Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Lalu bagaimana jika selamanya?


__ADS_3

Mata tidak bisa terpejam sekalipun sudah berusaha tetapi begitu sulit untuk masuk dalam mimpi. Bagaimana jika setelah menutup mata maka besok matanya tidak akan terbuka lagi? bagaimana jika inilah saat-saat terakhir bersama dengan orang-orang tercintanya? padahal tidur dengan pelukan Alex yang begitu menghangatkan, Jessica ingat saat itu saat-saat beberapa tahun silam.


Flashback on


"Jessica, kita jalan-jalan yuk" ajak Rara yang selalu setia menemani adiknya bahkan di saat sempitnya waktu luang, karena dirinya yang sudah memiliki dua orang anak bahkan harus mengurus suaminya saat pulang bekerja, tapi itu tidak masalah Rara begitu menyayangi Jessica sehingga selalu berusaha untuk membuat adiknya yang terpuruk kembali ceria.


"Ke mana?" tanya Jessica.


"Kata Paman ada acara pasar malam di lapangan sana, kita ke sana yuk?" ajak Rara sambil melihat Jessica dengan tersenyum lembut kepada Jessica.


Jessica pun mengangguk setuju, karena malam-malam begini dirinya selalu kesepian sampai di keramaian pun malah merasa sunyi, hampa tanpa ada siapapun. Padahal orang-orang penuh dengan mengerumuni tempat tersebut hingga akhirnya mata Jessica menatap sepasang suami istri, bibir Jessica pun tersenyum hanya saja entah mengapa air matanya tetap menetes begitu saja.


Bolehkah Jessica iri?


Saat melihat suami dari wanita yang tengah mengandung itu sedang menuntun istrinya untuk berjalan.


Ah! rasanya terlalu jahat.


Tapi itulah yang di ada di hati, seketika bayangan wajah Alex kembali membayang, bukan soal cinta hanya saja janin yang kini di rahimnya Alex lah Ayahnya.


Bagaimana bisa melupakan seorang pria yang sudah menyakitinya tersebut? namun ada benih yang malah membuat kenangan tanpa bisa di lupakan.


Dalam hati Jessica pun sempat berdoa semoga saja anaknya tidak mirip dengan Alex agar bayang-bayang masa lalu menyakitkan itu tidak pernah terngiang-ngiang di benaknya selalu.


"Jessica" Rara pun menyadarkan Jessica dari lamunan nya.


Jessica mengusap air mata yang ternyata sudah membasahi pipi.


"Kamu mikirin apa?" Rara tahu sepertinya Jessica sedang dalam keadaan mengingat masa lalunya, tapi sejak saat itu kini Rara sangat merindukan senyum Jessica, adiknya yang ceria kini berubah seketika entah kemana perginya senyum yang dulu selalu menghiasi bibir indahnya.


"Kak kita pulang aja ya?" ucap Jessica.


Rara hanya bisa mengangguk lemah, bingung cara menghibur adiknya bagaimana hatinya juga ikut bersedih tiada terkira.


Sampai akhirnya kembali ke rumah keadaan masih sama saja Jessica masih diam dan akhirnya merentangkan tubuhnya di atas ranjang.


Lagi-lagi dirinya membutuhkan belaian kecil seperti mengelus perutnya yang kini kian terlihat membesar.


Sayang dirinya begitu malang, tidak satu kali pun pernah tahu rasanya dimanja saat sedang mengandung, pernah Jessica ingin kembali pada Alex karena sudah tidak sanggup menahan diri untuk menanggung beban sendiri, keinginan saat mengandung membuatnya membutuhkan perhatian, walaupun keluarganya terus memberikan perhatian tetap saja tidak bisa memberikan seperti apa yang diinginkannya, perhatian itu tidak akan pernah bisa terpenuhi selain dari seorang suami pada istrinya, lagi-lagi semua terpatahkan oleh luka yang pernah ada.


"Ma, aku mau ketemu Alex" pinta Jessica saat beberapa hari kemudian setelah menimbang.


Apalagi hari itu Inggit datang untuk melihat keadaannya.

__ADS_1


"Ngapain? mau disiksa lagi?" tanya Inggit penuh kemarahan.


"Kamu mau bertemu Alex lalu dia menyiksa mu lagi? begitu?" tatapan tajam Inggit tidak di ragukan lagi, betapa dirinya sangat membenci Alex.


Jessica hanya bisa diam, mengusap air mata yang menjadi teman setianya sepanjang hari tanpa terkecuali.


"Kamu tetap di sini! mulai dari awal dan jangan pernah berpikir untuk kembali pada lelaki kurang ajar itu" tegas Inggit.


Jessica juga ingin menjadi kuat tanpa kembali pada Alex, namun cobaannya begitu berat, rintangan yang melintang kadang sulit untuk di taklukan, tapi apa daya semua yang dikatakan oleh Inggit memang benar adanya, Jessica pun merasa Alex memang tidak mengharapkan dirinya dan anaknya.


Mengingat sampai saat ini pun Alex tidak pernah mencarinya, Alex bukan seorang pria dari kalangan bawah mungkin jika sungguh-sungguh mencarinya pasti sudah menemukan dirinya dengan mudahnya.


Tapi tidak!


Anggap saja dirinya hanya sampah, tapi apakah begitu juga pada janinnya?


Hari-hari berlalu, malam-malam pun terlewat dengan penuh air mata, kerinduan mendapatkan sedikit perhatian dari Ayah janinnya, terdengar memuakk Jessica pun menyadari tapi batin tidak pernah bisa menyangkalnya.


Sayang kenyataannya hanya guling yang selalu ada di peluknya, janinnya yang menjadi penyemangat saat ini.


Flashback off


"Kamu belum tidur?" Alex pun terbangun dan melihat Jessica masih belum memejamkan matanya.


"Kenapa?" tanya Alex lagi


Jessica menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan berhadapan bisa membuat keadaan lebih tenang.


"Kamu menginginkan sesuatu? aku tidak sabar menunggu besok karena apa? karena besok aku yang akan memeriksa" Alex mengelus perut rata Jessica.


Kemudian sedikit merabanya, merasakan dengan tangannya bahwa benar ada janin di dalam sana walaupun sambil berbaring tetapi dirinya bisa melakukannya.


"Sebenarnya aku sudah yakin kamu sedang hamil, hanya saja aku takut jika hanya perasaan ku karena aku yang sangat menginginkan nya" ucap Alex.


"Ya aku tahu" jawab Jessica.


'Karena itu aku tidak bisa mengatakan semuanya, aku tidak mau kamu merasa bersalah karena sudah menukar pil itu' batin Jessica.


"Aku senang sekali" ucap Alex dengan wajah penuh binar tidak bisa ditutupi perasaan bahagia itu terpancar jelas tanpa terkecuali.


"Aku boleh minta sesuatu nggak?" tanya Jessica.


"Kamu mau minta apa? tentu saja boleh!" jawab Alex cepat.

__ADS_1


Lama Jessica terdiam tanpa kata, menatap wajah Alex yang penuh bahagia.


"Kamu mau apa? mau makan apa atau sesuatu lainnya?" tanya Alex dengan tidak sabaran karena Jessica hanya diam saja.


Jessica pun menggeleng lemah kemudian tangannya melingkar di perut Alex.


"Jangan pernah marah yah kalaupun aku melakukan kesalahan, jangan pernah mengulur-ulur waktu ketika aku sedang membutuhkan mu karena ada sesuatu yang juga tidak kalah penting, tolong. Aku yakin suatu hari kamu pasti merindukan masa-masa bersama ku" ucap Jessica penuh harap.


"Tentu" jawab Alex dengan cepat tanpa tahu apa yang kini dimaksud oleh Jessica.


"Aku juga masih ada satu permintaan," ucap Jessica lagi.


"Ada lagi?" tanya Alex.


Jessica mengangguk.


"Aku mau Devan saja yang menjadi Dokternya," ucap Jessica.


"Devan? kenapa, aku juga Dokter?" Alex bingung dan bertanya-tanya apakah dirinya kalah hebat dari Devan.


"Jangan berpikir jauh, aku tidak mencintainya lagi yang ada di hatiku cuma kamu, aku tidak pernah berbohong itu hanya keinginan ku saja" ucap Jessica.


Jessica bukan bermaksud untuk terus berhubungan dengan mantan suaminya tersebut, hanya saja Devan lah orang yang paling bisa menjaga rahasianya, apalagi Devan dulu sudah mengetahui tentang keadaannya, walaupun tidak dengan sekarang yang jauh lebih buruk lagi, jika Dokter lainnya takut malah diam-diam mengatakan pada Alex.


"Kamu percaya sama aku?" tanya Jessica lagi saat Alex hanya diam saja.


"Kamu serius udah nggak ada perasaan sama Devan?" tanya Alex.


"Aku wanita yang tidak bisa mencintai seseorang yang sudah bukan milikku lagi, aku hanya berusaha untuk mencintai apa yang sudah menjadi milikku" ucap Jessica.


"Apa aku sudah ada di hatimu?" tanya Alex.


Alex sangat menunggu jawaban dari Jessica, diamnya Jessica membuat perasaan semakin penasaran meraung-raung begitu saja.


Takut? tentu saja bukan hanya sekedar ingin memiliki raga.


Apakah terlalu serakah?


Alex juga menginginkan cintanya terbalas sehingga bisa mengikat dalam segala keadaan tetap bersama tidak was-was seperti ini, rasa takut ditinggalkan tentu ada.


"Aku nggak tahu, tapi sekarang aku nyaman di dekat kamu, aku takut ketika kamu pergi dan tidak terlihat dari pandangan mata ku walaupun sedetik saja" Jessica mengelus wajah Alex menatap dengan pandangan mata yang begitu dalam.


"Lalu bagaimana jika selamanya?"

__ADS_1


__ADS_2