
Cahaya pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat sosial media yang menjadi hiburan di kala lelah bekerja ataupun dalam keadaan apapun. Tapi sesaat kemudian taksi yang di tumpanginya mendadak berhenti membuat Cahaya kebingungan.
"Ada apa Pak?" Tanya Cahaya. Belum lagi sekitarnya yang mulai sepi hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Di tambah lagi dengan hari mulai gelap, hujan rintik-rintik pun turun.
"Itu Bu, ada segerombolan preman yang menghentikan mobil kita," supir taksi itupun merasa takut sebab para preman itu membawa benda tajam. Cahaya pun melihat ke depan, kemudian ada yang menggedor-gedor kaca taksi tersebut.
"Turun!" Pinta Preman yang bahkan menggoyangkan taksi itu.
"Atau kaca taksi ini aku pecahkan!" Ancaman pun terdengar hingga sang sopir taksi merasa takut.
"Ya ampun anak ku sakit. Kalau sampai taksi ini kenapa-kenapa nantinya bagaimana?" Supir taksi itu pun berbicara sendiri dengan rasa ketakutannya.
Cahaya pun mendengar suara itu, kemudian membuka pintunya.
"Bu, jangan!" Supir itu merasa takut jika terjadi sesuatu hal buruk pada penumpangnya.
"Tidak apa Pak," Cahaya tidak ingin membuat supir taksi itu nantinya harus menanggung biaya kerugian.
Pada dasarnya Cahaya adalah wanita baik dengan hati yang begitu lembut. Sehingga dirinya tidak pernah bisa membuat orang lain susah karena dirinya.
"Cepat pergi dari sini!" Seorang preman pun meminta taksi tersebut untuk pergi.
Supir taksi tersebut menolak, sebab tetap ingin di sana bersama dengan Cahaya. Akhirnya ketiga preman itu mengarahkan senjata tajam pada Cahaya.
"Kalau kau tidak pergi maka wanita ini aku habisi!" Ancaman yang membuat sang supir taksi takut dan memilih pergi.
__ADS_1
"Bu, maaf ya. Tapi saya hanya takut anda di apa-apakan," supir taksi pun pergi bersama taksi nya. Lagi pula ingin meminta bantuan ataupun melapor pada polisi atas hal ini.
Cahaya pun tertinggal dirinya merasa takut saat preman itu terus saja menatapnya.
"Kalian mau apa? Mau uang? Atau barang berharga lainnya? Ambil saja, tapi tolong lepaskan aku," kata Cahaya dengan suara yang bergetar.
Ketiga preman itu pun tertawa mendengar pertanyaan Cahaya. Cahaya pun meneguk saliva karena ketakutan sedangkan Felix mulai menuruni mobilnya. Dengan cepat menendang seorang preman hingga tersungkur di aspal.
"Felix?" Cahaya pun merasa sedikit lega sebab ada Felix di sana.
"Hajar dia!" Seorang preman pun memerintahkan teman-temannya untuk menghadapi Felix, sayangnya terkapar juga seperti awal. Akhirnya ketiga preman tersebut pun melarikan diri.
Cahaya yang ketakutan pun merasa tidak memiliki tenaga. Seketika itu juga duduk di aspal dengan keringat yang bercucuran. Felix pun segera menghampirinya.
"Ayo aku antar pulang," tawar Felix.
Cahaya lagi-lagi mengangguk menyetujui tawaran untuk pulang bersama dengan Felix tanpa penolakan sama sekali.
Namun saat akan memasuki mobil tiba-tiba mobil Alex berhenti. Kemudian memanggil putrinya.
"Aya!"
Cahaya pun menoleh dan seketika itu berjalan menuju Alex. Memeluk Alex dengan perasaan lebili baik.
"Ayo pulang," Alex memasukan Cahaya ke dalam mobil, setelah itu menatap Felix dengan tajam.
__ADS_1
Felix pun hanya diam saja, yakin sekali jika Alex tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika tidak mana mungkin Alex tiba-tiba muncul di sana. Sesaat kemudian Alex pun memasuki mobil, membawa putrinya pulang dengan rasa ketakutan. Sedangkan Felix kesal sebab seharusnya Cahaya bisa menganggapnya sebagai pahlawan. Tidak lama berselang tiga preman suruhan nya pun kembali muncul untuk meminta bayaran.
"Bos, mana bayaran kami."
Felix pun menatap tajam dan menghajar ketiganya.
"Itu bayaran kalian!" Kata Felix.
"Bos, kami berhasil melakukan perintah Anda."
Felix pun kembali memberikan bogem mentah setelah itu memberikan sejumlah uang dalam sebuah kertas berwarna coklat.
"Berhasil! Berhasil sekali! Sini saya hajar lagi, maka akan saya tambahkan bayaran kalian untuk berobat!" Felix pun mengangkat tangannya dengan kepalan kuat.
"Ampun Bos," ketiganya pun melarikan diri dengan membawa uang yang di berikan Felix.
"Dasar tidak berguna!"
Ponsel Felix pun berdering dan menjawabnya tanpa melihat nama siapa yang tertera.
"Aku tunggu di kantor mu!"
Setelah itu panggilan pun terputus, tapi Felix tahu itu adalah suara Alex.
Felix pun meninju udara, mungkin jika ada ketiga preman tadi maka akan menjadi sarana empuk Felix melepaskan emosinya.
__ADS_1