
Hari-hari terus berlalu bahkan terhitung Vanya sudah lima belas hari bekerja untuk Sela di rumahnya
Artinya hanya menunggu lima belas hari lagi setelah itu Vanya pun terbebas dari segala perjanjian dengan Riki.
Tetapi akhir-akhir ini Riki merasa semakin tidak bisa berdekatan dengan Vanya. Karena hari-hari Vanya berada di sekolah bersama dengan Sela, apa lagi sudah menjadi guru tetap di sekolah.
Artinya jika pun sudah tak bekerja untuk Riki maupun Sela, tetap mengajar di sekolah.
Ditambah lagi beberapa hari ini yang mengantarkan Vanya ke sekolah bersama Sela adalah Andika.
Rasanya kesal sekali, mengapa Papanya itu tidak meminta dirinya yang menggantikan seperti beberapa hari yang lalu.
Bahkan Vanya saja kini selalu menolaknya saat akan mengantarkan pulang bahkan Vanya menolak untuk di jemput.
Lihat saja pagi ini, padahal Riki sudah membawa mobil mewahnya.
Tetapi Vanya lebih memilih lelaki dengan sepeda motornya yang menunggu di depan rumah.
Hingga Riki hanya bisa mendesus saja, sampai akhirnya Riki pun tak lagi sanggup untuk terus-menerus seperti ini.
Sungguh keadaan ini sangat menyiksa dirinya, sehingga otaknya harus berputar untuk mencari jalan keluarnya.
Belum juga Riki selesai memikirkan Vanya, tiba-tiba wanita itu sudah muncul.
Vanya datang ke kantornya di sore hari ini.
__ADS_1
Bibir Riki pun mendadak tersenyum, dirinya tahu pasti wanita tersebut juga merindukan dirinya.
Tapi ternyata dugaan Riki meleset, kedatangan Vanya hanya untuk mengembalikan sebuah kartu kredit milik Riki.
"Om, aku udah shopping di Mall. Dan ini kartunya aku balikin, takutnya nanti aku terus-terusan belanja," Vanya pun memasang senyuman dengan semanis mungkin.
Berharap Riki tidak marah karena sudah membuat tagihan kartu kredit tersebut cukup membengkak.
"Aku juga sempat beliin ini untuk Om," Vanya meletakkan sebuah paperbag, kemudian berpamitan untuk pergi.
Riki hanya melihat pintu yang perlahan tertutup, kemudian melihat paperbag dihadapannya.
Dengan segera Riki pun meraihnya dan melihat isinya, ternyata sebuah kotak kecil.
Sesaat kemudian Riki pun membukanya dan ternyata isinya sebuah jam tangan.
"Dia, dari keluarga biasa. Tapi setiap kali memilih barang selalu barang mahal, dari mana dia tahu barang asli atau tidak?" Riki benar-benar bingung di buat Vanya.
Karena Riki menyadari setiap kali membeli wanita itu membeli barang tak pernah Vanya membeli yang biasa, malahan selalu barang dengan harga puluhan juta bahkan ratusan juta.
Tapi sudahlah, mungkin juga Vanya memang pencinta barang-barang bermerek.
Tidak ada patokan hanya orang dari kalangan berada yang boleh menyukai barang mahal bukan?
Memilih untuk fokus pada apa yang diberikan oleh Vanya jauh lebih baik.
__ADS_1
Riki pun melihat jam tangan yang diberikan oleh Vanya, kemudian memakainya. Tersenyum saat terlihat begitu bagus ditangannya. Hingga akhirnya Riki pun melihat sebuah kertas.
'Makasih Ya Om, aku udah dibolehin shopping. Jam tangannya juga dibeli pakai kartu kredit Om, jadi aku cuma bantuin pilih doang, hihi:)'
Tak lupa sebuah emoticon senyuman terlihat di sana. Sudah pasti Vanya sendiri yang membuatnya berikut dengan nama si penulis juga tidak tertinggal.
Padahal sudah jelas memang Vanya yang memberikannya. Wanita itu memang stok langka, kemana Riki bisa menemukan gadis unik seperti Vanya.
Bahkan lebih aneh lagi, sudah jelas ada namanya di kalimat atas, tapi bukan Vanya namanya jika tidak aneh.
Baru begini saja Riki sudah dibuat senyum-senyum sendiri, apa lagi jika terus berdekatan? Mungkin juga jika tidak aneh Riki tak akan pernah bisa tertarik sama sekali.
"Dia itu menang lucu," Riki pun mengusap jam yang kini terpasang dipergelangan tangannya, tersenyum menatap jam tersebut.
Entah mengapa dirinya menjadi bertanya-tanya apakah mungkin dirinya sudah benar-benar jatuh hati pada Vanya?
"Ya, aku sudah jatuh cinta pada seorang anak bau kencur. Baiklah, dia harus ku dapatkan!" Riki pun bangkit dari duduknya, saat ini mendapatkan Vanya adalah tujuan utamanya.
Cukup sudah Riki menghukum dirinya sendiri dengan mendiamkan Vanya selama beberapa hari ini berbuat sesukanya. Termasuk menolak ajakannya saat di antar pulang. Kurang ajarnya menolak karena ada lelaki bau kencur yang kini sudah menjadi kekasih wanita tersebut.
Tidak masalah.
Hanya sebatas kekasih saja, lagi pula Riki percaya jika bersaing dengan cara santai pun pasti dirinya yang akan menang.
"Vanya, siapa nama panjang wanita ini? Kenapa begitu sulit untuk menemukan identitas aslinya," Riki menatap wajah Vanya pada layar ponselnya.
__ADS_1
Semakin hari semakin menyiksa, padahal wanita itu hanya diam tanpa bergerak menggodanya sama sekali.
Tapi bocah itu memang sulit untuk di dapatkan, meskipun uang sudah diberikan. Malahan hanya uang yang di pakai tapi tetap saja Riki di acuhkan.