Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Tampan sekali.


__ADS_3

Keesokan harinya Felix pun siap menjalani peran barunya sebagai mana yang diinginkan oleh Cahaya.


Menjadi orang biasa.


Felix pun mencari Diman, tukang kebun yang bekerja di kediamannya.


"Bunda, lihat Diman?"


"Kalau tidak salah di kebun belakang, kenapa? Tumben sekali mencari Diman?" Nayla menatap pakaian Felix.


Biasanya jika pagi begini begitu rapi dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja, malah pagi ini masih menggunakan baju santai.


"Aku mau pinjam pakaian Diman."


"Pinjam?" Ana yang tidak sengaja mendengar pun langsung ikut menimpali pembicaraan antara Nayla dan Felix.


"Iya, Oma, Aya mau menikah dengan aku, syaratnya harus membeli cincin nikah dengan bekerja menjadi orang biasa, katanya yang benar-benar dari keringat aku sendiri."


"Begitu," Ana pun mangguk-mangguk merasa mengerti.


"Terus harus pakai pakaian Diman, gitu?" Tanya Nayla.


Tampaknya cinta Felix pada Cahaya begitu besar, hingga siap melakukan apa saja.


"Aku sekalian mau tanya, cari kerja jadi orang biasa itu di mana."


"Itu dia!" Ana pun melihat seorang yang dicari oleh cucu kesayangannya.


"Diman, kamu di cariin Felix."


"Iya Nyonya besar," Diman pun berjalan ke arah Felix dengan kepala menunduk.


"Diman, hari ini kamu temani saya," Felix pun merangkul pundak Diman dan keduanya berjalan beriringan.


"Ada-ada saja," Nayla dan Ana tertawa melihat Felix yang tampak begitu serius dengan keinginan Cahaya.


"Cinta memang membutakan segalanya," Ana pun ikut tersenyum geli melihat tingkah laku cucunya itu.


Sedangkan Felix hanya fokus pada tujuannya, mendapatkan uang untuk membeli cincin nikah.


"Diman, mulai hari ini dan beberapa hari ke depan kamu temani saya. Kamu tau di mana mencari kerja menjadi orang biasa, seperti kuli?" Tanya Felix yang mulai mengutarakan maksudnya.


Diman terdiam saat mendengarkan apa yang barusan menjadi keinginan majikannya tersebut.


"Tuan, apa anda bosan menjadi orang kaya?" Tanya Diman.


"Maaf Tuan, saya keceplosan," Diman menutup mulut dan berdoa semoga Felix tidak memarahinya, apa lagi sampai memecatnya.


"Sudahlah, tidak apa!" Felix pun tersenyum tampak tidak marah sama sekali.


"Pertama, panggil saya Felix!"


"Apa?" Diman tidak berani hingga dia hanya diam saja.


"Kamu mau di pecat!"


"Tidak, Tuan."


"Cepat ikuti perintah saya, panggil Felix!"


"Fel......lix," kata Diman dengan ragu.


"Bagus, mulai hari ini kita teman. Saya bukan majikan kamu."


"Tuan, jangan pecat saya," Diman pun berlutut di bawah kaki Felix dengan panik, dirinya tak ingin kehilangan pekerjaannya, apa lagi bekerja di keluarga Bima Putra yang begitu baik dan gaji yang cukup besar.

__ADS_1


"Tidak! Kamu harus menolong saya! Cepat berdiri?"


Felix pun menceritakan semuanya, tujuannya menjadi orang biasa hingga akhirnya Diman pun mengerti.


"Kalau gitu kita naik motor Diman saja Tuan, eh.... maksudnya Felix. Kalau cari kerja jadi orang biasa tidak mungkin membawa mobil mewah, siapa yang mau menerima," kata Diman memberikan saran.


"Oh begitu," Felix pun merasa apa yang dikatakan oleh Diman sangatlah benar.


"Mana motor mu?"


"Itu Tuan!"


Diman menunjuk sebuah sepeda motor, yang tak jauh dari keduanya. Namun, yang dilihat Felix adalah sebuah sepeda motor mahal miliknya.


"Itu kan motor saya!"


"Bukan yang itu, tapi yang di sebelahnya!"


Felix pun melihat dengan jelas, tampaklah sebuah sepeda motor bebek berwarna merah menyala.


Felix pun menggeleng, merasa tidak mungkin menaiki sepeda motor butut tersebut.


"Diman?"


"Kayak nya mau jadi orang biasa?"


"Ya, tapi....."


"Naik Tuan!""


Felix pun mengangguk kemudian menaiki sepeda motor butut milik Diman dengan ragu.


Brem... brem!!!


Suara sepeda motor itu begitu nyaring, hingga membuat gendang telinga Felix hampir pecah.


"Ternyata mencari pekerjaan sangat sulit," Felix mengusap keringat yang bercucuran.


Diman pun mendapatkan ide.


Hingga akhirnya Diman memakai pakaian Felix, sedangkan Felix memakai pakaian Diman.


"Bau sekali pakaian mu ini."


"Hehehe, demi cincin nikah Bos." Diman pun tersenyum setelah memakai pakaian mahal milik Felix.


Sedangkan Felix ingin muntah memakai pakaian milik Diman.


"Memang baju itu sudah satu minggu yang lalu aku pakai Bos," kata Diman tanpa dosa.


"Kurang ajar kamu!" Felix pun menendang kaki Diman dengan cukup kencang.


Hingga Diman meringis menahan sakit, tetapi tidak berlangsung lama. Karena ada wanita cantik yang melewati mereka, Diman pun tersenyum menggoda. Kapan lagi bisa tampil keren seperti ini.


"Mas, bawahannya nggak sopan tuh," kata seorang wanita pada Diman.


"Tidak apa, dia sudah lama bekerja pada ku," jawab Diman dengan santainya.


"Kurang ajar!" Felix pun mengumpat.


Sedangkan Diman terus saja tersenyum bahagia, kapan lagi bisa terlihat kaya. Walaupun begitu Diman memilki hati yang baik.


"Ayo kita ke pasar Tuan, anda bisa jadi kuli di sana!"


"Ayo! Cepat, aku yang membawa sepeda motor nya!"

__ADS_1


Felix pun menyalakan sepeda motornya, kemudian melajukan dengan segera. Diman hampir saja terlempar saat Felix mengerem mendadak di lampu merah.


"Bos, pelan-pelan," kata Diman.


Tanpa sengaja Felix melihat Cahaya di dalam mobil, menunggu lampu merah berganti dengan hijau.


"Cewek!" Goda Felix.


Awalnya Cahaya kesal, tapi setelah melihat siapa yang menyapanya Cahaya malah tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Felix.


"Ini demi kamu!"


"Iya, awal yang sangat baik. Aku tunggu hasilnya sayang," setelah mengatakan itu Cahaya pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sekalipun lampu merah masih menyala.


Sedangkan Felix mendadak mematung, apa yang di katakan oleh Cahaya barusan?


"Sayang?"


Felix merasa dunia begitu indah, hanya ada bunga, serta kupu-kupu yang bertebangan.


Ini sungguh luar biasa, Felix sangat bahagia.


Tin... tin.


Suara klakson tidak dapat membuyarkan lamunan Felix, panggilan sayang Cahaya masih terngiang-ngiang di kepala.


"Bos!" Teriak Diman tepat di telinga Felix.


"Bodoh! Telinga ku bisa rusak!" Kesal Felix.


"Maaf, Bos lihat lampu hijau sudah menyala," Diman pun mengingatkannya.


"Lalu?" Felix masih saja tersenyum mengingat wajah Cahaya.


"Artinya jalan Bos!" Seru Diman.


Tin... tin...


Suara klakson terus terdengar, akhirnya Felix pun mengerti. Menarik gas dan melajukan sepeda motor milik Diman dengan kencang.


"Bos, pelan-pelan," Diman pun merasa takut, sebab dirinya hampir terjatuh karena Felix yang ugal-ugalan.


Felix tidak perduli sama sekali.


"Bos!"


Citt!


Felix mengerem mendadak saat ada anak ayam yang sedang menyebrang jalanan.


Namun Diman malah terlempar pada gerobak sayur yang sedang melintas.


"Dasar kurang ajar!" Pemilik sayur pun marah dan meminta ganti rugi.


"Gampang Bu, biar teman saya yang menjual ini," kata Diman menunjuk Felix.


"Apa?" Felix pun shock.


"Demi cincin nikah Bos."


Felix pun terpaksa mengangguk.


"Iya, sih."


"Wah, dia tampan sekali. Dagangan ku bisa cepat laku," Si wanita pun mengkedipkan sebelah matanya, tersenyum genit pada Felix.

__ADS_1


"Huuueekkk," Felix seketika merasa mual.


__ADS_2