Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Sangat lama untuk menunggu esok hari.


__ADS_3

Awalnya Vanya memang terbatuk-batuk karena shock, tetapi mendadak saat ini dirinya tertawa terbahak-bahak sambil melihat wajah Riki.


Bagaimana tidak tertawa, apa yang dikatakan oleh Riki sangatlah gila.


Apakah pria tua itu sedang mengigau sehingga bisa berkata dengan demikian.


Menikahinya?


Aneh sekali.


Sejenak Vanya berpikir jika Riki bukan hanya hanya seorang duda lapuk, tetapi juga duda gila.


Atau memang gila karena menjadi duda lapuk selama bertahun-tahun lamanya. Bahkan sampai membuat otaknya bergesar.


"Om, kalau becanda ternyata lucu juga ya. Baru tahu kalau Om bisa juga bercandanya," kata Vanya diselingi tawa kecil yang masih keluar dari mulutnya. Sungguh melihat wajah Riki mendadak mengocok perutnya.


Padahal tidak ada yang lucu semuanya terjadi karena adanya perkataan Riki yang ingin menikahinya.


Sedangkan Riki hanya melihat Vanya dengan datar, melihat ekspresi wajah Vanya dirinya menyimpulkan bahwa tak ada rasa ketertarikan yang dimiliki bocah ingusan di hadapannya itu terhadap dirinya.


Sejenak Riki bingung hingga hatinya bertanya-tanya penyebab Vanya tak tertarik padanya sama sekali, bagaimana cara untuk membuat wanita ini bisa menjadi miliknya.


Jika tidak ada cinta untuknya lalu bagaimana bisa wanita tersebut tetap bersama dengan dirinya?


Bisa saja Riki akan terluka lagi karena hanya dimanfaatkan saja.


Apakah Riki siap untuk terluka lagi seperti dahulunya, bedanya hanya dengan orang yang berbeda.


Baiklah, mungkin Riki bisa membuat bocah kurang ajar itu untuk jatuh hati terlebih dahulu padanya, sejatuh-jatuhnya agar tak pernah berpikir untuk pergi dari hidupnya ataupun berkhianat setelah menikah nanti.


Tidak masalah sedikit bersabar tetapi tujuan utama Riki saat ini adalah membuat Vanya mencintai dirinya.


"Om, tahu nggak kenapa matahari terbitnya dari barat?"


"Kenapa?" Tanya Riki dengan wajah seriusnya.


"Memang sudah begitu ciptaan Pencipta Nya. Itu aja nggak tahu," gerutu Vanya sambil terus mengunyah makanannya.


Tetapi sudahlah sampai di sini Riki semakin jatuh hati pada Vanya. Entah bagaimana caranya untuk membuat gadis ini jatuh cinta pula pada dirinya.

__ADS_1


Karena Vanya sudah terbit bersinar di hatinya, entah sejak kapan. Pastinya hanya beberapa hitungan hari saja. Pertanyaan saat ini, apakah dirinya begitu banyak kekurangan sehingga tidak ada rasa ketertarikan saat melihat dirinya.


"Om, aku mau pesan lagi, ya. Buat di bawa pulang, buat Ninda di rumah," tanpa perduli mendapat ijin atau tidak, Vanya langsung meminta pelayan untuk menyiapkan beberapa pesanannya lagi.


Pesanan untuk dibawa pulang untuk siapa lagi kalau bukan untuk Ninda.


Bahkan cukup banyak, tak perduli pada tagihan pembayaran yang membengkak. Karena yang membayar Riki bukan dirinya yang tidak memiliki cukup uang untuk membayar semuanya.


"Maaf ya Om, aku nggak bisa makan enak sendiri. Karena aku punya saudara di rumah," Vanya pun cengengesan persis seperti anak kecil.


Kemudian meneguk minumannya. Sesaat kemudian Vanya pun bersendawa dengan sengaja bahkan dengan suara kerasnya.


"Hehe, maaf Om. Abis enak," dalam hati Vanya sebenarnya tertawa terbahak-bahak karena menyadari kelakuan konyolnya.


Padahal sudah setiap hari dirinya memakan makanan tersebut.


Malah kini seakan tidak pernah sama sekali, percayalah ini hanya sebuah pendalaman karakter saja agar Riki percaya bahwa dirinya adalah seorang dari kalangan bawah.


Lagi pula apa bedanya kalangan atas atau bawah, pada kenyataanya sama-sama memakai oksigen gratis selama hidup ini juga. Kecuali saat sakit dan sesak napas barulah butuh oksigen tambahan di rumah sakit. Tidak dapat terbayangkan juga jika saja dirinya melakukan itu di hadapan kedua orang tuanya pasti akan terkena amukan yang sangat dahsyat.


Tapi memang saat ini Vanya bersama dengan Riki, maka dari itu berbuat sesukanya agar Riki kesal padanya.


Biarkan saja, lagi pula Vanya memang tidak menyukai Riki sama sekali.


"Terima kasih," Vanya membawa banyak makanan di tangannya.


Tidak perduli sudah berapa banyak pembayaran yang dikeluarkan oleh Riki.


Baginya hanya kesenangan saja, sesampainya di rumah Vanya langsung bergegas turun dari mobil.


"Sampai jumpa besok Om Riki," Vanya pun tersenyum dengan manisnya kemudian masuk ke dalam rumah dengan berlari kecil.


Sedangkan Riki pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Pikirannya kini hanya tertuju pada Vanya, kelinci kecil itu begitu lincah, cantik, menarik tapi sangat sulit untuk di dapatkan.


Entah bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan dan memiliki dengan sepenuhnya.


Riki ingin di cintai dengan tulus. Bukan hanya uang yang dapat membuat Vanya bersamanya, jika demikian artinya suatu hari Vanya bisa pergi dari hidupnya.


Hingga akhirnya Riki memilih menuju hiburan malam mungkin saja dapat menghibur malamnya yang kelam, dimana musik yang berdentum keras dengan di temani minuman yang memabukkan mungkin bisa membuat pikirannya menjadi lebih baik.

__ADS_1


"Bagaimana cara untuk mendapatkannya?" Riki memainkan gelas di tangannya kemudian meneguknya kembali.


Hingga ada wanita yang duduk di sampingnya menggoda dirinya. Dengan tatapan mata Riki yang tajam dan memerah membuat wanita tersebut menjauh dengan sendirinya.


Bahkan tanpa perlu Riki mengeluarkan kalimat cacian terlebih dahulu.


Hingga Riki pun memilih untuk pergi karena mendadak wajah wanita di sana berubah menjadi wajah Vanya.


Sesampainya di rumah Riki pun hanya duduk di sofa dengan ruangan yang gelap. Hanya cahaya rembulan dari luar sana yang meneranginya.


Riki pun mengambil ponselnya dari dalam saku celananya.


Tak di sangka ada sebuah pesan yang di kirimkan oleh Vanya sekitar dua jam yang lalu.


Dengan segera Riki pun membukanya dan bibirnya mendadak tersenyum setelah membaca pesan yang di kirimkan oleh Vanya.


( Om, makasih makanannya. Ninda jadi makan enak juga di rumah. Besok kan hari minggu aku mau shopping ke Mall, anterin ya Om ) Vanya.


Di seberang sana Vanya ingin menjadikan Riki sebagai supir dan juga seseorang yang bisa membawa banyak barang belanjaannya.


Karena apa?


Vanya ingin berbelanja sepuasnya, barulah mengembalikan black card milik Riki. Sedangkan Riki yang membacanya malah merasa tidak keberatan sama sekali, jika hanya untuk Vanya semua akan di lakukannya dengan hati yang begitu besar.


"Ini, jauh lebih baik dari pada di tempat hiburan malam"


Riki pun melihat jam dinding masih begitu lama untuk menunggu esok hari.


Apakah sebaiknya segera ke rumah Vanya saja? Tapi untuk apa? Ini masih terlalu malam.


Sungguh sangat lama untuk menunggu esok hari.


Sejenak Riki terdiam mengingat Vanya sudah memiliki seorang kekasih, entah bagaimana caranya untuk membuat lelaki itu menyingkir dengan cepat dari hidup Vanya.


Rasanya Riki tak bisa lagi untuk menunggu lebih lama, dirinya tak suka saat Vanya bepergian bersama dengan laki laki lain.


Dirinya pun tak suka ada laki-laki lain yang berdekatan dengan Vanya.


Lantas bagaimana caranya?

__ADS_1


Riki masih berusaha untuk berpikir keras hingga bisa menyingkirkan laki-laki itu.


Bahkan laki-laki manapun juga yang mendekati Vanya, karena hanya dirinya yang bisa memiliki bocah tengil itu.


__ADS_2