Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Berjanji!!!


__ADS_3

Akhirnya Rima pun benar-benar menjalani rawat inap setelah Dokter spesialis kandungan mengatakan pada Aditya akan keadaan Rima, tidak lagi dapat mengelak setelah Mia yang memaksanya untuk menuruti keinginan Aditya sebagai seorang suami.


"Kamu mau minum?" tanya Aditya begitu melihat bibir Rima begitu kering.


"Nggak Dok," Rima menolak dirinya kini butuh istirahat.


Namun Dokter teman Aditya terkejut mendengar panggilan Rima barusan, dirinya yang sudah menikah tentu merasa aneh lagi pula orang-orang di luar sana pun akan bingung mendengarnya.


"Panggilan istri Anda seperti kalian itu bukan suami istri saja," Dokter tersebut pun terkekeh kecil kemudian lekas keluar dari ruangan, ada pekerjaan yang menunggunya.


Aditya beralih menatap Rima, melihat wajah istrinya itu dengan cukup lama.


"Jangan panggil aku Dok, kita bukan dua orang asing," ucap Aditya.


"Siapa bilang? kita itu asing! anda saja yang merasa kita dekat, dasar sok kenal!" ketus Rima.


Setelah itu menutup wajahnya dengan selimut sebab kepalanya masih terasa pusing.


"Aku keluar sebentar," pamit Aditya.


"Tidak usah kembali juga tidak masalah,"


Rima yakin saat ini Aditya tengah tertawa terbahak-bahak melihat dirinya dipermalukan tadi malam, sedangkan Aditya memilih segera keluar menuju bagian administrasi.


Menimbang Mamat juga dirawat di rumah sakit yang sama.


Aditya ingin meringankan beban Mia sehingga membantu segala biaya pengobatan yang akan dilakukan.


"Maaf Bapak tapi pasien atas nama Bapak Mamat sudah ada yang membayarnya," kata seorang wanita petugas administrasi.


"Siapa yang melunasinya?" tanya Aditya.


"Ibu Rima, Bapak,"


Artinya yang membayarkan biaya rumah sakit Pak Mamat adalah Rima istrinya.


"Baiklah biaya selanjutnya untuk Pak Mamat saya yang akan menjadi penanggung jawabnya, jadi apapun yang perlu ditangani lakukan saja masalah biaya urusan saya," papar Aditya.

__ADS_1


"Baik Bapak,"


Aditya pun kembali ke ruangan Rima ternyata istrinya itu sudah terlelap dalam tidur mungkin karena obat tidur yang membuatnya terlelap, ditambah lagi dengan rasa lelah yang begitu luar biasa. Aditya pun segera memberitahu pada keluarga bahwa Rima sedang dirawat di rumah sakit setelah itu telinganya mendengar suara perut Rima terus berbunyi padahal tidur Rima begitu lelap.


Hingga tiba-tiba Rima terbangun dan memuntahkan makanan yang dimakannya pagi tadi.


"Hueekkkkkk," pakaian dan selimut menjadi kotor seketika itu juga.


Rima memegang kepalanya yang terasa berat sekali, kehamilan pertamanya tersebut benar-benar menguras tenaga.


Baru kali ini Rima merasakan sakit yang melelahkan sedikit-sedikit muntah dan muntah.


"Aku yang membersihkannya, jangan banyak bergerak," Aditya mengangkat tubuh Rima untuk duduk di sofa, kemudian meminta seorang perawat untuk mengganti sprei dan selimut.


Sedangkan Aditya mengganti pakaian Rima dengan pakaian pasien lainnya, Rima yang sudah kelelahan hanya diam tidak menolak apalagi menepis tangan Aditya, kini dirinya pasrah saja sungguh tubuhnya begitu lemas, bukankah seharusnya Aditya bertanggung jawab atas perbuatannya, Rima tidak akan hamil jika tidak karena Aditya.


Rima menganggap bahwa apa yang dilakukan Aditya adalah bentuk tanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri.


Setelah itu Aditya kembali mengangkat Rima naik ke atas ranjang berbaring dengan posisi ternyaman.


"Dok aku lapar sekali," kata Rima.


"Mau makan apa? buah?" tanya Aditya.


"Aku lapar jangan tanya ini itu!" kesal Rima dengan suara lemahnya.


"Kau itu masih saja kasar padahal sudah tidak berdaya," celoteh Aditya.


"Agar Anda tahu aku masih hidup!" ucap Rima lagi.


"Panggil aku Mas, jangan menganggapku asing!" ucap Aditya.


"Lapar," kesal Rima tanpa peduli pada ucapan Aditya barusan.


Dengan segera Aditya membantu Rima duduk, kemudian mulai menyuapinya belum juga sampai di perut masih di mulut sudah keluar, rasa mualnya benar-benar tidak nyaman dan tidak bisa hilang.


"Hueekkkkkk,"

__ADS_1


Aditya pun meminta Dokter kandungan yang menangani Rima untuk memberikan obat agar rasa mual sedikit hilang, karena mual itu membuat makanan yang masuk keluar begitu saja setelah meminum obat untuk mengurangi rasa mual Rima pun merasa sedikit membaik.


"Dok ambilkan buah itu, aku kelaparan!" kata Rima.


Ya ampun bagaimana Aditya tidak jatuh hati pada seorang Rima.


Kelaparan? terkesan seperti dirinya tidak mampu untuk memberikan makan padahal jika pun habis sepuluh kg beras dalam satu kali makan tidak lantas membuatnya kesulitan keuangan.


Aditya pun hanya diam dan memilih mengupas sebuah apel dan menyuapinya pada Rima.


"Dok apa tidak ada yang asam-asam? mangga muda sepertinya enak, buah ini tidak ada rasanya," keluh Rima.


"Tidak sekarang nanti setelah sembuh," Aditya memilih menyuapi Rima kembali tidak ingin mengabulkan sekarang melihat keadaan Rima belum cukup baik.


"Dasar suami pelit!" ucap Rima.


Aditya tersenyum samar sekalipun Rima mengomel paling tidak sudah mengakui dirinya sebagai seorang suami, walaupun Aditya tahu barusan Rima sedang berbicara asal.


"Mau lagi?" tanya Aditya.


Rima pun menggeleng dan kembali merebahkan tubuhnya.


Nayla pun datang bersama dengan Devan menjenguk Rima setelah mendapatkan informasi dari Aditya.


"Aku bawa makanan, tante Arini yang menitipkan nanti dia datang sekarang tante Arini sedang istirahat, tekanan darahnya sedang tinggi," jelas Nayla.


Pikiran Aditya berubah bercabang dua, kemudian ponselnya berdering dan ternyata Arini yang menghubungi melalui video call mengatakan bahwa dirinya akan menyusul setelah tekanan darahnya normal, dirinya barusan terkejut mengetahui Rima dirawat bahkan sampai berpikir Rima keguguran namun ternyata tidak.


Rima yang mendengar merasa sedikit bersalah disaat dirinya pernah berpikir untuk menggugurkan kandungannya ternyata ada seseorang yang sangat mengharapkan anaknya, Rima bahkan merasa kasihan pada Arini dirinya berjanji akan menjaga janinnya demi Arini.


Mertuanya yang begitu baik hati.


Tetapi Rima tidak mengatakan langsung pada Aditya ataupun yang lainnya, dirinya berbicara dalam hati dan berjanji pada dirinya sendiri.


"Mana Rima, Mama mau lihat," pinta Arini dari balik sambungan telepon dengan video call.


Aditya pun mengarahkan ponselnya pada Rima, hingga perasaan Arini pun terasa lebih baik.

__ADS_1


"Aku cuma kecapean Ma, seminggu terakhir sebelum tahu aku hamil, aku memang sulit istirahat dan malas makan," jelas Rima dengan memaksakan diri berbicara saat rasa lemas masih terasa.


Arini tersenyum dan meminta Rima segera beristirahat, setelah itu memutuskan panggilan.


__ADS_2