Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Kakak senior..


__ADS_3

Baru saja Vanya keluar tetapi Riki sudah merasa tidak nyaman padahal Vanya baik-baik saja di luar sana. Walaupun sedikit kebingungan saat ini.


"Ya ampun, mana uang ku nggak ada," Vanya pun mengusap wajahnya karena saat dari rumah keluar bersama Riki tanpa membawa uang sama sekali.


"Vanya," sebuah sepeda motor pun berhenti tepat di depannya ternyata Rangga yang menyapanya.


Siapa itu Rangga?


Seorang Kakak senior di kampus yang menjadi idaman para mahasiswi. Dan kini malah menyapa dirinya, ini sangat membahagiakan sekali.


"Aku bersyukur putus dengan Sandi karena ada Rangga untuk selanjutnya," batin Vanya.


Vanya gadis periang yang tidak pernah galau dalam waktu yang lama mendadak kembali tersenyum penuh kebahagiaan.


Awalnya sempat berpikir jika menjadi jomblo dalam waktu hitungan detik setelah resmi berpacaran adalah sebuah hal yang menyakitkan. Pada kenyataannya tidak demikian karena kini mendadak bersyukur setelah putus.


"Hey!" Rangga pun menyadarkan Vanya dari lamunannya.


"Iya?" Tanya Vanya dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari bibirnya.


"Kamu mau pulang?"


"Iya, tapi nggak ada taksi," Vanya menyadari itu adalah kebohongan tetapi itulah yang dimaksud dengan kebohongan yang bermanfaat karena kalau mengatakan tidak memiliki uang rasanya sangat memalukan sekali.


Hihi.


Vanya memang wanita luar biasa dengan segala keanehannya yang juga tidak kalah luar biasa.


"Aku antarkan saja bagaimana?"


Vanya terperangah mendengar tawaran Rangga, ayolah Vanya.


Apakah ini benar nyata ataukah hanya sebuah mimpi saja.


Jika hanya sebuah mimpi maka Vanya tidak ingin terbangun karena dunia mimpi jauh lebih membahagiakan.


Bayangkan saja saat di sapa oleh idola kampus saja sangat membahagiakan, apa lagi di antarkan pulang?


Ini seperti sebuah kejutan.


"Bagaimana?" Tanya Rangga lagi karena Vanya hanya diam saja, tampaknya sedang memikirkan suatu hal.


"Emang enggak ngerepotin?" Vanya sebenarnya setuju bahkan sangat, hanya saja sedikit jual mahal.


"Tentu tidak, ayo."


Vanya tersenyum dengan bahagia kemudian ikut pulang di antarkan oleh Rangga menaiki sepeda motor.


"Ini baru kebahagiaan," batin Vanya.


Sepanjang perjalanan Vanya hanya diam saja, yang ada jantungnya terus saja berdetak kencang merasa sesuatu hal yang begitu indah. Hingga Vanya pun menyadari jika Rangga menepikan sepeda motornya.


"Kenapa?"


"Tidak ada, bagaimana kalau kita duduk santai dulu?" Rangga pun menunjukkan sebuah kedai kopi.


Vanya pun mengangguk setuju saja, kemudian keduanya berjalan beriringan.


Duduk dengan diam, sedangkan Rangga hanya melihat Vanya dengan senyuman.

__ADS_1


Tidak di pungkiri jika Vanya begitu cantik hingga membius banyak lelaki, terutama teman-teman Rangga yang juga tanpa Vanya tahu sedang mengincar Vanya.


"Kapan kamu kuliah?"


"Masih libur."


"Begitu," Rangga pun mengangguk mengerti, kemudian keduanya kembali bercerita banyak hal.


Mulai dari kampus sampai akhirnya memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah Vanya langsung menuruni sepeda motor milik Rangga, tersenyum dengan penuh kebahagiaan tak menyangka bisa begitu dekat dengan idola kampus itu.


"Nanti aku chat, boleh kan?"


"Tentu," Vanya pun tersenyum penuh kebahagiaan, ternyata memiliki kebebasan adalah hal yang sangat membahagiakan.


Sesaat setelah Rangga pergi Vanya pun bersorak gembira.


Mimpi apa semalam hingga dirinya bisa sangat beruntung di hari ini?


"Woy!" Ninda pun mengejutkan Vanya, karena merasa terganggu dengan suara teriakan Vanya. Hingga membuatnya keluar dari kamar, ternyata benar sesuai dengan tebakan. Vanya berada di teras dan berteriak persis seperti orang gila.


"Ninda!" Vanya bukannya marah malah menarik Ninda, kemudian memutar tubuh Ninda dengan penuh kebahagiaan.


"Vanya kamu kenapa?" Tanya Ninda semakin kebingungan bahkan dia takut Vanya sudah gila karena mendadak hidup di rumah sederhana milik kedua orang tuanya.


Mengingat Vanya adalah wanita yang berasal dari keluarga berada, kekayaan Ayahnya tidak dapat di hitung.


"Kamu tahu? Tadi aku di antarkan sama siapa?"


"Om Riki," tebak Ninda.


"Salah, bukan dia. Kenapa harus duda lapuk tersebut," Vanya tampak tidak suka saat Ninda hanya menyebutkan nama Riki saja.


"Memangnya hanya Duda Lapuk itu satu laki-laki di dunia ini?"


Tetapi tidak ingin terus berada dalam kekesalan karena Rangga jauh lebih membahagiakan baginya.


"Aku sama Kakak senior aku, dia keren parah. Aku sampai dak dik duk. Coba," Vanya pun mengarahkan tangan Ninda untuk memegang dadanya, merasakan detak jantungnya karena baru saja di antarkan oleh Rangga.


Sementara Ninda tidak merasa seperti apa yang di katakan oleh Vanya, tetapi belum sempat dirinya berbicara Vanya lagi-lagi sudah berbicara dengan suara nyaring.


"Temenin aku ke rumah aku yuk, aku mau peluk Ayah dan Bunda. Tapi jangan bilang-bilang itu ucapan terima kasih karena sudah memberikan kebebasan kepada ku ini," kata Vanya lagi.


"Aku ganti baju dulu, ya. Aku juga mau makan kue di rumah mu."


"Siap, Bu bos!" Vanya langsung memberikan ibu jarinya karena Ninda ingin memakan late di rumahnya.


Keduanya pun bersiap untuk berangkat menuju rumah besar milik Devan.


Sesampainya di sana, Vanya langsung berlari masuk kemudian mencari keberadaan Devan dan juga Nayla.


Bukan Vanya namanya kalau tidak heboh seperti anak kecil yang sedang berbahagia.


"Ayah!" Vanya melihat Devan sedang duduk bersama Nayla di sofa sambil menonton televisi.


Tetapi mendadak keduanya melihat putri mereka yang pulang ke rumah.


"Anak Ayah."

__ADS_1


Langsung saja Vanya menghambur memeluk kedua orang tuanya bersamaan.


"Ayah kangen."


"Bunda juga."


"Aku juga," Vanya memeluk Nayla dan Devan semakin eratnya.


Sedangkan Devan dan Nayla mencium pipi Vanya bersamaan pada masing-masing pipi anaknya itu.


"Kamu butuh kartu kredit dan lainnya?" Tebak Devan, maksud kepulangan putrinya. Tetapi, tidak menjadi masalah sama sekali.


Devan akan memberikan semua itu, lagi pula sudah cukup lama dirinya menghukum Vanya.


"Nggak dong, aku udah mandiri sekarang. Ternyata makan dari yang hasil jeripayah jauh lebih menyenangkan," dengan bangga Vanya menolak tawaran Devan. Kini dirinya sudah besar, sudah pintar mencari uang.


Mungkin suatu hari Vanya membutuhkan kartu-kartu yang ditawarkan oleh Devan.


Tetapi mohon maaf, tidak untuk saat ini!


"Wah, benarkah? Anak Ayah sudah mandiri?" Devan menahan tawa mendengar apa yang di katakan oleh Vanya, tetapi sedikit banyaknya Devan bangga terhadap perubahan sikap Vanya. Hidup bersama dengan Ina sangat membuat Vanya berubah menjadi seorang lebih baik.


"Iya dong, makasih buat hukumannya Ayah. Sekarang aku udah bisa masak," kata Vanya dengan bangganya.


"Wah benarkah?" Nayla sangat bangga mendengarnya, karena Vanya sangat sulit saat dirinya sering kali mengajak untuk memasak.


"Iya dong!" Vanya pun mengangguk dengan bangganya, bermaksud meyakinkan Nayla.


"Hebat anak Ayah," Devan memberikan ibu jarinya, memuji kehebatan putrinya kini.


"Masak apa?" Tanya Nayla lagi.


"Masak air," jawab Vanya.


Lenyap sudah senyuman manis di bibir Nayla dan Devan.


Awalnya keduanya sudah sangat bangga karena mengetahui bahwa putrinya sudah pintar memasak.


Tetapi semuanya benar-benar hilang seketika saat Vanya menjelaskan masakannya.


"Ayah, apa kita memikirkan hal yang sama?" Tanya Nayla pada Devan.


Devan pun mengangguk karena sudah jelas dirinya juga mendadak mematung mendengar jawaban Vanya.


"Mau buktinya nggak?" Vanya pun bersedia untuk di tantang, karena memang di tuntut sudah bisa memasak air.


"Tidak usah, duduk saja," tolak Nayla.


"Tapi aku juga bisa menggoreng telur, Bunda mau coba?"


"Boleh."


Vanya pun dengan bangganya menuju dapur kemudian kembali dengan telur dadarnya.


Devan dan Nayla meneguk saliva melihat telur dadar buatan Vanya berikut dengan tempurnya.


"Cobain dong Bunda."


"Ayah," Nayla menyenggol lengan Devan, ingin suaminya itu saja yang mencobanya.

__ADS_1


Devan menggaruk kepalanya merasa horor melihat telur dadar Vanya.


__ADS_2