Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kamu bisa melihatnya sendiri!


__ADS_3

Sampai di depan ruang operasi, Alex harus melepaskan tangan Jessica.


Tapi tidak, Alex masih menggenggam nya dengan erat tanpa ingin melepaskan sama sekali.


Genggaman itu bukan sekedar tidak ingin dilepas, tapi juga karena takut ini akan menjadi yang terakhir kalinya keduanya saling menggenggam tangan.


"Sebentar," Jessica meminta untuk sejenak berhenti mendorong brankar, tepat di depan pintu ruang operasi yang sudah terbuka lebar.


Jessica menatap Alex yang terus saja menatapnya penuh air mata.


Jessica menggenggam erat tangan Alex, setitik air mata yang menetes dengan bibir yang tersenyum.


"Aku tidak apa-apa," kata Jessica dengan nada suara bergetar.


Alex menggeleng dan tidak tahu harus berkata apa, kondisi ini sangat membuatnya menjadi tidak berdaya.


"Tapi aku punya satu keinginan," pinta Jessica.


Alex pun menatap manik mata Jessica, menantikan apa yang akan dikatakan oleh wanita yang dicintainya dari dulu sampai kini.


"Aku yakin aku akan baik-baik saja, tapi..." Jessica sejenak terdiam sebab mata Alex yang kembali menitihkan air mata.


"Tapi jika aku tidak ada setelah ini..." Jessica kembali terdiam saat Alex memeluknya dengan erat.


Alex menggeleng dan tidak ingin mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jessica.


"Aku sudah pernah melewati ini, tidak usah khawatir," Jessica masih berusaha untuk berbicara, padahal rasa sakit masih saja menggerogoti tubuhnya tanpa jeda.


"Aku takut," tutur Alex dengan suara yang bergetar.


"Aku takut kehilangan kamu" kata Alex lagi.


Sejenak keduanya terdiam Alex terus saja memeluk Jessica dengan eratnya, takut setelah ini mata Jessica tidak akan terbuka lagi untuk melihatnya. Sedangkan Jessica tidak membalas pelukan Alex sama sekali, bibirnya tampak membiru dan juga pucat seperti mayat hidup.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," kata Jessica lagi dengan suara pelan.


"Dokter, operasi tidak bisa semakin di undur," kata seorang Dokter senior yang ikut andil dalam operasi tersebut.


"Aku mencintaimu," bisik Jessica.


Jika pun tidak lagi bisa membuka matanya dan berbicara, paling tidak telinga Alex sudah mendengar kata cinta darinya secara jelas.


Alex pun terpaksa harus melepaskan diri, sekalipun sebenarnya tidak ingin sama sekali. Ungkapan cinta yang dikatakan Jessica memang membahagiakan, tapi itu saja tidak cukup. Alex ingin hidup bersama Jessica, bersama anak-anak nya, bersama dengan cinta Jessica yang sudah ada untuk nya.


Apakah Alex terlalu serakah untuk menginginkan semua itu?


"Dok, apa saya bisa masuk untuk menemani istri saya?" Pinta Alex.


Dokter tersebut menggeleng, melihat kondisi Jessica yang begitu memprihatinkan rasanya tidak mungkin.


Ditambah lagi Alex tampak begitu terpuruk dalam keadaan ini, tentu akan sangat menggangu konsentrasi para Dokter yang sedang menangani Jessica.


"Aku tidak apa-apa, kamu tidak percaya pada ku?" Tanya Jessica.


"Mohon pengertiannya Dok," kata Dokter tersebut sambil meminta perawat untuk mendorong brankar Jessica untuk sepenuhnya memasuki ruang operasi.


Perlahan tangan Jessica melepaskan tangan Alex yang terus menggenggam erat, begitu pun dengan Alex begitu berat melepaskan tangan Jessica. Hingga akhirnya terlepas juga, Jessica sudah berada dalam ruang operasi. Alex menanti di depan ruangan berharap istrinya bisa terselamatkan. Sesaat kemudian terasa ada tangan yang menepuk pundaknya. Alex hanya tertunduk dengan punggungnya yang bergetar seiring air mata yang terus saja meluncur.


"Dia membutuhkan doa," ujar Devan.


"Selamatkan dia." ucap Alex.


Devan mengangguk dan ikut masuk ke dalam ruang operasi, pintu pun tertutup rapat meninggalkan Alex dalam ketakutan.


Alex takut, sangat takut jika ternyata Jessica akhirnya pergi untuk selamanya, baru saja keduanya menikmati indahnya cinta. Indahnya rumah tangga yang sempurna, tetapi mengapa kini keadaan seakan mengancam tanpa rasa iba. Akankah cinta dan perjuangan bertahun lamanya harus berakhir saat ini. Berakhir setelah cintanya terbalas.


Ini terasa memilukan.

__ADS_1


Baru tadi malam telinga Alex mendengar Jessica mengatakan ada cinta pertama kalinya mengapa bisa kini jadi begitu penuh air mata.


"Dia sudah pernah di posisi ini, posisi dimana dia berjuang antara hidup dan mati demi memperjuangkan anak mu Cahaya. Kali ini pun tampaknya sama, bedanya kita tidak tahu apakah dia masih bisa membuka mata setelah ini," kata Rara.


Rara yang menjadi saksi betapa sulitnya Jessica berjuang demi melahirkan Cahaya, betapa sakitnya hidup dan berjuang sendiri tanpa seorang suami. Perjuangan Jessica tidak pernah mudah, dan Rara pun berdoa di saat itu. Dirinya ingin hanya sekali melihat penderitaan sang adik. Sayangnya tidak, semua tidak seperti yang di inginkan nya. Kini pun sama, Rara ternyata harus menyaksikan kembali dimana adiknya berjuang diatas meja operasi.


"Aku tidak tahu bagaimana cara mu mencintainya, hanya saja aku bingung mengapa cinta mu malah membawanya menderita. Jika ternyata Jessica tidak terselamatkan maka kamu adalah pembunuh Ibu dari anak mu sendiri!" Papar Rara penuh kecewa.


Alex hanya bisa terdiam, sesal tinggal sesal tiada bisa di ubah kembali. Semua kini menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya, dan dalam hati terus berdoa semoga istrinya baik-baik saja.


Beberapa saat berlalu, operasi masih terus berjalan. Alex pun masih menunggu dengan perasaan was-was.


Kali ini Nayla, Reyna dan Rima ikut menunggu di luar. Ketiganya baru sampai di rumah sakit setelah mengetahui keadaan Jessica yang mendadak pendarahan hebat hingga harus menjalani operasi mendadak.


Jam terus berputar, waktu pun terus berjalan dan pintu ruang operasi pun terbuka.


Devan bersama Dokter lainnya pun ke luar, wajah-wajah mereka tampak murung membuat tanda tanya besar.


Bahkan Nayla pun tidak berani bertanya kepada Devan, padahal dirinya sudah ingin mendengar seperti apa keadaan Jessica di dalam sana setelah operasi berlangsung.


"Bagaimana?" Tanya Alex dengan perasaan takut.


"Anak mu sudah berada di inkubator, dia butuh perawatan medis. Berdoa saja semoga bisa bertahan, setelah dilahirkan sebelum genap tujuh bulan di kandungan Ibunya," jelas Devan.


Alex merasa bersyukur, artinya masih ada harapan untuk bayi keduanya tersebut bisa bertahan hidup Lantas bagaimana dengan istrinya?


Devan belum mengatakan tentang Jessica, bukankah awalnya Alex bertanya langsung tentang Jessica.


Saat ini Alex hanya mampu meneguk saliva dengan leher tercekat. Perasaan takut mendengar berita terburuk tentang istrinya.


"Je... Jessica bagaimana?" Alex bertanya dengan suara yang bergetar, akan tetapi terus berusaha kuat dalam mendengar apapun yang akan dikatakan oleh Devan.


Devan tampak tidak memiliki semangat untuk mengatakan Jessica, bahkan dirinya hanya diam tanpa tahu harus mengatakan apa.

__ADS_1


"Devan?"


"Kamu bisa melihatnya sendiri, aku harap kamu kuat!" Devan menepuk pundak Alex, kemudian segera pergi. Tidak tega melihat kesedihan sahabatnya kini.


__ADS_2