Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Maaf!!!


__ADS_3

Akhirnya setelah beberapa usaha yang dilakukan oleh Felix, kini Cahaya dapat membuka matanya. Felix pun bernapas lega setelah dari tadi panik bukan main. Jika sudah menyangkut Cahaya tidak ada lagi yang bisa menenangkan hatinya, bahkan sampai begitu berlebihan sekalipun sebenarnya masalah tidak begitu rumit.


"Akhirnya kamu sadar juga"


Cahaya pun menjauh dari Felix, kesal sekali mengingat apa yang barusan terjadi.


"Aku minta maaf," kata Felix dengan penuh permohonan. Menyesali perbuatannya sendiri, tersadar kesalahannya begitu fatal. Andai ada cara untuk menebusnya, mengembalikan waktu untuk memperbaiki segala kesalahan. Maka Felix akan melakukannya tanpa terkecuali.


Tetapi wajah Cahaya terlihat begitu kecewa atas apa yang barusan di lakukan oleh Felix padanya.


Hingga akhirnya Cahaya melempar pandangannya ke arah lain, benar-benar tidak ingin melihat Felix.


"Cahaya," Felix pun berpindah tempat, berharap Cahaya dapat melihat wajahnya.


Sayangnya Cahaya kembali membuang pandangannya ke arah lainnya lagi. Membuat Felix semakin takut. Felix pun diam tanpa berani berbicara, tetapi dalam hati terus merasa bersalah. Hingga akhirnya Felix pun melihat wajah Cahaya dan mencoba untuk berbicara lagi.


"Aku akan bertanggung jawab."


Cahaya tidak perduli sama sekali, rasa kesalnya pada Felix tak dapat di bendung sama sekali.


"Cahaya, maaf......" Tanpa ada rasa ragu ucapan maaf terus saja terlontar dari bibir Felix.


"Telfon Riki sekarang!" Kata Cahaya dengan suara bergetar.


Rasanya masih tidak percaya setelah dirinya di perlakukan seperti wanita liar oleh Felix barusan.


"Untuk apa?" Felix pun bingung dengan keinginan Cahaya, tidak tahu harus melakukan atau pun menolak.


"Telpon, sekarang!" Kata Cahaya lagi sambil menangis.

__ADS_1


Felix pun segera menuruti keinginan Cahaya, mengambil ponselnya dan segera menghubungi Riki. Sekalipun ragu dan belum mengerti dengan maksud Cahaya.


Sesaat kemudian terdengar suara Riki dari sebrang, volume suara ponsel yang cukup nyaring membuat keduanya dapat mendengar dengan jelas suara lawan bicaranya.


Bahkan Riki memanggil nama Felix, sebab dirinya ingin segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi malah yang terdengar suara Cahaya.


"Terima kasih sudah menolong ku, jika tidak ada kamu pasti sekarang aku sedang sekarat di rumah sakit," kata Cahaya.


"Tidak masalah, aku harap kamu dan Felix sudah lebih baik. Aku juga tidak ingin persahabatan kami hancur, aku lebih baik kehilangan wanita dari pada kehilangan sahabat ku. Katakan padanya permintaan maaf ku yang sudah lancang memegang mu, percayalah itu hanya karena aku tulus menolong mu," kata Riki dengan panjang lebar dari sebrang sana. Sebab dirinya sendiri terus saja terbebani atas apa yang di katakan oleh Felix sebelumnya.


Panggilan pun terputus, ponsel Felix kehabisan baterai.


Sedangkan Cahaya pun tak ingin lagi berbicara lebih jauh, hatinya begitu kecewa atas apa yang di lakukan oleh Felix.


Tidak ada kata yang keluar dari bibir Felix, sampai di sini dirinya hanya diam tanpa kata.


"Aku memang wanita murahan, sekarang carilah wanita baik-baik, tidak seperti aku," tutur Cahaya.


"Cahaya, aku tidak mau. Aku tidak bisa tanpa mu. Aku hanya takut kehilangan mu, sehingga aku gelap mata dan melakukan itu. Aku mohon Cahaya, aku akan bertanggung jawab dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama," pinta Felix dengan nada memohon.


"Aku nggak mau! Kamu kasar, aku nggak mau menikah dengan laki-laki kasar!"


"Cahaya, aku akan berusaha menjadi lebih baik. Aku mohon jangan tinggalkan aku," Felix mencium tangan Cahaya, berharap tidak ditinggalkan.


Cahaya terdiam tanpa tahu harus mengatakan apa, hatinya begitu kesal atas apa yang telah terjadi.


Felix mengingkari janjinya, membuat mimpi Cahaya lenyap seketika. Bahkan merasa gagal sebagai seorang wanita yang seharusnya menjaga harga dirinya. Itulah yang di ajarkan oleh Jessica.


Berulang kali Jessica meminta padanya untuk tidak sampai melakukan hal tersebut sebelum menikah, tetapi malah Felix merenggut sebelum menikah. Cahaya menangis dan tak ingin mengatakan apapun.

__ADS_1


"Cahaya," Felix pun memegang tangan Cahaya, berharap mendapatkan maaf.


Seketika Felix memeluknya, rasa sesal tak dapat di ungkapkan.


"Maaf," kata Felix mungkin untuk yang keseratus kalinya.


"Kamu kasar! Aku nggak mau nikah sama kamu."


"Cahaya, aku tidak mau. Kita harus menikah."


Sesaat kemudian pintu pun terbuka, tampak Alex berdiri di ambang pintu bersama dengan Devan.


Nayla dan Jessica juga muncul.


Glek!


Felix meneguk saliva dengan begitu pahit, entah dirinya masih bernyawa setelah ini atau hanya tinggal nama.


"Daddy," Cahaya pun menagis setelah melihat Alex.


Ada emosi yang ingin diluapkan.


"Aya, pakai pakaian mu," Nayla pun memungut pakaian yang berserakan di lantai.


Kemudian membawa Cahaya menuju toilet, di sanalah Nayla membantu Cahaya memakai pakaiannya.


"Bunda, sakit banget badan Aya" Cahaya menangis sambil memeluk Nayla.


Nayla mengusap punggung Cahaya, merasa kasihan dan membayangkan seperti apa perasaan Cahaya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2