Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Masih belum terbiasa!


__ADS_3

Felix pun menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Cahaya, wajah cantik yang membuatnya begitu terpesona. Menyadari hanya bibir istrinya itu yang mengatakan tidak, berbeda dengan tubuhnya yang bahkan begitu merespon setiap sentuhan yang di berikannya.


Cahaya pun membuka matanya dan melihat Felix masih berada di atas tubuhnya. Cahaya merasa malu atas apa yang barusan terjadi, walaupun sebenarnya tak ada yang salah.


"Katanya cuma pegang-pegang aja!" Cahaya pun kesal dan memukul lengan Felix.


"Katanya nggak, tapi menikmati juga," goda Felix.


"Nggak! Mana ada!" Cahaya mengelak dan mendorong Felix agar turun dari atas tubuhnya, namun tidak dengan sebaliknya.


Felix masih begitu nyaman dengan posisinya saat ini.


"Aku mencintaimu," bisik Felix.


Cahaya pun menurunkan pandangan matanya, mengigit bibir bawahnya merasa dunianya begitu indah bersama dengan Felix.


"Aku juga," jawab Cahaya dengan suara pelan.


Felix pun terdiam sambil terus menatap wajah Cahaya begitu juga dengan sebaliknya. Perlahan Felix kembali mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Cahaya dengan perlahan. Cahaya pun menutup matanya dan mencoba untuk membalasnya. Felix tahu Cahaya sudah mulai menyukai permainan tersebut hingga membuatnya begitu bahagia.


Semakin lama ciuman itu semakin panas, tangan Felix pun kembali menjelajahi tubuh Cahaya. Perlahan Felix menciumi tengkuk Cahaya, kemudian semakin ke bawah ke dua gunung kembar yang tampak menantang.

__ADS_1


Puas dengan benda tersebut Felix pun menggigit kecil perut Cahaya, kemudian kembali pada bagian utama Cahaya. Cahaya hanya diam saja, meresapi lidah Felix yang meliuk-liuk di dalam sana. Menikmati sensasi yang begitu luar biasa tanpa penolakan seperti awalnya. Mungkin saja tubuhnya mulai candu setelah merasa kepuasan yang diberikan oleh Felix di malam hari ini.


"Felix, sssstttt."


Cahaya merintih saat Felix kembali memasukinya, bergerak dengan tempo yang tidak beraturan.


Hingga akhirnya Felix pun menukar posisi Cahaya yang berada di atas, sedangkan dirinya berada di bawah. Padahal baru saja menyelesaikan permainan, tetapi sudah memulainya lagi. Sebab, permainan tersebut begitu membuatnya candu.


Cahaya mendadak panik, merasa malu menyadari posisinya yang duduk di atas Felix. Dirinya juga bingung mau melakukan apa, hingga akhirnya menutup wajahnya dengan keduanya.


"Ahahahha," Felix tak dapat menahan tawa, sebab Cahaya menutup wajahnya sedangkan dadanya tergantung dan begitu menantang. Belum lagi mereka yang menyatu dengan sempurna, kekasih halalnya tersebut memang sangat lucu.


"Felix!" Ingin sekali Cahaya menangis, tetapi juga tidak berani. Takut malah menjadi bahan ejekan suaminya itu kembali.


"Felix, aku..." Cahaya pun menggelengkan kepala, sampai di sini pun tak tahu harus bagaimana.


"Sayang, bergerak!" Felix meracau dengan kenikmatan yang begitu luar biasa.


"Felix," Mentari menggeleng untuk yang kesekian kalinya, hingga Felix pun kembali membalikan posisi mereka.


Sebab Felix begitu tersiksa saat berada di dalam tubuh Cahaya tanpa bergerak sedikitpun.

__ADS_1


Hingga akhirnya Felix pun turun dari atas tubuh Cahaya dan meminta Cahaya berjongkok. Rasanya tubuh seksi itu semakin menantang jiwa kelelakiannya.


Felix pun memasuki istrinya itu dari belakang, menghentak dengan kecepatan dari mulai pelan sampai kuat. Kedua kulit yang saling berbenturan hingga menimbulkan suara yang kencang.


Jeritan kenikmatan Cahaya semakin menggema seiring dengan hentakan kenikmatan yang diberikan oleh Felix tiada hentinya.


Malam ini begitu dingin, tetapi terasa panas bagi dua orang anak manusia yang kini sedang bercinta.


Merasakan nikmatnya menjalani malam pengantin, meskipun bukan untuk pertama kalinya.


Tetapi, justru malam ini jauh lebih indah dari pada saat itu.


Kamar kedap suara itu seakan menjadi saksi, saat pergulatan panas itu berlangsung.


Suara yang saling bersahut-sahutan tanpa bisa di tahan sedikitpun menyatakan bahwa keduanya begitu menikmati.


Hingga pada akhirnya meleburkan lahar panas penuh kenikmatan yang begitu luar biasa.


"Aku mencintaimu," bisik Felix saat Cahaya terkapar dengan napas terengah-engah.


Cahaya pun menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, merasa malu setelah menyadari dirinya yang begitu menikmati malam panas ini.

__ADS_1


Cahaya tidak menepis jika Felix mampu membuatnya puas, namun dirinya masih belum terbiasa untuk ibadah ranjang yang penuh kebahagiaan.


__ADS_2