Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Cobaan ini sangat berat.


__ADS_3

Vanya pun kini berada di dalam kamar Riki, matanya mengedar memperhatikan sekiranya. Ini untuk pertama kalinya Vanya memasuki kamar tersebut. Bahkan, kini menggunakannya.


Tidak ada yang istimewa dari ruangan tersebut, bahkan dari segi warna saja sama sekali tidak menarik di mata Vanya.


Tidak ada meja hias sama sekali, tidak ada lampu tidur sama sekali.


Hingga Vanya pun berbaring di atas ranjang, menarik selimut dengan lampu kamar yang menyala dengan terangnya.


Menepikan sejenak pikirannya Vanya akhirnya terlelap, hingga pada pagi harinya Vanya pun terjaga saat Riki yang membangunkan dirinya.


"Mas?" Vanya sampai terkejut, karena ternyata sudah pagi hari.


Namun, Vanya memilih untuk menarik Riki untuk ikut naik ke atas ranjang.


Membuat Riki shock seketika itu, tidak mengerti Vanya bisa melakukan itu.


Sudah jelas ini adalah hal yang sangat sulit untuk ditolak oleh seorang Riki.


"Vanya!"


"Mas?" Vanya pun menatap Riki dengan penuh harap, dirinya ingin bersatu dengan Riki dan mungkin ini adalah jalan pintas yang terbaik.


"Vanya, jangan gila!" Riki pun memilih untuk segera turun dari ranjang, dirinya benar-benar tidak ingin kelepasan.


Sementara Vanya menunjukan wajah kecewanya merasa Riki tidak benar-benar mencintainya.


"Mas, nggak serius sama aku. Ngapain aku di sini?" Vanya pun memilih segera turun dari ranjang, kemudian berniat untuk pergi dari sana.


Tetapi Riki menahannya, ingin menjelaskan sedikit saja agar kekasihnya itu mengerti tentang keadaan ini.


"Mas, nggak mau merusak kamu. Kita belum menikah!" Papar Riki.


"Bilang aja Mas nggak sayang!"

__ADS_1


Riki pun bingung harus mengatakan seperti apa, Vanya tidak ingin mendengar apapun yang akan keluar dari mulutnya.


Tetapi meskipun demikian Riki akan tetap untuk mencoba membuat Vanya mengerti.


"Vanya. Mas, sayang sama kamu. Mas, mau kita menikah dulu."


"Ya udah, ayo kawin lari!" Pekik Vanya.


Riki tersenyum ketika mendengarkan apa yang dikatakan oleh Vanya barusan. Membuat Vanya merasa Riki sedang mengejek dirinya.


"Sayang, menikah tidak segampang itu"


"Katanya Mas cinta, sayang ke aku!" Vanya pun memilih untuk memunggungi Riki, kesal bukan main saat melihat wajah pria yang dicintainya itu.


Sementara Riki mengusap punggung Vanya dengan perlahan.


"Sayang, justru Mas cinta makanya Mas mau menikahi dulu. Kalau cuma mainan, kenapa tidak dari awal saja? Setelah itu kamu Mas buang!" Papar Riki.


Vanya pun merasa terkejut dengan jawaban Riki barusan, membuatnya memutar tubuh menatap Riki dengan perasaan campur aduk.


Cinta ini begitu dalam sehingga tidak ada kesempatan untuk menyakiti seorang wanita yang sangat dicintainya tersebut.


"Mas yakin?"


"Ya," Riki pun memeluk Vanya, dirinya benar-benar tidak pernah bisa untuk berjauhan dengan bocah edan yang sudah berhasil menjungkirbalikkan dunianya hanya dalam waktu sekejap saja.


"Ehem!" Sela pun berdehem, meskipun berdiri di ambang pintu tetapi suaranya cukup terdengar di telinga Vanya dan Riki.


Sela sengaja menyusul ke dalam kamar, tidak ingin kedua orang itu melakukan hal aneh karena Sela merasa Riki begitu lama menuju kamar sementara ada Vanya di sana.


Seketika Vanya dan Riki pun menjauh setelah menyadari kehadiran Sela.


"Vanya, kamu mandi sekarang. Nanti ada Bibi yang membawakan pakaian bersih, kita akan ke rumah orang tua mu. Kali ini Mama yang akan bicara langsung," kata Sela

__ADS_1


Vanya tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Sela, tetapi akankah membuahkan sebuah hasil yang memuaskan atau justru semakin membuat suasana menjadi panas?


Entahlah, namun apapun yang kini dilakukan oleh Sela demi hubungannya dan Riki, Vanya hanya ingin yang terbaik saja.


"Riki, keluar dari kamar ini! Jika kau laki-laki, kita temuin calon mertua mu!" Sela langsung menarik Riki untuk keluar dari kamar membiarkan Vanya di sana membersihkan dirinya.


Setelah pintu tertutup rapat Sela pun menatap Riki dengan tajam.


"Kamu sudah melakukan apa padanya?"


Riki terkejut mendengar pertanyaan Sela.


"Nggak ada, Ma."


"Awas kalau bohong, melahirkan anak tidak mudah. Jika kamu benar-benar mencintainya, minta dulu kepada kedua orang tuanya, dia manusia bukan barang yang mudah kamu pakai dan kamu buang" Papar Sela.


Setelah itu Sela pun memilih pergi, tidak lupa tatapan tajam sebelumnya sudah dilayangkan pada Riki.


Sementara itu Riki hanya menarik napas di tempatnya, hingga pintu pun terbuka. Tampak Vanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Membuat Riki pun meneguk saliva.


"Mas, tergoda nggak? aku cuma mau mengetes doang, takutnya Mas nggak normal!" Ujar Vanya dengan santainya.


Apa?


Tidak normal!


Riki ingin sekali menelan wanita di hadapannya tersebut, tetapi tidak karena nanti dirinya akan berhadapan dengan Sela.


"Cepat masuk atau kau tidak akan bisa jalan!" Kata Riki dengan mengancam.


"Mas, mau matahin kaki aku?" Tanya Vanya dengan polosnya, apa lagi yang membuat seseorang tidak bisa jalan kalau bukan kakinya yang patah.


"Dasar bocah!" Riki lebih memilih mengalah, pergi dari sana adalah sebuah keputusan terbaik.

__ADS_1


Karena Vanya yang ingin menguji malah pada kenyataannya berubah polos!


"Cobaan ini sangat berat!" Gumam Riki menuju kamar tamu.


__ADS_2