Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Ke luar kota!


__ADS_3

"Aku kan udah minta maaf Abang" ucap Reyna.


Nanda sebenarnya tidak pernah marah, hanya saja dirinya sangat suka melihat wajah Reyna yang tiba-tiba menjadi manja. Dan itu akan terjadi saat melakukan kesalahan-kesalahan, berikut kata maaf yang terlontar. Sampai di rumah pun Nanda hanya diam saja, berbeda dengan Reyna yang masih saja meminta maaf pada Nanda.


"Nanda maaf." ucap Reyna lagi.


"Bereskan pakaian mu!" ucap Nanda.


Reyna pun mendadak memucat, Reyna tidak bisa jika Nanda menceraikan nya.


Apa cerai?


Otaknya yang berpikir negatif pun kembali berputar.


Apakah Nanda memintanya membereskan pakaiannya untuk di ceraikan? Untuk di pulangkan ke rumah kedua orang tuanya


Tidak!


Bagaimana kalau Reyna ingin dipeluk? Reyna tidak bisa tanpa Nanda. Ingin rasanya menangis, berteriak kencang.


"Nanda maaf, aku udah minta maaf. Tapi kenapa kamu malah mau ceraikan aku!" Seru Reyna dengan terus saja menangis tanpa hentinya.


Seketika raut wajah Nanda terlihat berubah mendengar kata cerai yang di utarakan oleh Reyna. Mengapa istrinya bisa menyimpulkan semua dengan mudahnya.


"Aku..." Nanda sampai tidak bisa berkata-kata karena Reyna seketika memotong perkataan nya.


"Nanda, aku nggak bisa kalau nggak di peluk kamu, gimana kalau debainya pengen di elus kamu? Pengen di teng..." Reyna pun mendadak terdiam saat menyadari kata apa yang keluar dari bibirnya.


Nanda menunggu kelanjutan dari kalimat Reyna barusan. Karena Reyna hanya diam dalam ketegangan, Nanda pun mulai bertanya.


"Pengen di teng...?" Nanda menatap Reyna dengan memicingkan matanya, menyimpulkan sendiri dengan pikiran kotornya.


"Itu Anu..." Reyna pun menegang sambil mencari kata yang tepat untuk mengalihkan perhatian Nanda.


"Pengen di teng...?" Tanya Nanda lagi.


"Pengen di tenggorokan," kata Reyna berusaha untuk mengelabui Nanda.


Nanda pun mengangkat sebelah alisnya, merasa bukan itu kalimat sebenarnya yang ingin keluar dari mulut Reyna sebelumnya.


"Iya, maksudnya ish..." Reyna pun tidak ingin melanjutkannya, lebih memilih untuk mengembalikan topik awalnya.


"Tadi kamu nyuruh aku buat beresin baju buat apa? Kamu mau cerai sama aku? Aku nggak mau! Aku nggak mau jadi janda muda, aku nggak mau anak aku nggak punya Ayah! Aku nggak mau!" Seru Reyna sambil menangis.


"Siapa yang mau? Aku juga tidak mau jadi duda!" Kata Nanda dengan konyolnya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Nanda seketika membuat Reyna kebingungan.


"Terus kenapa kamu minta aku beresin baju aku?" tanya Reyna.


"Aku mau ke luar kota, aku tidak bisa meninggalkan mu di rumah sendiri. Lagi pula apakah kamu bisa tidur nantinya kalau tidak di pijat, di usap dan segala macam nya?"

__ADS_1


"Oh" Reyna pun tersenyum malu, merutuki kebodohan nya sempat berpikir yang tidak-tidak.


"Hapus air mata mu!" ucap Nanda.


"Iya!" Ketus Reyna sambil menahan malu, tapi tangannya mengusap air matanya dengan cepat.


"Ayo masukkan pakaiannya!"


Reyna pun menuju kamar, kemudian membuka lemari dan memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam koper.


Nanda duduk di sisi ranjang memperhatikan Reyna yang tengah mengunci koper.


"Tapi aku masih penasaran dengan yang tadi," kata Nanda ingin melanjutkan pembicaraan sebelumnya.


"Yang mana?" Reyna pun merasa lega setelah selesai memasukan pakaiannya.


"Pengen di teng..."


"Apaan sih!" Reyna pun menyelipkan rambutnya pada telinganya, mukanya seketika memerah mengingat hal konyol tersebut.


"Di teng... apa mungkin maksudnya ditengokin Abi?" kata Nanda menggoda Reyna.


"Kok Abi sih?"


"Kan kamu Umi nya, biar kita lebih romantis gitu," Nanda pun mencolek dagu Reyna.


Reyna pun tersipu malu, ingin rasanya memanjat tembok. Kemudian berguling-guling dan menyanyikan lagu kesukaannya. Yaitu lagu India.


"Umi," Nanda pun mencolek dagu Reyna untuk yang kedua kalinya.


"Abi," Reyna merasa gemas dan menarik kedua pipi Nanda.


"Yuk," Nanda pun bangkit dari duduknya.


"Ayuk," Reyna ingin membuka kancing bajunya.


"Hey, mau apa?" Tanya Nanda.


"Oh, iya. Kita mau berangkat, kirain mau nambah dede bayi," kata Reyna dengan anehnya.


"Kenapa harus buru-buru? Kalau saja masih ada waktu untuk menunda keberangkatan ini, pasti aku tidak akan keberatan," gumam Nanda dengan suara pelan.


Nanda pun memasukkan koper ke dalam mobil, namun tiba-tiba ada mobil Devan yang terparkir di depan rumah.


"Aku numpang ke toilet yah" Nayla pun langsung masuk, dan mencari toilet di dalam rumah Reyna dan Nanda.


"Ya ampun, ternyata dia mampir ke sini cuma karena mau ke toilet doang" gumam Reyna.


"Mau kemana?" Tanya Devan.


"Ke luar kota, ada masalah sedikit di kantor," jelas Nanda.

__ADS_1


Devan pun mengangguk mengerti, kemudian Nayla pun keluar dari dalam rumah.


"Ya ampun kamu ke sini cuman mau ke toilet? Kamu itu udah buang-buang waktu kami yang berharga!" Omel Reyna.


"Aku udah kebelet pipis, pas lewat sini aku minta Mas Devan belok ke sini."


"Terus kamu buang air doang?"


"Ya ampun, pelit banget sih," Nayla pun mengambil uang dari dompetnya, kemudian memberikan pada Reyna" buat bayar toiletnya.


"Dua ribu? Kamu bayar segini doang!" Reyna pun menarik napas kesal.


"Tapi tidak apa, lumayan untuk parkiran mobil di tambah sedikit lagi," kata Reyna sambil memasukkan uang yang tidak seberapa itu ke dalam tasnya.


Dirinya juga sudah ikhlas jika uang tabungan nya harus terpakai, mengingat sebentar lagi akan lahiran tentunya biayanya tidak sedikit. Belum lagi dirinya harus berbelanja kebutuhan bayi, dan kali ini ikut dengan Nanda ke luar kota. Reyna merasa uang Nanda tidak akan cukup jika dirinya tidak ikut membantu keuangan.


"Dasar aneh!" Kata Nayla.


"Biarkan saja!" Reyna terlihat santai dan memilih tidak perduli.


"Abi, ayo," rengek Reyna dengan manjanya.


Nayla pun membulatkan matanya mendengar panggilan Reyna pada Nanda.


"Nanda?" Tanya Nayla dengan refleks.


"Iya, kenapa?" Reyna tersenyum miring pada Nayla, kemudian menatap Nanda dengan senyuman manis.


"Abi, ayo," rengek Reyna lagi.


Perut Nayla terasa mual seketika ingin muntah begitu saja.


"Huuueekkk!"


"Sayang, kenapa?" Tanya Devan panik.


"Dasar lebay! Pasangan aneh!" ujar Nayla pada Nanda dan Reyna.


"Biarin, kita juga baik-baik saja!" Reyna menjulurkan lidahnya pada Nayla, tidak perduli pada apapun yang di katakan oleh sahabatnya tersebut.


"Sayang," Devan menegur Nayla.


"Abi, saranghae" Reyna menunjukan tangannya dengan dibentuk seperti gambar hati.


"Love you Umi," Nanda pun membentuk love, membalas kata mesra istrinya.


Keduanya berjauhan dengan mobil yang ada di dekat keduanya.


Nayla seketika merinding, dirinya juga romantis dengan Devan. Tapi tidak separah Reyna dan Nanda.


"Mas, kita pergi! Lama di sini, aku bisa gila!" Nayla pun segera masuk ke dalam mobil, tubuhnya masih merinding melihat Reyna dan Nanda.

__ADS_1


"Abi, biarin aja. Dia aja yang nggak ngerti apa itu cinta."


"Hehehe, iya Umi," keduanya pun masuk ke dalam mobil, setelah mobil Devan melaju, mobil Nanda pun ikut melaju menuju bandara.


__ADS_2