Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Hidup dengan masa depan bukan dalam masa lalu,


__ADS_3

Hingga akhirnya napas Vanya pun kembali normal setelah yakin dengan pakaiannya yang sudah rapi segera Vanya menuju kamar Sela yang memang hanya berada di lantai dasar. Tidak terlalu jauh melangkah menuju kamar Sela, hingga kini sudah berdiri di depan pintu kamar. Vanya pun mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.


Tok... Tok... Tok...


Pintu yang setengah terbuka tidak lantas membuat Vanya masuk tanpa ijin, sebab bagaimana pun juga dirinya hanya orang asing di rumah tersebut. Lagi pula Vanya sudah di ajarkan kesopanan oleh kedua orang tuanya semenjak kecil. Sementara Sela tampak tersenyum saat melihat Vanya di sana.


"Masuk sayang."


Vanya pun mengangguk kemudian masuk sesuai dengan perintah Sela.


"Ada apa, Tante?"


"Duduk," Sela pun menepuk ranjang kosong di sampingnya.


Hingga akhirnya Vanya pun duduk di sana, menantikan sesuatu yang akan di katakan oleh Sela nantinya.


"Tante mau mengucapkan terima kasih," Sela memegang kedua tangan Vanya, tampak hanya ada tatapan ketulusan yang terpancar dari matanya. Membuat hati Vanya terasa begitu tenang saat berada di dekat Sela.


"Sebelumnya, Tante ingin bertanya. Kamu serius menerima Riki sebagai calon suami mu?"


Vanya pun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Sela. Semuanya sudah begitu jelas, rasanya keraguan pun tidak lagi ada.


Apa lagi setelah apa yang barusan terjadi, rasanya Vanya yang tak pernah merasakan belaian panas dari lelaki malah candu akan belaian tersebut.


Kurang ajar.


Apakah Vanya sudah gila? Ataupun Riki yang mengajarkannya dewasa lebih awal.


Mungkin saja demikian, Vanya memang sudah terlalu jauh masuk pada sebuah pesona seorang duda yang dulu sangat di bencinya itu. Ternyata cinta dan benci seiring sehingga semuanya bisa berubah dalam sekejap saja.


"Tante, sangat bahagia mendengarnya," senyum bahagia di bibir Sela tidak pernah luntur, karena jawaban Vanya benar-benar membuat Sela merasakan kebahagiaan

__ADS_1


"Semalam, Riki mendatangi Tante dan mengatakan bahwa kalian berdua ingin menikah," Sela pun kembali mengingat peristiwa malam tadi. Di mana dirinya di buat shock dengan apa yang di katakan oleh Riki. Bahkan sempat menganggap Riki sudah tidak waras.


"Ma, aku akan menikahi Vanya."


"Apa? Kamu masih waras kan, Riki? Kamu anak satu-satunya Mama, tolong jangan membuat Mama takut, Nak," jawab Sela dengan memegang dadanya. Rasanya jantungnya berdegup kencang karena ketakutan, jika saja benar putranya sudah gila. Tetapi Riki meyakinkan dirinya bahwa benar jika dirinya dan Vanya akan menikah.


Hingga Riki pun akan membawa Vanya keesokan harinya untuk bertemu langsung dengan Sela. Tentunya agar tidak membuat Sela jantungan karena takut Riki yang sudah gila.


"Ma, aku sudah jatuh hati pada bocah itu. Dan, tidak menyangka tenyata Vanya juga menerima dan menyetujui untuk menikah karena aku sudah duda, untuk apa berpacaran seperti Anak Baru Gede saja,"


Sela pun mengangguk meskipun masih ragu. Hingga akhirnya pagi harinya Sela mendengar sendiri dari Vanya benar adanya rencana pernikahan keduanya.


Dan saat ini Sela selesai menceritakan apa yang sudah di ceritakan oleh Riki.


Tangannya masih saja memegang kedua tangan Vanya dengan eratnya. Menatap manik mata Vanya layaknya seorang Ibu yang sangat menyayangi anaknya


"Kamu tahu masa lalu Riki?"


Bahkan Vanya sudah pernah bertemu dengan mantan istri Riki saat di Mall dan tanpa di sengaja.


"Syukur, kalau kau sudah tahu. Karena, jika belum Mama yang akan menceritakan semuanya karena Mama ingin kamu mendengar dari Mama langsung lebih bagus lagi dari Riki."


"Om Riki udah cerita, Ma. Tapi, kalau Mama mau bicara lagi juga nggak apa-apa"


"Kamu benar dan Mama rasa Riki sangat beruntung bisa mendapatkan wanita seperti kamu," tidak ada hentinya memuji Vanya, sebab wanita itu memang terlihat baik dan sangat mudah membuatnya terhibur.


"Dulu, Riki pernah mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mencari seorang wanita dari kalangan bawah..." Sela pun sejenak diam sambil melihat ekspresi wajah Vanya.


Wajah Vanya seketika menatap Sela dengan penuh tanya, untuk itu Vanya memang tidak pernah tau.


Tetapi di mata Sela saat ini Vanya sedang khawatir karena berasal dari kalangan bawah.

__ADS_1


"Itu dulu, sebelum mengenal kamu. Setelah mengenal kamu, dia siap menerima mu apa adanya," tambah Sela lagi agar Vanya bisa lebih lega dalam mendengarnya.


Sementara Vanya sebenarnya bingung cara menjelaskan dirinya sebenarnya, apa lagi saat ini Sela sudah sangat menerima dengan keadaan yang seperti ini.


Tetapi bagaimana pun juga jika seperti itu kebenarannya.


"Vanya, kamu tidak usah khawatir, Riki mencintai seseorang itu dengan tulus. Jika sudah mencintai maka dia akan memberikan apapun pada wanita itu, dia akan bodoh jika sudah jatuh cinta. Mama mohon bahagiakan dia yang sangat mencintaimu," pinta Sela dengan penuh harap.


Vanya pun mengangguk lemah, mungkin untuk yang pertama kalinya Vanya seperti ini. Pendiam dan tidak memiliki kata-kata sama sekali.


"Kamu juga harus tahu, sebelum mengenal kamu dia sering berganti-ganti wanita. Mama takut kamu meninggalkan dia jika suatu hari kamu mendengarnya dari mulut orang di luar sana, itu memang benar Vanya," air mata Sela pun tumpah tanpa bisa terbendung lagi, hatinya takut dan tidak siap melihat kehancuran putranya untuk kali keduanya.


Sudah cukup yang berlalu, Sela sudah jera dan tak ingin melihat luka di mata anaknya lagi dan lagi.


"Ma, aku nggak akan mempermasalahkannya. Karena, kami hidup dengan masa depan bukan dalam masa lalu," jawab Vanya.


Sela pun tertegun melihat wajah Vanya, dirinya benar-benar tak menyangka Vanya yang konyol kini menjadi begitu bijak. Semoga saja Vanya tidak sedang labil mengingat usia yang masih sangat muda.


"Terima kasih, Mama akan memberikan sesuatu untuk mu," Sela pun memeluk Vanya dengan eratnya, cintanya terhadap calon menantunya itu tidak kalah besar dengan cintanya pada anaknya Riki.


"Jangan, nangis dong, Ma. Aku merasa bersalah kalau Mama nangis gara-gara aku"


Sela pun mengusap air matanya, air mata kebahagiaan penuh haru yang begitu luar biasa.


Bagaimana lagi, semuanya terjadi begitu saja. Hingga akhirnya Sela pun memberikan sebuah cincin


"Ini, sudah lama Mama beli. Dan, Mama berikan untuk kamu sebagai tanda kamu sudah jadi calon mantu Mama," kata Sela dan cincin itupun melingkar indah di jari manis Vanya.


"Ma, ini cincin mahal?" Vanya dapat memperkirakan nominalnya sehingga merasa tidak nyaman.


"Tidak masalah ini untuk anak Mama. Kamu anak Mama dan tidak boleh menolak hadiah dari calon Mama mertua, terima kasih sudah menerima Riki dengan masa lalu kelamnya," Sela pun memeluk Vanya kembali, dirinya benar-benar bahagia dan tidak ingin semuanya berlalu dengan begitu saja.

__ADS_1


Begitu pun dengan Vanya yang juga sangat terharu dengan kebaikan Sela.


__ADS_2