Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Di mana pun akan terasa indah.


__ADS_3

Sesampainya di meja makan Felix dan istrinya Cahaya, melihat keluarga lainnya. Hingga, sesaat kemudian muncul Adnan dan juga Rena. Dan yang menjadi pertanyaannya Riki.


Di mana pria duda itu sehingga tidak tampak terlihat diantara yang lainnya, bahkan semuanya sudah berada di sana.


Termasuk juga Vanya yang duduk di kursi meja makan, setelah diminta oleh Nayla untuk ikut makan bersama dengan keluarga calon suaminya sendiri.


"Felix, Riki di mana?" Tanya Nayla sebab tidak juga muncul sampai saat ini.


Felix pun mengangkat bahunya seakan tidak perduli sama sekali.


Lagipula dirinya sendiri tetap bisa makan dengan lahapnya tanpa Riki yang dibutuhkan hanya Cahaya.


"Adnan?" Tanya Nayla yang beralih pada putra keduanya itu, mungkin saja tahu tentang calon menantunya.


Namun, Adnan pun memilih untuk bungkam. Duduk di kursi meja makan dan melihat hidangan yang tersedia jauh lebih baik.


Masalah Riki biarkan saja menikmati hari-hari yang baru sebagai calon keluarga baru.


"Cahaya, Rena?" Nayla pun bertanya pada kedua menantunya yang tidak terbiasa berbohong itu.


Benar saja keduanya menunjuk arah tangga.


Nayla pun tidak ingin bertanya lebih panjang, sebab merasa ada yang tidak beres.


"Di kunci sama, Abang," jawab Cahaya dengan suara bergetar, karena takut pada Felix.


Apa lagi kedua orang tua Riki pun berada di meja makan, hanya saja keduanya terlihat santai. Bahkan, terkesan tidak perduli pada Riki.


Karena mereka sudah bahagia saat Vanya akan menjadi bagian dari anggota keluarga mereka juga.


Sementara di sisi lainnya Cahaya juga merasa kasihan pada Riki, bagaimana pun juga Riki adalah manusia, bukan kucing.


"Di kunci?" Tanya Nayla.


"Di kandang kucing aku, Bunda," tambah Rena menjelaskan.


Uhuk-uhuk, Vanya sampai terbatuk-batuk mendengarnya.


Tetapi, Vanya tidak berani melakukan apapun. Sebab, dirinya takut jika restu kembali di cabut.


Menyedikan sekali bukan.

__ADS_1


Tapi bagaimana dengan Kakanda Riki yang sedang berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan itu?


Entahlah, Vanya hanya bisa berdoa semoga calon suaminya itu tidak muntah karena bau kotoran kucing yang sangat menjijikkan itu.


"Kuncinya mana?" Nayla pun menadahkan tangannya.


Felix pun memberikannya tanpa rasa ragu, hingga akhirnya Nayla pun meminta Bik Ina untuk membukanya.


Namun, sesaat kemudian Bik Ina kembali dengan wajah paniknya.


Membuat yang lainnya kebingungan, apa yang terjadi.


Apakah ada hal yang jauh lebih buruk dari apa yang dipikirkan oleh Nayla saat ini.


Dasar Felix dan Adnan, ada-ada saja kelakukan kedua anaknya itu.


"Ada apa? Riki di mana?" Tanya Nayla yang tidak juga melihat kehadiran Riki.


"Maaf, Bu. Saya, nggak berani, ini kuncinya," Bik Ina langsung memberikan kunci pada Nayla, kemudian pergi melarikan diri dengan begitu saja.


Semakin membuat yang lainnya bertanya-tanya, terkecuali dua pelaku utamanya yang terlihat santai saja menikmati makanannya.


Tapi apakah masalah bagi kedua orang tua Riki? Sepertinya tidak.


"Tidak masalah Jeng, sebaiknya kita nikmati saja makan siang ini. Saya lapar sekali melihat makanan lezat ini," kata Sela yang memang tidak perduli pada apapun yang terjadi, semuanya harus dinikmati.


Bahkan merayakannya dengan makan siang yang begitu luar biasa.


"Vanya, kamu pergi susul Riki. Ini kuncinya," Nayla pun akhirnya memberikan kuncinya pada Vanya.


Vanya yang merasa mendapatkan lampu hijau tentunya sangat bahagia, segera bangkit dari duduknya dan menuju lantai dua.


Vanya melihat calon suaminya yang terkurung di dalam kandang kucing milik Kakak iparnya, dengan segera Vanya pun membukanya.


"Mas, baik-baik saja kan?"


"Hehe," Riki pun tersenyum, kemudian memeluk Vanya.


"Mas, jawab dulu dong. Nggak apa-apa kan?"


"Nggak papa, Ayang," jawab Riki.

__ADS_1


"Ih, Mas genit banget deh!" Vanya pun mencubit perut Riki dengan gemasnya.


Taukan rasanya jatuh cinta seperti apa? Sepertinya begitu banyak bintang yang bertaburan, kursi dan apapun perabotan di sana seakan dianggap menjadi saksi kebagian mereka berdua.


"Ayah, udah kasih restu. Bentar lagi kita kawin," kata Riki dengan senyum manisnya.


"Nikah Mas!" Kata Vanya ingin mengoreksi.


"Kawin itu hewan."


"Apa ajalah, yang penting kita bisa hidup bersama," kata Riki lagi, bibirnya terus saja tersenyum bahagia.


"Ya juga sih, hehe," Vanya pun ikut bahagia.


"Kita makan yuk, yang lainnya udah nunggu di meja makan," Vanya pun menarik tangan Riki.


Namun, Riki tidak mau. Malahan tidak ingin bergerak dari tempatnya.


"Kenapa?"


"Vanya, kita makan siang tidak usah gabung dengan mereka gimana?" Tanya Riki memberikan sebuah penawaran.


"Kenapa? Kan, hari ini untuk merayakan kalau kita bakalan jadi keluarga."


"Bukan gitu, tapi Mas pingin makan berdua sama kamu aja. Soalnya Mas kangen banget sama kamu."


Riki pun memberikan sebuah alibi, bukan berniat menipu Vanya.


Hanya saja dirinya bisa menjadi bahan hiburan di meja makan oleh dua orang calon Kakak iparnya yang mengesalkan itu.


Harga dirinya bisa rusak di hadapan Devan nantinya, bahkan sampai Riki lupa siapa dirinya.


Riki adalah seorang CEO, pengusaha sukses yang masuk dalam jajaran terkaya se Asia.


Mengapa malah mendadak kehilangan harga dirinya jika sudah bersama dengan keluarga calon istrinya.


"Gitu ya Mas, ya udah. Kita makan di dapur aja gimana?"


"Setuju," Riki pun memberikan jempolnya, jika sudah berdua saja di mana pun akan terasa indah.


Itulah yang kini dialami oleh dua orang anak manusia yang sedang jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2