
"Bunda, aku nggak ngapa-ngapain sama Om Riki. Lagian juga apa salahnya memberikan kesempatan kepada Om Riki untuk berubah, apakah tidak ada kesempatan untuk menjadi seorang yang lebih baik?"
"Semua orang berhak menjadi lebih baik, tetapi tidak dengan menjadikan kamu sebagai bahan percobaannya."
"Bunda," Vanya pun terdiam sejenak karena Devan yang mulai memasuki kamarnya.
Bahkan Vanya juga melihat Ninda yang berdiri diambang pintu dengan segera Ninda pun pergi.
Sebab dirinya takut pada Devan.
Lihat saja tatapan Devan sangat menusuk bahkan terkesan begitu mematikan.
"Ini black card dan kartu yang lainnya. Gunakan sesuai dengan keinginan mu! Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk mengemis pada orang lain."
Devan benar-benar memberikan semua fasilitas yang dimiliki oleh Vanya, asalkan putrinya itu tidak lagi berhubungan dengan Riki.
Apapun akan dilakukan oleh Devan asalkan putrinya tidak menikah dengan Riki.
"Ayah apaan sih, Om Riki baik tahu, Yah," Vanya pun melemparkan tubuhnya pada ranjang, sama sekali tidak bersemangat menyambut pagi harinya.
Ini semua karena Riki.
"Diam!" Bentak Devan.
"Ayah jahat, Ayah nggak sayang sama aku!" Vanya pun menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya.
"Vanya, dengarkan Bunda dulu."
"Nggak mau!"
"Vanya, menikah itu tidak mudah. Menikah itu tidak hanya masalah kebahagiaan. Tetapi, juga banyak rintangan, tidak mudah, Nak," Nayla pun berusaha untuk menasehati anaknya, lebih baik lagi jika Vanya melupakan Riki.
"Bunda aja yang terlalu dramatis!"
"Kalau kau masih nekat berhubungan dengan pria duda itu, kau akan Ayah kirim keluar Negeri!" Ancam Devan tidak main-main, meskipun dirinya sendiri tidak ingin berjauhan dengan putri kesayangannya tersebut.
Tetapi, jika demi kebaikan Vanya semua akan dilakukannya.
"Namanya Riki, Ayah!"
"Perduli setan dengan namanya!"
Devan pun segera pergi dari kamar anaknya tersebut, hingga yang tersisa hanya Nayla dan juga Vanya saja.
Vanya pun keluar dari persembunyiannya berharap Nayla bisa menolong dirinya.
"Bunda, bantuin aku. Aku sayang banget sama Om Riki," Vanya pun memeluk Nayla yang duduk di sisi ranjang.
Berharap hati ibunya yang lembut itu akan luluh setelah mendengarkan keinginannya.
Lagi pula Vanya tahu hati Nayla tidak sekeras hati Ayahnya, jika Nayla yang berbicara pada Devan mungkin juga akan di dengarkan.
__ADS_1
Sebab selama ini Devan sangat menghargai apapun yang dikatakan oleh istri tercintanya itu.
"Vanya..."
"Bunda. Aku sama Om Riki saling suka. Saling sayang, salahnya di mana kalau kami ingin menikah?" Vanya berbicara dengan suara pelannya, berharap Nayla mengerti akan keadaannya.
"Tidak semudah itu Vanya, usia mu juga masih sangat muda. Masa depanmu masih panjang Nak."
"Bunda, aku mohon. Memangnya aku nggak boleh bahagia?"
Nayla pun menundukkan kepalanya, air matanya kembali menetes begitu saja.
Membuat Vanya merasa bersalah karena dirinya yang menyebabkan air mata wanita yang sudah melahirkannya itu tumpah ruah tanpa hentinya.
"Bunda, maaf. Maksudnya aku nggak gitu."
"Memangnya kamu hanya bahagia bersama dengan Riki? Tidak bahagia dengan hidup bersama Bunda dan Ayah?" Mata Nayla yang berkaca-kaca menatap anaknya, Nayla sungguh ingin mendengarkan seperti apa perasaan Vanya saat ini.
Vanya pun tidak mengerti harus bagaimana lagi, tetapi tidak ada niatnya untuk menyakiti perasaan Nayla sama sekali.
"Bahagia, cuma aku juga pengen bahagia dengan Om Riki. Aku juga mau punya rumah tangga yang bahagia seperti Ayah dan Bunda," kata Vanya lagi berusaha untuk meyakinkan Nayla.
"Seperti, Bunda?"
"Iya, seperti rumah tangga Ayah dan Bunda."
Nayla tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Vanya, sebab semuanya tidak mudah.
"Bunda kenapa?" Vanya menyadari saat Nayla terdiam seakan larut dalam pikirannya.
Nayla pun menggelengkan kepalanya, kemudian mengusap air matanya dengan secepat mungkin.
Mencoba untuk menatap Vanya dan ingin meyakinkan putrinya bahwa menikah muda bukanlah hal yang tepat, apa lagi menikah dengan seseorang yang sudah diketahui seperti apa kejahatannya terhadap wanita.
Sama saja Nayla menyerahkan anaknya pada penderitaan jika membiarkan semuanya terjadi.
Tidak mungkin, Nayla tidak sanggup melakukan hal itu. Vanya terlalu berharga, bahkan melebihi dari nyawanya sendiri.
"Tidak semudah yang kamu bayangkan Vanya, untuk kali ini Bunda sepakat dengan Ayah. Usia kamu masih sembilan belas tahun, bulan depan baru memasuki yang ke dua puluh tahun. Kemudian, kuliah kamu juga belum selesai, menikah butuh mental yang kuat. Karena cinta saja tidak cukup untuk membuat rumah tangga tetap bahagia," Nayla pun bangun dari duduknya, meninggalkan Vanya sendiri untuk menyendiri dan berpikir tentang apa yang barusan dikatakannya.
Agar Vanya pun mengerti bahwa apa yang kini diputuskan oleh dirinya dan Devan adalah demi kebaikan Vanya sendiri.
"Bunda!" Seru Vanya.
Namun, Nayla tidak perduli. Dirinya memilih untuk pergi. Karena tidak ada lagi penawaran akan semuanya, Nayla ingin yang terbaik untuk anaknya.
Sementara Vanya semakin merasa kesal dengan keputusan ini, melempar bantal guling hingga akhirnya kamarnya berantakan.
"Kenapa mereka jahat!" Vanya pun berteriak, kemudian menangis dengan sekerasnya karena merasa tidak ada yang berpihak pada dirinya.
Kesal sekali pada keputusan yang diberikan oleh Devan dan Nayla yang menurutnya hanyalah sepihak saja.
__ADS_1
"Kenapa sih? Apakah aku nggak boleh bahagia?"
Vanya terus saja berteriak dan melempar apa saja yang ada di sekitarnya, tidak perduli itu barang mahal sekalipun.
Karena saat ini perasaan kacau benar-benar membuatnya hampir gila saja.
Hingga pintu kamar pun terbuka, tampak Ninda di sana.
Bahkan hampir saja sebuah vas bunga mendarat di kepalanya.
Tentunya Vanya yang melemparkan, tetapi tidak juga kesalahan ada pada Vanya.
Karena, Ninda yang masuk tanpa permisi. Tanpa bicara sama sekali.
"Auw!" Seru Ninda, sementara kedua tangannya memegang kepalanya untuk melindungi dirinya.
Hingga sesaat kemudian menggosok dada, karena vas bunga berakhir di lantai tanpa menyentuh kepalanya.
"Ninda?" Vanya terkejut melihat kehadiran sahabatnya itu, bahkan tidak menyangka Ninda menemuinya.
"Maaf, aku masuk nggak ijin dulu," Ninda pun tersenyum kecut menyadari kesalahannya.
"Ya nggak apa-apa, tapi kamu nggak apa-apa juga, kan? Maaf ya, aku nggak tahu kamu masuk," kata Vanya benar-benar penuh penyesalan.
Ninda pun mengangguk.
"Boleh aku masuk?"
"Kamu udah masuk, Ninda!"
"Oh, iya," Ninda pun merasa bodoh, sebab mengapa harus meminta ijin lagi, sudah jelas dirinya berada di dalam kamar Vanya. Ini aneh sekali.
Namun, Vanya malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah Ninda yang lucu.
"Ahahahhaha,"
Lantas bagaimana dengan Ninda?
Malahan Ninda yang mengira Vanya sudah gila karena hubungannya dan Riki ditentang keras oleh keluarga.
"Vanya, kamu nggak apa-apa, kan?" Ninda pun memegang kepala Vanya.
Hingga Vanya pun menepisnya.
"Aku masih waras!"
"Syukurlah," Ninda pun merasa lega.
"Emangnya kamu pikir aku gila?"
"Hehehe."
__ADS_1