
Beberapa hari kemudian.
Hari ini pernikahan antara Felix dan Cahaya pun di langsungkan, sebenarnya pernikahan dipercepat karena Felix yang sudah tidak sabar untuk menikah dengan wanita yang telah lama membuatnya jatuh hati.
Apa lagi pada hari ini suasana terlihat berbeda dari sebelumnya, sebab ada Ratih yang ikut berkumpul di dalam keluarga tersebut.
"Nayla, pestanya meriah sekali," kata Ratih begitu takjub dengan dekorasi pernikahan tersebut.
Nayla pun tersenyum, memeluk Ratih begitupun sebaliknya.
"Ibu duduk di sini, sebentar lagi acara pernikahan Felix akan berlangsung."
Ratih duduk, menurut pada apa yang di katakan oleh Nayla.
Hingga akhirnya Cahaya pun datang, berjalan menuruni anak tangga dengan perlahan. Gaun nya yang berkilauan seakan ikut memeriahkan pesta. Bahkan mata Felix tak berkedip sedikit pun saat melihat wajah Cahaya yang begitu cantik.
"Kak Felix," Vanya pun mencubit lengan Felix, mengingatkan Felix bahwa ada banyak tamu yang melihat keanehan nya.
"Dasar bocah tengil!" Felix begitu kesal saat Vanya mencubitnya, padahal masih betah menatap Cahaya yang kini terus berjalan padanya.
"Dasar bucin!" Kata Vanya.
Felix tak perduli sama sekali, karena Felix masih betah melihat Cahaya berlama-lama.
Hingga akhirnya Cahaya duduk di sampingnya, suasana seakan menjadi tegang.
"Bagaimana? Bisa di mulai?" Tanya seorang yang datang dari kantor Agama pada Felix.
Felix yang tegang malah mengulurkan tangannya pada Cahaya, kemudian hendak mencium kening Cahaya.
"Bapak, belum sah," kata seorang penghulu.
"Ahahahha," semua tamu bersorak merasa lucu pada Felix.
"Dasar, malu-maluin. Sabar dulu Ferguson!" Bisik Vanya yang kini duduk di belakang Felix.
__ADS_1
Felix pun menggaruk kepalanya, betapa malunya tak bisa di katakan.
Hingga akhirnya Felix dan Cahaya pun sah menjadi pasangan suami istri, membuat penghulu pun tersenyum menggoda Felix.
"Sekarang sudah bisa, ya Bapak. Sudah sah," seloroh penghulu tersebut.
Akhirnya Felix pun melingkarkan cincin di tangan Cahaya, begitu pun sebaliknya.
Cincin nikah imitasi yang tak seberapa itu menjadi lambang pernikahan keduanya dalam menjalani bahtera rumah tangga yang penuh kebahagiaan.
Acara pun berlanjut dengan foto keluarga, Felix tak melihat adiknya sampai saat ini.
"Bunda, apa Adnan tidak kembali?" Bisik Felix pada Nayla.
"Ada, tadi dia ada di sini. Tapi, sekarang ke mana anak itu? Apa yang terjadi padanya?" Nayla pun bingung sebab kini Adnan begitu berbeda.
"Sebenarnya dia ada masalah apa?" Felix pun bingung dengan perubahan sikap Adiknya itu.
"Vanya!" Nayla memanggil putri bungsunya itu yang sedang menyambut kedatangan teman-temannya.
Vanya pun menoleh pada Nayla.
"Coba kamu cari Kak Adnan ke kamarnya! Kita akan foto keluarga!"
"Ok, Bun!"
Mulut Vanya terus saja menggerutu, sebab Adnan malah menghilang di saat banyaknya tamu yang datang ke rumah mereka. Sehingga begitu melihat Adnan mulut Vanya langsung saja mengomel.
"Kak, kamu jangan ngilang dong. Bunda marah loh, kita mau foto keluarga!"
"Kakak sedang malas, kalian saja!" Tolak Adnan tidak bersemangat saat berada di keramaian pesta pernikahan.
"Kak Adnan, Kak Felix bisa marah! Kamu tahu kan ini hari pernikahan nya?"
"Iya bawel!"
__ADS_1
Adnan pun melingkarkan tangannya di pundak Vanya, kemudian keduanya berjalan dengan beriringan.
Adnan pun mengedarkan pandangannya, tak ingin bertemu dengan seseorang yang membuatnya tak memiliki keberanian melihatnya lagi.
Namun, tanpa di sengaja pandangan Adnan berbenturan dengan seorang wanita yang tak ingin di temuinya lagi. Rena tersenyum dengan gaun merah menyala, memegang gelas dan terus menatapnya.
Adnan pun memilih pergi saat itu juga, tetapi Vanya dengan cepat menghentikan langkah kaki Adnan.
"Hey, mau kemana? Bunda, bisa marah! Ayo foto keluarga dulu!" Vanya terus memeluk erat tubuh Kakaknya dari belakang, jika Adnan tetap bersikeras untuk pergi maka Vanya akan terjatuh.
Tetapi Vanya tahu Adnan tak akan menolaknya, benar saja Adnan pun akhirnya menurut. Sekeras apapun Adnan tak akan pernah tega membuat adik nya menahan sakit.
"Adnan, kamu ke mana saja? Teman-teman bisnis mu dari tadi mencari mu," kata Nayla yang menghampiri putra keduanya itu.
"Setelah ini kamu harus bercerita pada Bunda banyak hal yang ingin Bunda tanyakan," Nayla tidak ingin putranya berubah sehingga setelah acara selesai akan bertanya masalah apa yang membuat Adnan menjadi berubah aneh.
Acara terus berlangsung dengan meriahnya, mata Felix terus mengedarkan pandangan nya mencari seseorang yang menurut nya adalah tamu spesial.
"Felix, Riki tidak datang? Atau kamu tidak mengundang nya?" Tanya Cahaya yang juga tidak melihat wajah sahabat suaminya tersebut.
Bagaimana pun Riki adalah orang yang paling berjasa dalam menyatukan mereka hingga bisa akhirnya menikah. Felix pun tak pernah lupa akan kebaikan seorang Riki, bahkan sempat salah paham saat itu.
Justru ternyata Riki hanya menolong Cahaya, lagi-lagi Felix sangat mengharapkan kehadiran Riki di acara pesta pernikahan nya. Bahkan menjadi tamu spesial.
"Iya, aku juga mencarinya," Felix pun tampak bertanya-tanya mengapa sahabatnya tersebut tidak datang.
Padahal Felix dan Riki tidak lagi terlibat kesalahanpahaman, entah apa yang membuat Riki tak hadir dan itu membuat Felix kecewa.
"Mungkin dia ada sesuatu yang penting," Cahaya pun berusaha untuk membuat Felix mengerti.
"Iya," Felix mengangguk meskipun merasa kecewa atas ketidakhadiran Riki.
"Tapi apakah persahabatan kami tidak kalah penting?"
"Sabar, aku yakin dia memiliki alasan tertentu," Cahaya melingkarkan tangannya pada lengan Felix, hingga akhirnya suaminya tersebut pun tersenyum.
__ADS_1
Cekrek!
Sebuah gambar pun berhasil di abadikan oleh Rima dengan ponsel miliknya.