Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Semoga semua itu bisa terwujud.


__ADS_3

Seorang wanita terbaring lemah tidak berdaya, keadaannya begitu memprihatinkan saat ini. Alex menatap istrinya. Istri tercintanya yang sejak dulu sudah membuatnya jatuh hati. Bedanya kini semua lebih istimewa, setelah cinta lama terpendam kini terbalas sudah. Lebih dari sekedar mendapatkan berlian, balasan perasaan jauh lebih dari segalanya. Keadaan Jessica saat ini setengah sadar. Selain karena pengaruh obat setelah operasi juga, karena keadaannya yang memang cukup buruk sebelumnya. Perasaan was-was tentu menyelimuti, rasa takut kehilangan cahaya hidupnya jelas terlihat nyata.


Namun, di sini masih ada secercah harapan Indah.


Harapan untuk tetap bertahan hidup bersama, meskipun tanpa rahim. Jessica sudah tidak memiliki rahim, walaupun begitu tidak lantas membuat Alex meninggalkan Jessica. Alex masih menerima segala kekurangan Jessica.


Sudah ada dua anak, tentunya sudah lebih dari cukup, meskipun tidak tahu apakah bayi itu akan bertahan karena keadaannya yang begitu memprihatinkan.


Rasa gagal menjadi suami dan Ayah tentunya sangat membekas di hati Alex, sungguh pahit menerima kenyataan bahwa anak keduanya pun harus mengalami nasib malang ini. Alex menghapus air matanya, menggenggam erat jemari tangan Jessica.


"Terima kasih atas pengorbanan mu," kata Alex dengan suara yang bergetar.


Entah apa yang bisa dilakukan kini, hanya kekuatan doa yang mampu mengubah segalanya


Alex sangat berharap ada keajaiban saat ini.


Sejenak Alex mengenang masa-masa dulu, dimana tangannya dengan tega memukul Jessica.


Membentak tanpa rasa iba, sampai disini semua terasa seperti tusukan belati tajam tiada ampun.


Masih bisakah tangannya kasar terhadap istrinya tersebut?


Andai saja sejuta penyesalan bisa merubah semuanya. Alex tidak akan lebih menderita dari ini.


Masihkah bibirnya berani berkata dengan lantang setelah tahu seperti apa pengorbanan seorang istri. Menangis menahan air mata, menjerit tanpa suara.


Sesal tinggal lah sesal semoga kelak bisa membahagiakan istrinya, istri yang pernah di telantarkan tersebut.


Teringat lagi dimana masa-masa Jessica pernah berjuang untuk Cahaya. Sendiri, tanpa dirinya. Membawa luka dalam batin dan setitik bekas tangannya yang membiru pada beberapa bagian tubuhnya.


Betapa semua hanya sebuah penyesalan, sisa-sisa dari kekerasan dan kekasaran yang pernah terlampiaskan pada seorang wanita yang sudah berkorban nyawa demi melahirkan anak-anaknya.


"Maaf Jessica, aku sangat menyesalinya. Tolong tetap berjuang untuk hidup, aku berjanji akan menebus semuanya. Aku berjanji akan membuat mu bahagia, atau jika saja kau mau bisa membakar tangan ku yang pernah kasar pada mu," Alex benar-benar tertusuk penuh penyesalan


Menahan suara jeritan yang sebenarnya ingin terlepas agar perasaan menjadi lebih lega.


Sayangnya tidak mungkin.


"Mommy," seru Cahaya.


Cahaya berjalan masuk, melihat keadaan Jessica di penuhi dengan alat medis.


Mata Jessica setengah terbuka, tampak pucat dan juga bibir yang memutih. Persis seperti mayat.


"Dad, Mom kenapa?"

__ADS_1


Alex mengusap wajah nya, tersadar ada Cahaya yang belum boleh tahu sebenarnya keadaan ini sangat menyakitkan baginya.


"Mom sedang istirahat, Aya udah punya adik sekarang," ujar Alex sambil menggendong Cahaya.


Tanpa sadar air mata Alex kembali menetes saat melihat manik mata Cahaya, karena tusukan penyesalan jauh lebih menyakitkan dari pada tusukan belati secara langsung.


Cahaya yang melihat Jessica pun kini beralih melihat Alex penuh tanya. Kata adik benar-benar membuatnya bingung, dan tidak mengerti.


"Adik?"


"Iya."


Alex berusaha tersenyum di hadapan putrinya, meskipun hati menjerit melihat keadaan istrinya.


"Mana?" Cahaya mengedarkan pandangan nya, mencari seseorang yang dimaksud oleh Alex.


"Ada di ruangan lain, ayo kita lihat,"


Alex pun bersama Cahaya melihat wajah bayi yang kini berada di inkubator. Terlihat bayi itu begitu kecil, bahkan berat badan yang cukup rendah.


"Itu adik Aya?" Cahaya terus menatap bayi kecil itu.


"Kurus sekali Dad, nggak ada dagingnya juga," kata Cahaya lagi dengan polosnya.


"Vanya gemuk Dad, kenapa adik Aya kurus?" Cahaya masih bertanya kepada Alex, merasa belum mendapatkan jawaban.


"Karena adiknya belum minum susu, nanti kalau sudah minum susu pasti gemuk," jawab Alex seadanya.


"Oh" Cahaya pun mangguk-mangguk, merasa mengerti, walaupun entah pengertian seperi apa yang kini ada di pikirannya.


"Namanya siapa Dad?"


"Namanya Alvaro, jadi ada Cahaya dan Alvaro." jawab Alex.


"Alvaro?" Cahaya pun mengangguk.


"Sudah, Aya sekarang pulang sama Oma. Dad, di sini dulu sama Mom, sama Adek juga.


Cahaya pun mengangguk kemudian pulang bersama dengan Puput.


Alex kembali melihat keadaan Jessica, masih terbaring di sana dengan lemahnya.


Beberapa saat kemudian dipindahkan ke ruang rawat, untuk menjalani beberapa pemeriksaan dan perawatan yang di butuhkan selanjutnya.


"Alex," Jessica memanggil nama Alex dengan suara lemahnya.

__ADS_1


Alex pun tersenyum sambil merapikan rambut Jessica, mengusap keringat dingin yang membanjiri wajah istrinya.


"Kamu sudah melihat ku?" Alex mencium kening Jessica, tersenyum sambil menggenggam erat tangan Jessica.


"Mana bayi kita?"


Alex tersenyum, Jessica hanya perduli pada anaknya sekalipun keadaan nya begitu memprihatinkan.


"Dia ada, sekarang sedang di rawat. Nanti kalau kamu sudah bisa bergerak, kita lihat dia. Dia tampan seperti aku," kata Alex dengan senyum yang tulus.


Tidak sanggup melihat keadaan istrinya saat ini, untuk bernapas pun Jessica sepertinya cukup sulit.


"Kamu nggak bohong?" Jessica berusaha untuk berbicara, walaupun sebenarnya tidak memiliki banyak tenaga


"Nggak, aku nggak akan bisa bohong setelah melihat semua ini. Aku nggak akan pernah bisa" suara Alex terasa tercekat, begitu sulit nya berkata untuk saat ini.


Jessica tersenyum lega dan merasa lebih baik, memilih menutup matanya dengan perlahan. Alex menyadari Jessica yang menutup matanya.


Seketika pikiran buruk pun menghantui nya, mata Jessica tertutup rapat. Bahkan tangannya terasa dingin.


Apakah Jessica sudah tiada? Alex tidak sanggup untuk itu semua.


"Jessica!" Panggil Alex dengan rasa takut yang begitu luar biasa.


Kemudian tangannya berusaha untuk menggerakkan tangan Jessica, peluh kian bercucuran tiada terkira.


"Jessica, kenapa kamu menutup mata," seru Alex.


Jessica tersenyum dan kembali membuka matanya. Menatap Alex, begitu pula dengan Alex yang merasa lebih lega.


"Jangan tinggalkan aku."


"Aku lelah, aku hanya istirahat," kata Jessica.


Alex pun kembali bernapas lega, kemudian mengangguk.


"Berjanjilah tidak menutup mata selamanya, berjanjilah kau tetap hidup bersama ku," pinta Alex minta di yakinkan.


Jessica kembali tersenyum, sambil menggerakkan kedua kelompok matanya. Meyakinkan Alex bahwa dirinya hanya sedang membutuhkan istirahat, tenaganya tidak ada. Terkuras habis setelah berjuang untuk bertahan demi anaknya.


"Baiklah, tidur saja. Aku menunggu mu di sini," Alex duduk di kursi, tangannya terus menggenggam erat tangan Jessica tanpa ingin melepaskan sama sekali.


Jessica pun menutup mata untuk beristirahat, dirinya pun masih ingin bertahan hidup membesarkan anak-anaknya yang masih membutuhkannya.


Semoga semua itu bisa terwujud.

__ADS_1


__ADS_2