
"Aku harap kau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini," kata Felix.
Kini keduanya duduk di gazebo kayu tepatnya terletak di bagian belakang rumah, keduanya tampak diam di sana dengan pikiran masing-masing.
Menurut Felix terlalu berkeras pun percuma saja, sebab Vanya pun tampak begitu ingin bersama dengan Riki.
"Terima kasih, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," jawab Riki penuh kebahagiaan.
Tentunya Riki sangat bahagia, karena kini semuanya perlahan menjadi lebih baik.
Hingga akhirnya Riki pun menepuk pundak Felix seperti biasanya saat mereka sedang bersama.
Namun, Felix malah melayangkan tatapan tajamnya pada tangan Riki. Membuat Riki pun menghentikannya dengan wajah bingung.
"Jaga kesopanan, aku calon Kakak iparmu!" Kata Felix dengan tegasnya.
Riki pun terdiam sejenak sambil menatap wajah Felix, tetapi sepertinya memang begitu adanya.
Walaupun ada sedikit geli-geli namun terasa cukup nikmat, Ahahahhaha.
Begitulah pikiran Felix, karena apa karena dirinya merasa lucu setelah tahu ternyata orang yang diceritakan oleh Riki selama ini adalah adiknya sendiri.
"Ya Kakak ipar, maksud nya calon Kakak Ipar," kata Riki yang juga merasa lucu.
"Kurang ajar!" Felix pun meninju lengan bagian atas Riki, rasanya begitu menjengkelkan sekali tetapi bagaimana lagi.
Hingga Adnan pun muncul, dirinya diminta pulang dari kantor secepatnya oleh Rena.
Itupun karena permintaan Nayla, awalnya Adnan merasa terkejut dengan apa yang diberitahukan oleh Rena.
Namun, setelahnya dia pun turut bahagia dengan kebersamaan keluarga yang kembali utuh seperti dulu lagi.
Sebab, selama beberapa hari ini seakan semuanya begitu rumit, untuk pulang ke rumah saja rasanya begitu malas mengingat permasalahan yang tidak kunjung usai.
"Adnan, perkenalkan ini calon adik Ipar," seloroh Felix.
Adnan tersenyum melihat Riki, tampaknya dirinya sendiri sedang berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa Riki kini akan menikahi adiknya.
"Iya, hati-hati ke depannya," ujar Adnan yang kini berdiri di hadapan Riki.
"tapi, sepertinya tidak ada yang mudah." Lanjut Adnan lagi.
Membuat Riki pun menatap Adnan dengan penuh tanya, tidak mengerti maksud dari calon Kakak iparnya itu.
__ADS_1
Mungkin dari segi usia Riki masih lebih tua, tetapi dari segi keluarga Riki berada di paling bawah.
Sehingga pada dua Kakak ipar yang tepatnya seperti Ayah tiri itu adalah hal yang cukup menyeramkan.
"Kucing istriku sepertinya belum dimandikan dan aku rasa kau bisa bukan?" Tanya Adnan.
"Apa?" Riki shock mendengarnya, mana mungkin itu dilakukan.
Tetapi bagaimana juga untuk menolaknya, ini sungguh luar biasa.
"Kakak rasa juga itu lebih baik adik ipar, karena itu adalah hukuman kau sudah berani pegang-pegang adik kesayangan kami sebelum menikah," tambah Felix lagi.
"Tapi....." Riki mengusap wajahnya, betapa ini sangat tidak mungkin. Tetapi, tidak juga berani dalam menolaknya.
"Tidak ada tapi-tapi!"
Riki pun hanya bisa menarik napas, karena apa?
Tentunya karena kini dirinya sedang membersihkan kandang kucing milik Rena yang ada di lantai dua.
Sementara Rena malah kasihan melihatnya, ingin sekali meminta Riki untuk berhenti melakukannya. Tetapi, Rena pun takut pada suaminya Adnan.
"Mas, udah ya. Biar nanti ada orang yang membersihkannya," kata Rena semakin merasa kasihan saja pada Riki.
"Apa hubungannya?" Rena semakin tidak mengerti saja, alasan Adnan memang sepertinya tidak masuk akal di kepala Rena.
Hingga akhirnya Felix pun menyusul ke lantai dua, dirinya pun memiliki ide yang cukup bagus.
Felix masih saja kesal mengingat semua yang di ceritakan Riki tentang apa yang sudah dilakukannya bersama dengan Vanya.
"Dari luar tidak akan bersih!"
Riki sudah tidak kuasa menahan mual, rasanya berada di sana seperti sedang di neraka saja.
"Felix..."
"Kakak Ipar, tolol!"
"Kakak ipar tolol," kata Riki.
Seketika membuat Felix kesal dan langsung menendang bagian bokong Riki, hingga akhirnya masuk ke dalam kandang kucing.
Dengan cepat Felix pun menguncinya, setelah itu Felix pun tersenyum puas.
__ADS_1
"Dasar tidak sopan!"
"Felix, aku minta maaf. Aku tidak sengaja mengatakan itu," Riki pun berusaha untuk membuka kunci, tetapi tidak bisa.
Karena dirinya takut kandang kucing milik Rena rusak, sebab itu adalah milik kesayangan Rena.
Serba salah dan sangat rumit sekali.
Hingga akhirnya Cahaya pun muncul, ditugaskan oleh mertuanya untuk memanggil yang lainnya makan bersama.
Sebab, semua masakan sudah tersaji dengan baik.
Namun, malah melihat Riki berada di dalam kurungan.
"ABG?" Tanya Cahaya.
Itulah panggilan sayang mereka saat ini, Felix yang maunya di panggil Abang.
Terkadang Cahaya juga geli, tetapi bagaimana lagi demi menyenangkan hati suami.
"Cahaya, tolong aku, suami mu mengurung ku di sini!" Riki berharap semoga saja Cahaya bisa menolong dirinya saat ini.
"Abang?" Tanya Cahaya kesal.
"Biarkan saja, dia sudah mencoba-coba Vanya. Itu hukuman!" Felix langsung saja menarik Cahaya untuk pergi dari sana, biarkan saja untuk sementara saja Riki berada di sana.
Tapi sejujurnya Felix tidak membenci Riki sama sekali, hanya sekedar keusilan seorang sahabat yang jatuh cinta pada adik sahabatnya sendiri.
Sementara kini malah Rena yang merasa kasihan pada Riki.
"Mas, bukain ya. Kasihan," kata Rena semakin merasa iba saja.
"Biarkan saja, dia sedang masa uji coba sebelum benar-benar masuk ke keluarga ini," Adnan juga ikut membawa Rena.
Membiarkan Riki yang kini menjadi kucing dadakan yang sangat menggemaskan di sana, karena kini bukan hanya terkurung di hati Vanya namun terkurung di dalam kandang kucing.
"Ya ampun, cobaan ini berat sekali," Riki pun mengusap wajahnya, tidak menyangka bisa seperti ini karena seorang bocah yang dulu sangat dibencinya itu.
Tapi tidak masalah, karena menurutnya ini adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang begitu dinantikan.
Bahkan Bik Ina yang di perintahkan untuk membuka pintu kandang kucing itu saja kini malah bergidik ngeri, melihat Riki yang senyum-senyum sendiri di dalam kandang kucing.
Hingga akhirnya Bik Ina pun memutuskan untuk pergi tanpa membuka pintunya.
__ADS_1