
Di sepanjang perjalanan pulang Jessica hanya diam tanpa kata sambil memijat kepalanya yang terasa pusing, mungkin sudah beberapa hari ini.
"Kamu kenapa? ada sesuatu yang dipikirkan?" tanya Alex sambil memarkirkan mobilnya di depan rumah.
Jessica pun menggeleng kemudian segera turun dari mobil.
"Mommy," seru Cahaya saat menyambutnya di pintu utama.
Jessica tersenyum menatap putri cantiknya, wajah Cahaya selalu saja bisa meneduhkan hati ibu satu orang anak itu.
"Daddy," seru Cahaya kini melihat Alex yang menyusul masuk setelah Jessica.
"Anak Daddy belum tidur?" Alex segera menggendong putrinya dan mencium pipi imut Cahaya.
"Belum, sebentar lagi" Cahaya tersenyum sambil mencium pipi Alex.
Alex melihat Jessica langsung menuju kamar tanpa bicara satu kata pun sehingga menimbulkan tanda tanya.
"Aya, Daddy gerah mau mandi dulu, kamu tidur yah" Alex pun menurunkan Cahaya.
"Iya Daddy," Cahaya berseru kemudian berlari menuju kamarnya.
Sedangkan Jessica sudah berada di dalam kamar, perasaan was-was kian semakin dalam hingga akhirnya sebuah benda alat uji kehamilan pun menunjukkan dua garis merah, sebelum pergi menjenguk Rima, Jessica sudah menggunakan alat tersebut hanya saja belum sempat melihatnya saat Alex memanggilnya dari luar kamar mandi membuatnya terburu-buru dan lupa akan benda kecil tersebut, namun saat kembali segera memasuki kamar mandi dan melihat benda itu, Jessica mendudukan dirinya di sisi ranjang menitikkan air mata yang tidak diundang tersebut.
"Kamu kenapa?" tanya Alex.
Alex melihat Jessica yang murung dari ambang pintu kemudian masuk karena terlalu penasaran, seketika matanya melihat benda kecil dengan dua garis, Alex pun mengambil alih dan melihat dengan jelas itu nyata dua garis merah itu terpampang nyata di depan mata.
"Ini punya kamu?" Alex sangat berharap Jessica mengatakan iya, walaupun hanya anggukkan kepala saja.
Mata Jessica berkaca-kaca seakan menahan beban yang begitu dalam, namun ada perasaan membingungkan juga, walaupun akhirnya mengangguk lemah, ini bukan musibah tetapi sebuah kebohongan yang luar biasa jika saja tanpa resiko yang harus ditanggungnya, rahim yang sudah rusak akankah masih bisa bertahan? bertahan untuk dirinya dan juga janinnya.
__ADS_1
"Alex aku..." Jessica hanya bisa terdiam saat melihat senyum Alex.
Memeluknya dengan erat tanpa ingin melepaskan, senyum kebahagiaan terpancar jelas dari raut wajah suaminya tersebut.
"Aku senang sekali tidak usah khawatir aku akan menjagamu, menjadikan mu ratu dan siap untuk cuti sementara sampai kamu melahirkan anak kita, agar kamu dapat perhatian yang penuh dari aku" ucap Alex tanpa ingin melepaskan Jessica dari dekapannya.
Tidak tahu harus mengatakan apa, mendengar Alex yang sangat mengharapkan janin tersebut seketika kembali terasa sesak di dada.
"Aku tahu kamu ragu sama aku," Alex berkata setelah berjongkok agar mengimbangi Jessica yang masih duduk di sisi ranjang menangkup wajah Jessica menatap mata istrinya tersebut dengan perasaan penuh cinta, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
mata Jessica yang berkaca-kaca seakan menahan rasa yang begitu dalam.
"Kamu ragu?"
Jessica pun hanya menggeleng sebagai jawaban, tidak mengerti seperti apa caranya mengatakan pada Alex, bagaimana dan seperti apa nantinya reaksi Alex.
"Jangan takut, aku senang sekali, kamu juga bahagiakan kan? aku yang dengan sengaja menukar pil KB mu, dengan vitamin penyubur kandungan" ucap Alex.
Jessica yang menunduk mendongak membalas tatapan mata Alex yang terus saja menatapnya, Alex mengetahui dirinya meminum pil itu? Jessica memang tidak bermaksud untuk menutupinya tapi tidak pernah juga memberitahukan kepada Alex masih menunggu waktu yang tepat, hatinya selalu tidak tega saat mendengar Alex mengutarakan keinginannya ingin memiliki anak lagi, matanya terus meneteskan air mata sekalipun tanpa menggerakkan kelopaknya.
"Kamu... kamu menukarnya?" hampir saja suara Jessica menghilang tetapi mencoba menguatkan dirinya untuk bertanya.
"Iya karena aku takut kamu pergi, aku mencintaimu! percayalah aku tidak sanggup untuk kehilangan mu apalagi untuk kedua kalinya" tegas Alex tanpa rasa ragu.
Jessica pun tertunduk tampaknya kali ini Alex benar-benar ingin meyakinkan dirinya tentang cinta yang besar itu, lantas bagaimana jika kali ini ternyata yang memisahkan mereka adalah maut?
Jessica terus menatap mata Alex dengan sejuta pikiran was-was, bagaimana jika Alex tahu janin itu akan sangat berbahaya bagi dirinya.
Akankah Alex memilih untuk tetap mempertahankan janin tersebut atau memilih untuk merelakan?
Lalu bagaimana dengan Jessica?
__ADS_1
Tidak mungkin!
Jessica tidak akan mampu untuk melakukan hal tersebut, kehidupan calon anaknya yang kini berada di dalam rahimnya, Jessica tidak akan bisa memilih hidup sedangkan janinnya yang tiada, bukankah seharusnya seorang Ibu bersedia berjuang untuk anaknya? lalu seperti apa malunya jika anak yang masih berbentuk segumpal darah itu yang berjuang untuknya?
Jessica tidak bisa!
"Kamu kenapa diam?" Alex merasa ada sesuatu yang janggal, tangisan Jessica menunjukkan kerapuhan bukan kebahagiaan.
Seperti yang seharusnya.
Bukankah seharusnya bahagia dengan keadaan ini? Jessica pun hanya menggeleng sebagai jawaban.
Memutuskan untuk tidak menceritakan tentang dirinya jika memang inilah saat-saat untuk berakhir.
Maka Jessica siap!
Anggap saja ini adalah kebahagiaan di sisa-sisa hidupnya, jika memang dirinya bisa lolos dari maut dan membesarkan anak-anaknya artinya itu adalah bonus.
"Aku nggak apa-apa, aku cuma bahagia!" Jessica pun menata senyum agar terlihat bahagia.
Bukan!
Tepatnya berusaha untuk bahagia.
Ingat! bukan berusaha bahagia.
"Kamu yakin?" tampaknya Alex belum yakin akan jawaban Jessica, namun senyuman Jessica lagi-lagi membuatnya luluh tanpa bisa menghindari, Jessica pun meletakkan tangan Alex di atas perutnya.
"Aku bahagia" kata Jessica tersenyum sambil melihat Alex.
Alex memeluk Jessica penuh rasa kebahagiaan tanpa tahu sebenarnya keadaan istrinya tengah berada dalam kekhawatiran.
__ADS_1
"Makasih, besok kita periksa di rumah sakit, aku yang akan menjadi Dokter pribadimu, hehe" Alex terkekeh penuh kebahagiaan.
Mungkin di kehamilan yang kedua ini bisa menebus saat Jessica mengandung anak pertamanya Cahaya.