
"Dengar nggak sih!"
Sulit sekali bagi Vanya untuk berbicara dengan seorang Riki.
Selain karena sulit mendapatkan jawaban benar, sulit juga untuk di mengerti mengapa lelaki aneh itu suka senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas.
Padahal menurut Vanya tidak ada yang lucu sama sekali.
Tetapi malah laki-laki aneh itu lagi-lagi tersenyum melihatnya marah.
"Om, dari pada gila. Mendingan beliin aku es krim," Vanya pun membentuk tangannya sedemikian rupa sehingga terlihat seperti seseorang yang bersiap-siap menembak sesuatu.
Sesuai arah yang di tunjuk yaitu penjual es krim yang tak jauh dari penjual bakso dimana barusan keduanya menikmati bakso sederhana namun begitu nikmat.
Riki pun seperti seorang yang sedang mengasuh seorang anak kecil.
Vanya adalah anak kecil dadakan yang mendadak membuatnya menjadi pengasuh dadakan pula.
"Om, beli es krim!"
"Ya."
Dengan segera Vanya pun berlari menuju penjual es krim, tak di sangka ternyata si penjual begitu tampan membuat mata Vanya tak mampu berkedip sedetik pun.
"Ya ampun," mata Vanya berbinar seketika merasakan sesuatu yang luar biasa.
"Pesan apa Mbak?" Tanya penjual tersebut.
"Jangan panggil Mbak, panggil Ayang ajah," Vanya pun berseru dengan penuh kebahagiaan, sungguh wajah pria itu begitu meneduhkan hatinya
Riki hanya diam melihat kelakuan Vanya, ada rasa kesal yang sebenarnya ingin meluap begitu saja.
Si penjual malah tersenyum saat melihat kelucuan Vanya, tapi sedikit banyaknya dirinya juga mengagumi kecantikan seorang wanita yang sedang menggoda dirinya.
"Rasa apa?" Tanya penjual dengan senyuman.
"Rasa rindu yang tidak dapat tertahankan," Vanya pun melompat-lompat kegirangan, betapa dirinya sangat menikmati keindahan yang terpancar di matanya.
Siapa lagi kalau bukan penjual es krim.
Tanpa tahu ada yang sedang terbakar api kecemburuan hanya saja pria itu tidak menyadari sampai saat ini tentang perasaannya sendiri.
Tetapi sesaat kemudian Riki pun menarik daun telinga Vanya, kemudian membawanya pergi tanpa membeli es krim sama sekali.
"Aduh, aduh Om," Vanya pun di paksa masuk ke dalam mobil, sesaat kemudian barulah Riki melepasnya.
Tangan Vanya langsung menggosok-gosok telinganya, rasanya cukup nyut-nyutan.
Hingga akhirnya Riki pun ikut masuk ke dalam mobil, duduk di kursi kemudi sambil menatap dirinya.
"Kau itu sangat centil sekali! Apa kau lupa kalau kita ini sepasang kekasih?"
Jika saja orang lain yang membuatnya marah mungkin saat ini sudah babak belur di buatnya.
Beruntung juga wajah Vanya menggemaskan, sehingga Riki tidak bisa berbuat kasar.
Padahal dirinya sangat kesal melihat Vanya seperti barusan.
"CK, apaan sih!" Vanya merasa tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Riki.
__ADS_1
Bahkan saat itu juga dirinya terpaksa menyetujui untuk menjadi kekasih Riki.
Lagi pula dari mana datangnya kekasih jika dengan cara di paksakan, yang namanya kekasih harus saling menyukai, mencintai dan sama-sama ingin memiliki.
Sedangkan Vanya tidak sama sekali, mungkin lebih seperti tawanan di buat Riki.
Lantas apakah mungkin masih pantas di sebut sebagai pasangan kekasih?
Aneh, namun begitulah adanya.
"Jangan bilang kau lupa!" Tebak Riki.
Riki tak ingin Vanya terus saja mengulang hal yang sama, baik saat bersama dengan dirinya ataupun terlebih saat tidak bersama dengan dirinya.
"Dasar aneh!" Gerutu Vanya tak terima dengan apa yang di katakan oleh seorang Riki.
"Jadi wanita itu jangan genit!"
"Om, dengar ya aku ini nggak genit. Cuma aku sedang mencari masa depan!"
"Masa depan apa? Tidak ada masa depan!"
Riki pun memilih untuk mengemudikan mobilnya dari pada mendengarkan penjelasan Vanya yang sama sekali tidak berguna itu.
"Lah, kok nggak pulang?" Vanya malah bingung saat menyadari Riki tidak mengantarkan dirinya untuk pulang melainkan menuju kantor.
Apakah mungkin Vanya harus menemani Riki lagi seperti kemarin.
Riki tidak perduli sama sekali, baginya saat ini Vanya harus terus bersama dengan dirinya karena jika tidak wanita itu bisa saja melakukan banyak hal aneh lainnya.
"Turun!"
Vanya berjalan di belakang tubuh tinggi Riki sambil melihat sekitarnya, hingga Vanya bertemu dengan seorang pria yang tak lain teman sekampusnya.
"Rangga?" Sapa Vanya.
"Vanya, kamu di sini?" Rangga cukup terkejut melihat Vanya yang berada di sana, tetapi dirinya juga cukup bahagia.
"Iya," Vanya pun mengangguk.
"Kamu?"
"Aku menjemput Kakak sepupu ku yang kerja di sini," jelas Rangga.
"Gitu, ya udah. Sampai ketemu lagi ya."
"Nanti aku chat."
Vanya pun tersenyum kemudian pergi menyusul Riki yang sudah memasuki lift menuju ruangannya, akhirnya Vanya hanya menaiki lift umum. Tidak bersama Riki yang memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
Vanya pun langsang masuk, ternyata Riki sudah duduk di kursinya. Sedangkan Vanya udak tahu harus melakukan apa saat ini. Duduk di sofa sambil memainkan game hanya itu yang di lakukannya.
"Om, apa Tante Sela udah pulang dari luar kota? aku pengen ke sekolah," kata Vanya.
"Keluar kota?" Riki malah kembali bertanya, sebab Sela sama sekali tidak kemana-mana.
"He'um, kan kemarin itu katanya Tante Sela keluar kota. Jangan bilang lupa, kalau lupa aku panggil Opa," kesal Vanya.
Riki pun kembali mengingat saat-saat kemarin, kemudian dirinya mulai mengerti. Karena memang Vanya tidak tahu jika Sela hanya bermaksud ingin menyinggung dirinya. Bukan benar-benar ke luar kota.
__ADS_1
"Om!" Vanya sangat kesal, sebab Riki hanya diam tanpa menjawab.
"Mama belum pulang!" Bohong Riki, sebab tak ingin Vanya pergi dan meninggalkan dirinya bekerja.
Riko tidak bisa fokus bekerja jika tidak melihat Vanya duduk di depan matanya.
Mungkin saja matanya itu sangat suka pada mainan baru tersebut, aneh dan sedikit menggemaskan hingga membuatnya begitu nyaman.
"Lama banget ya Om," Vanya mengambil ponselnya dan melihat kalender.
"Om, hubungan antara perjanjian kita tinggal dua puluh hari lagi. Setelah itu aku bebas dan kita tidak ada lagi masalah ya"
Riki pun mengangkat bahunya, menurutnya sama sekali tidak masalah karena Vanya pun hanya sekedar mainan.
"Jangan sampai nanti Om sedih karena aku udah nggak bisa lagi ikut aturan Om. Ataupun nggak ketemu lagi seperti ini, lagian aku juga bakalan sibuk kuliah, jangan kangen ya Om," celetuk Vanya penuh dengan kebahagiaan.
Walaupun kebahagiaan untuk kebebasan masih membutuhkan waktu dua puluh hari lagi. Tetapi bukan Vanya namanya jika tidak bisa ceria seperti apapun keadaannya.
"Malahan aku takut kau yang merindukan ku!" Jawab Riki tanpa melihat Vanya yang masih duduk di sofa.
"Mmmmfffffpp....." Vanya menahan tawa saat mendengar apa yang di katakan oleh Riki.
"Percaya diri boleh Om, tapi jangan terlalu, ya. Takulnya nanti galau," seloroh Vanya dengan menahan tawa yang Ingin keluar begitu saja.
Hingga sesaat kemudian sebuah bolpoin pun melayang, hampir saja mengenai wajah Vanya.
"Om! Gimana kalau kena muka aku yang cantik dan mulus ini?"
Riki hanya diam dan tidak perduli sama sekali, lagi pula dirinya memang tidak berniat melemparkan bolpoin itu pada wajah Vanya.
Melainkan hanya sebuah kekesalan dan sudah memastikan terlebih dahulu tidak mengenai wajah Vanya, barulah bolpoin itu melayang di udara.
"Kasar banget sih jadi orang." Vanya pun menggerutu kesal. Kemudian mendadak Vanya mengingat kejadian pagi tadi dimana Vanya terbangun di atas ranjang Riki.
"Om, kenapa bisa aku tidur di atas ranjang?"
"Lalu kalau bukan di ranjang tidur di mana?"
"Dasar kaleng roti. Maksudnya kok bisa aku tidur di atas ranjang Om. Perasaan aku kan duduk di sofa!" Meskipun penuh dengan kekesalan, tetapi tetap saja Vanya berusaha untuk membuat Riki mengerti dengan apa yang kini sedang di pertanyakan nya.
Riki tidak ingin menjawab apapun, dirinya milih fokus pada laptopnya.
"Om!" Vanya pun berseru kesal pada Riki.
Kapan laki-laki jelek itu bisa bicara dengan benar, kenapa terus saja membuatnya emosi.
Vanya tidak lagi miliki kesabaran, hingga akhirnya bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendekati Riki.
Tanpa sengaja Vanya menginjak kaki Riki, hingga akhirnya Riki pun terkejut saat merasa sakit pada kakinya.
Tubuh Vanya pun mendadak kehilangan keseimbangan, sesaat kemudian terjatuh di lantai.
"Aduh!" Vanya pun menggosok bokongnya yang terasa sakit.
"Dasar aneh"
"Tolongin!"
Riki pun hanya diam tanpa perduli sama sekali.
__ADS_1