
Karena acara pertunangan Felix dan Rena akan di langsungkan dua hari lagi maka persiapan pun perlu dilakukan.
"Aya, cepat Nak!" Jessica mendatangi kamar putri sulungnya, sebab sudah menunggu di teras dari tadi. Anehnya Cahaya tidak juga keluar dari kamarnya.
Cahaya masih memilih berada di bawah selimut, sebab dirinya tidak berminat untuk datang ke rumah Nayla. Kecuali saat Felix tidak ada.
Barulah bersemangat, selain ada Vanya juga ada Nayla dengan masakannya yang menjadi favorit dari lidah Cahaya. Dan saat ada Felix, Cahaya sangat tidak berminat ke rumah Nayla.
"Mom, Aya nggak usah ikut," Cahaya tidak berpindah sedikitpun yang ada semakin memeluk guling yang jauh lebih menyenangkan.
"Kenapa begitu?"
"Ada Felix, aku nggak mau kalau ketemu sama laki-laki paling menyebalkan itu. Mom tahukan aku musuhan sama Felix tiap ketemu, aku selalu terdzolimi."
Jessica pun tersenyum mendengar keluhan putrinya, tetapi sebenarnya Jessica merasa jika Felix memiliki perasaan terhadap Cahaya. Hanya saja Felix lelaki yang tidak pandai dalam mengatakan secara langsung. Tapi anehnya lagi kini Felix dan Rena bertunangan dua hari lagi, bahkan setelah dua minggu ke depannya akan di langsungkan pernikahan. Jessica pun menepis rasa sayang yang dimiliki oleh Felix untuk Cahaya.
"Sayang, ayo dong. Demi Tante Nayla, kamu tahukan? Kalau Tante Nayla itu sangat baik. Apa lagi dia sayang sama kamu," Jessica pun masih memaksa Cahaya untuk ikut dengan nya menuju rumah Nayla. Sampai akhirnya dengan terpaksa Cahaya pun menyetujui sampai di rumah Nayla. Cahaya pun mengomel sendiri.
"Kalau bukan karena, Tante Nayla, males banget," gerutu Cahaya yang berdiri di belakang Jessica.
Jessica dan Nayla berpelukan ala-ala wanita yang tidak pernah bertemu lama padahal paling lama satu minggu tidak bertemu.
"Aya, kasih buahnya ke Tante Nayla."
"Ini Tante," Cahaya pun memberikan pada Nayla yang menerimanya dengan senyuman.
"Kamu apa kabar? gimana rasanya setelah selesai kuliah?" tanya Nayla.
Cahaya kini menjadi seorang Dokter anak, tampaknya dirinya mewarisi ilmu dari sang Daddy, sehingga memilih untuk menjadi seorang Dokter anak. Apa lagi Cahaya sangat suka pada anak-anak, maka semuanya terasa lebih mudah. Cahaya pun tersenyum, sebab dirinya kini sudah menjadi Dokter spesialis.
"Apa mau langsung bekerja?" Tanya Nayla.
"Iya, Tante. Mulai besok aku bakalan kerja di rumah sakit Om Devan," jelas Cahaya.
"Wah, anak pintar," Nayla pun mengacungkan jempolnya, merasa bangga pada Cahaya.
"Padahal dua hari kemarin itu Tante ke rumah kamu juga, tapi kamu yang demam dan kita tidak bisa bercerita banyak."
Lagi-lagi Cahaya tersenyum, dirinya yang memang tidak banyak bicara sehingga tidak memiliki banyak bahan untuk memulai pembicaraan lagi.
"Aya!" Vanya pun melompati sofa untuk segera berdekatan dengan Cahaya.
"Vanya, kamu itu loh!" Nayla menggelengkan kepalanya, karena anak bungsunya itu memang sangat tomboy. Selalu bersikap seperti laki-laki, mungkin karena selalu bersama dengan dua Kakak laki-lakinya.
__ADS_1
"Hehe, maaf Tante," Vanya pun mencium tangan Jessica.
Jessica tersenyum dan sangat mengerti seperti apa Vanya.
"Bagaimana kuliah nya?" Tanya Jessica.
"Aman Tante," dalam hati dirinya kesal sebab skripsi yang membuatnya pusing.
"Bagus," Jessica tersenyum melihat Vanya.
"Ke kamar aku yuk," Vanya langsung menarik tangan Cahaya menuju kamarnya. Cahaya pun mengangguk dan langsung mengikuti Vanya.
Setelah beberapa saat kemudian Cahaya pun keluar dari kamar Vanya, sebab Jessica memintanya menuju ruang keluarga karena akan segera pulang.
"Vanya, Mom bilang udah waktunya pulang. Aku pamit ya."
"Iya, makasih ya udah bantuin," Vanya pun tersenyum, sebab dirinya sedang kebingungan dalam skripsi dan Cahaya adalah anak pintar.
"Belum, itu masih belum selesai," kata Cahaya.
"Iya sih, kapan-kapan aku ke tempat kamu ya. Padahal kamu Dokter tapi tetap mengerti dengan jurusan aku."
"Hehehe, sedikit-sedikit bisa. Kalau kamu mau, kamu bisa minta bantuan aku kapanpun, sedikit-sedikit aku bisa bantu," kata Cahaya kemudian keluar dari kamar Vanya.
"Sakit! Kamu kasar banget sih!" Gerutu Cahaya.
Felix tidak peduli memilih mendekati Cahaya. Cahaya pun merasa horor saat Felix terus berjalan ke arahnya. Dengan langkah kaki pelan Cahaya pun berjalan mundur, hingga akhirnya tubuhnya membentur daun pintu kamar Vanya yang tertutup rapat. Felix tersenyum samar, kemudian meletakkan masing-masing tangan pada pintu hingga Cahaya tidak bisa kemana-mana
"Aku teriak sekarang! Biar seisi rumah tahu!" Ancam Cahaya.
"Oh ya," Felix tersenyum.
"Silahkan saja, kalau bisa kita langsung menikah!" Felix mengangkat sebelah alisnya, lebih baik menikah dengan Cahaya dari pada dengan Rena pikirnya. Cahaya menggeleng cepat, dirinya tidak mau menikah dengan Felix.
"Apaan sih, siapa coba yang mau sama kamu! Lepasin!"
Felix terdiam sejenak memandangi wajah Cahaya, wajah wanita itu memang selalu saja bersinar di matanya. Sampai saat ini pun selalu mampu membuat darahnya serasa mengalir deras.
"Lepas!" Cahaya bersuara pelan, takut ada yang mendengarnya.
Apa lagi Felix mengatakan menikah, tentu akan membuatnya waspada. Felix tersenyum dan menggigit leher Cahaya hingga menimbulkan bekas. Setelah itu melepaskan Cahaya, sebab dirinya tidak ingin khilaf.
"Kamu gila ya!" Kesal Cahaya.
__ADS_1
Felix pun hanya tersenyum, dirinya benar-benar bisa gila karena pesona Cahaya.
"Gila!" Cahaya pun melengos pergi sambil memegang lehernya untuk menutupi bekas yang tampak pada lehernya.
"Anak Mommy, kenapa wajahnya masam begitu?" Tanya Jessica saat melihat wajah Cahaya.
Cahaya pun hanya menatap Felix yang berdiri tidak jauh darinya dengan kesal, kemudian segera berlalu menuju mobil.
"Nayla, aku balik ya. Besok aku ke sini lagi," pamit Jessica.
Jessica pun menyusul Cahaya yang sudah berada di dalam mobil, kemudian bertanya tentang sikap tidak sopan Cahaya yang tidak mencium tangan Nayla sebelum pulang.
"Aku nggak mau ke rumah Tante Nayla, kecuali nggak ada Felix!" Tegas Cahaya.
Sesampainya di rumah Cahaya masih saja kesal, dirinya langsung masuk ke dalam kamar.
"Aya?" Jessica memanggil putrinya, tetapi tidak ada jawaban.
Cahaya memilih segera menuju kamarnya, bahkan saat menaiki tangga pun bertemu dengan Alvaro dirinya hanya membuang tatapan mata ke arah lainnya.
"Jelek banget, muka atau pedal rem?" Celetuk Alvaro, tetapi tidak dihiraukan oleh Cahaya.
Sampai di dalam kamar Cahaya langsung mengunci pintu, kemudian melepaskan tangannya yang dari tadi terus memegang lehernya. Tampaklah sebuah lukisan merah keunguan bekas gigitan Felix. Seketika itu mengompres dengan air hangat agar bekas tersebut segera menghilang. Sejenak Cahaya menghentikan aktivitasnya, kemudian melihat ponselnya yang berdering.
"Halo," jawab Cahaya dengan tetap berusaha tenang.
"Mau aku tambah lagi?" Tanya seseorang diseberang sana.
Nomor tanpa nama itu adalah Felix, Cahaya tahu itu.
"Kamu maunya apa sih? Kenapa setiap bertemu, kamu selalu ngerjain aku?" Kali ini Cahaya pun bertanya, sebab dari dulu Felix tidak pernah bosan berulah padanya. Felix pun di seberang sana mendengarkan omelan Cahaya.
"Dasar nggak jelas!" Kesal Cahaya.
"Nanti aku tambahkan di sebelahnya lagi," kata Felix melalui sambungan telepon.
"Ha!" Cahaya tidak henti-hentinya dibuat shock oleh Felix.
"Kau tahu?"
"Tidak!" Jawab Felix dari sebrang sana dan langsung memutuskan sambungan telepon seluler sebelum berpamitan. Apa lagi mendengarkan lanjutan dari ucapan Cahaya.
Cahaya pun meremas ponselnya, membayangkan jika itu adalah wajah Felix.
__ADS_1
"Demi apa coba? Kenapa dia sangat menyebalkan!" Gerutu Cahaya dengan menahan kekesalan.