun kesedihan.


Riki benar-benar pusing memikirkan cintanya yang begitu rumit ini.


Kembali menuju rumah dengan pakaian basah kuyup nya karena air hujan yang membasahi tubuh, tidak terasa dinginnya karena hati jauh lebih terluka.


Sesampainya di rumah masih seperti biasanya melihat bulan di langit yang gelap.


Namun sampai saat ini pun Riki terus saja memikirkan apa yang dikatakan oleh Felix beberapa saat lalu.


Apakah benar jika Vanya hanya sedang menikmati cinta monyet yang sebenarnya biasa dirasakan oleh para remaja pada umumnya.


Apakah mungkin satu bulan ke depan Vanya sudah lupa akan dirinya?


Apakah mungkin cinta Vanya tidak sedalam itu seperti yang dikatakan oleh Felix?


Baiklah kini Riki pun akan mencoba untuk mengalah, mungkin saja apa yang dikatakan oleh Felix adalah benar.


Riki tidak mau nantinya akan ada penyesalan yang dirasakan oleh Vanya jika pun akhirnya mendapatkan restu.


###########


Keesokan harinya Riki benar-benar memutuskan hubungannya dengan Vanya, tidak ada lagi komunikasi ataupun hanya sekedar melihat Vanya dari kejauhan saja.


Semuanya benar-benar tidak ada, tidak ada perjuangan lagi.


Biarkan semuanya berlalu begitu saja, sakitnya jangan ditanyakan lagi, hati yang tersiksa pun kian menjadi-jadi.


Namun apa daya dirinya sudah berjanji untuk tidak lagi menemui Vanya.


Hari-hari pun terus berlalu, Sela semakin melihat anaknya yang murung. Semuanya seakan kembali lagi seperti sebelumnya.


Rumah pun kini berubah menjadi sepi, tidak ada canda dan tawa yang padahal sempat menghidupkan kembali suasana bahagia di rumah itu setelah lama seakan mati.

__ADS_1


Sayang semuanya tidak berlangsung lama, dengan hati yang sakit semuanya harus rela hilang begitu saja.


"Riki," Sela menghampiri putranya yang baru saja memasuki rumah, malam sudah larut namun Riki baru saja sampai di rumah.


Kini Riki hanya perduli pada pekerjaannya, bekerja dan bekerja tanpa hentinya. Mungkin dengan demikian bisa membuat pikirannya tentang Vanya sedikit menepi.


Meskipun sebenarnya itu sangat tidak mungkin, karena terlalu mencintai dengan sepenuh hati.


Bahkan Riki rela berkorban apa jasa demi seorang Vanya.


Hingga pulang selarut ini dan saat mendengar suara Sela membuat Riki pun menghentikan langkah kakinya kemudian melihat Sela.


"Kamu baik-baik saja?"


Padahal untuk apa ditanya lagi, sudah pasti Riki sedang tidak baik-baik saja.


Mungkin fisiknya terlihat gagah, namun siapa sangka hatinya yang begitu rapuh.


Namun, tetap saja Riki mengangguk hingga sesaat kemudian melangkah pergi menuju kamarnya.


Tidak ada kata, benar-benar tanpa suara.


Sela pun hanya bisa menatap punggung anaknya dengan nanar, lagi-lagi matanya menyaksikan sendiri bagaimana seorang Riki sedang terpuruk karena cinta yang tidak bisa tersampaikan dengan baik.


Hari-hari terus berlalu dengan cepatnya, tidak terasa sudah hampir dua minggu Riki dan Vanya tidak bertemu. Tidak berkomunikasi dan tidak saling mengetahui kabar satu sama lainya.


Riki pun memilih untuk pergi ke tempat hiburan malam, duduk di bartender dengan pikirannya yang kian semakin menerawang jauh.


Sepertinya impian bersama dengan Vanya hanya sebatas mimpi saja membuat Riki kian merasa sakit di relung hati tanpa ada yang bisa mengobatinya.


Matanya menatap gelas di tangannya, sesekali meneguk minuman di dalamnya. Entah sudah berapa banyak minuman di tegaknya. Sayangnya bayangan Vanya jauh lebih memabukkan dari pada minuman-minuman itu.


Anehnya lagi meskipun ramai namun tidak membuat Riki menjadi lebih baik, rasanya tetap saja sepi.


Suasana hati sangat mempengaruhi, hingga apapun yang dilakukan tidak akan pernah bisa membuat diri menjadi lebih baik.


"Butuh teman nggak, Mas?" Seorang wanita pun menghampiri Riki, duduk di samping pria yang kini tampak kusut itu.


Bahkan jambang tipisnya pun kini sudah tidak terurus sama sekali, kemejanya kusut dengan bagian lengannya dilipat asal hingga di siku.


Tapi saat seperti inipun tetap saja terlihat mempesona dan membuat wanita banyak yang meliriknya, sayangnya di hati Riki sudah ada nama wanita yang membuatnya menjadi tergila-gila.


Bahkan tidak ada yang bisa menggantikan wanita tersebut, biar saja Riki hanyut dalam bayang-bayang Vanya.

__ADS_1


Tidak mengapa tersiksa karena cinta, Riki masih ingin menikmatinya. Asalkan tidak untuk menerima wanita lainnya.


"Butuh teman?" Tanya wanita itu lagi, padahal sudah jelas Riki tidak perduli sama sekali.


Begitu pun sampai kini, bahkan seakan dirinya hanya sibuk dengan dunianya sendiri.


Hingga membuat wanita itu pun kesal, kemudian pergi dengan begitu saja.


Riki tidak perduli sama sekali, terserah pada wanita itu saja.


Hingga sesaat kemudian ada lagi wanita yang datang menghampirinya.


"Mas Riki? Kamu di sini? Sama siapa?" Tanya wanita tersebut bermaksud untuk berbasa-basi.


Riki semakin muak saja, mengapa bisa bertemu dengan mantan istrinya tersebut di saat yang tidak diinginkan seperti ini.


Bahkan Riki memang tidak pernah menginginkan sama sekali.


"Aku duduk di sini ya," langsung saja Indah duduk di samping Riki, meskipun tidak sama sekali Riki mengatakan iya.


Hingga Riki pun bangkit dari duduknya, bermaksud berpindah tempat dan tidak berdekatan dengan Indah.


"Mas, kamu mau kemana? Kita ngobrol dulu," Indah pun mencoba untuk menahan Riki dengan memegang lengannya.


Bersamaan dengan itu tatapan matanya berbenturan dengan seseorang yang cukup dikenalnya.


"Vanya?" Riki terkejut melihat Vanya yang berada di tempat tersebut.


Bagaimana bisa Vanya berada di sana, seperti apa caranya bocah ingusan itu melarikan diri dari Felix maupun Devan yang tentunya sudah memperketat pengawasan terhadap Vanya.


Wajahnya tampak kesal pada Riki.


Hingga sesaat kemudian melihat wanita yang berdiri di samping Riki yang memegang tangan pria itu.


Pikirannya pun kini mengatakan bahwa Riki sudah kembali lagi pada pelukan mantan istrinya tersebut.


Ternyata cinta padanya hanya sebuah lelucon yang dia anggap serius.


Sejenak Vanya pun terdiam, hanyut dalam pikirannya yang benar-benar berkecamuk hebat.


Seakan membuat kepalanya akan meledak setelah melihat ini semua.


Sesaat kemudian Vanya pun memilih untuk pergi, tanpa ingin bertemu dengan Riki seperti keinginan awalnya.

__ADS_1


Bahkan rasanya tidak ingin lagi melihat wajah pria itu, apa yang dilihatnya sudah menjelaskan untuk apa lagi terus memikirkan Riki.


Sepanjang jalan yang dilangkahi oleh kaki Vanya hanya ada kekesalan dan kebencian terhadap Riki.


__ADS_2