Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Terlalu terkejut...


__ADS_3

Alunan musik pun terdengar dengan merdunya, pesta dansa pun kembali berlanjut. Betapa terkejutnya Cahaya saat melihat siapa yang menjadi teman dansanya saat ini.


Felix!


Lelaki kurang ajar yang selalu saja berusaha di hindari nya.


"Tidak ada yang boleh pergi dari tempatnya, siapapun pasangan dansanya harus menerima," kata pembawa acara dari depan sana.


"Siapa yang menolak akan di berikan hukuman, yaitu mencium pasangan dansa nya." Cahaya pun terkejut mendengarnya.


Sedangkan Felix tersenyum. Riki memang sangat berbakat untuk menjadi sahabat sejatinya. Sebab, itu semua Riki yang merencanakan sesuai dengan keinginan Felix yang ingin berdansa dengan Cahaya. Saat berada di kamarnya beberapa saat lalu, Riki pun menyusulnya. Kemudian mengatakan Cahaya berdansa dengan Adnan.


"Kau harus membuat Cahaya berdansa dengan ku, atau burung playboy mu aku potong!" Ancam Felix lalu pergi.


Riki pun memegangi celananya merasa ngilu. Apa lagi itu adalah modalnya selama ini untuk mendekati para wanita di luar sana. Setelah Felix benar-benar pergi, Riki yang menyayangi dirinya sendiri segera menyusun strategi. Meminta pembawa acara untuk menjalankan ide nya, kemudian Felix pun hanya mengikuti alurnya. Pada dasarnya Felix adalah lelaki yang pintar, kepintaran Devan tampaknya juga di warisi pada putra sulungnya Felix.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Cahaya.


Lamunan Felix pun buyar seketika itu juga tapi tetap saja tersenyum samar. Sebab, rencana Riki berhasil dengan jalan sempurna. Setelah pesta ini selesai, Riki harus mendapatkan hadiah darinya.


"Mari berdansa," dengan kasar Felix menarik pinggang Cahaya.


Cahaya pun tertarik ke depan tubuhnya tanpa jarak dari Felix.


"Apaan sih?" Cahaya sangat tidak nyaman untuk itu semua. Tetapi, Felix tidak perduli sama sekali. Lagi-lagi sebuah ancaman terdengar di telinga Cahaya.


"Kamu mau mendapatkan hukuman sesuai yang sudah di tentukan?"


Dengan cepat Cahaya pun melingkarkan tangan nya pada tengkuk Felix.


"Ini terpaksa, ingat! Terpaksa!" Kata Cahaya di telinga Felix.


Terserah apa saja yang ingin di katakan oleh Cahaya, tetapi saat ini dirinya merasa begitu nyaman bersama dengan Cahaya. Lupakan esok hari dan selanjutnya, Felix sedang menikmati masa-masa berdua saja dengan Cahaya. Dengan sengaja Cahaya mengarahkan sepatu hak tinggi nya ke arah kaki Felix. Felix pun menahan sakit, sedangkan bibir Cahaya tersenyum bahagia melihat Felix menderita. Felix tidak mau kalah tentu nya. Jika Cahaya melakukan hal yang membuat Felix kesakitan, maka Felix sebaliknya. Beruntung suasana pun mendukung, karena lampu yang redup agar terkesan lebih romantis.


Kesempatan tidak boleh disia-siakan.


Felix memilih menggigit pundak Cahaya.


Kurang ajar!

__ADS_1


Cahaya yakin pasti ada bekas di sana.


"Felix jangan gila," kata Cahaya di telinga Felix.


"Kau bisa melakukan yang lainnya kalau kamu mau," bisik Felix dengan senyum penuh kemenangan.


"Dasar gila!" Cahaya pun semakin menekan sepatu nya pada kaki Felix.


Tapi tetap saja di balas kembali, Felix dengan sengaja memberikan gigitan cinta yang merah keunguan. Dan pasti akan tercipta. Cahaya pun memilih mengalah, memilih melepaskan kaki Felix dari hantaman sepatu hak tinggi nya. Begitu pun dengan Felix yang seketika menghentikan aksinya. Sebab, semakin sakit terasa akan semakin membuat nya bertambah kencang menggigit Cahaya yang kini berpindah pada tengkuk. Seperti itu pula dengan perasaan, semakin Cahaya menjauh dan menghindari nya. Maka dirinya akan semakin berusaha keras untuk mendapatkan Cahaya dengan cara apapun.


"Kita harus berbicara!" Cahaya menarik Felix keluar, menariknya menuju taman belakang.


Cahaya sudah sangat hafal dengan rumah tersebut, sebab sejak kecil sudah sering bertandang ke rumah milik Nayla itu.


"Kenapa ke sini? Seharusnya ke kamar! Agar lebih leluasa," kata Felix saat ternyata mengetahui Cahaya membawa nya menuju taman belakang.


Cahaya pun menghempaskan tangan Felix, sungguh yang di ucapkan oleh Felix sangatlah menjengkelkan sekali.


"Maksud mu apa?" Tanya Cahaya merasa Felix terus saja menganggap nya sebagai wanita nakal.


"Aku?" Felix pun duduk di atas gazebo dengan santainya melihat Cahaya di hadapannya yang tengah menahan amarah.


"Iya! Siapa lagi selain kamu!" Cahaya berkacak pinggang menatap Felix dengan menantang.


"Kamu pikir aku wanita murahan?"


"Loh, kenapa begitu?" Tidak ada raut kemarahan, yang ada hanya tersenyum semakin mengagumi kecantikan wajah Cahaya.


"Mana ponsel kamu! Aku yakin leher aku berwarna sekarang!"


"Oh, jadi kamu mau aku warnai?" Goda Felix dengan senyuman nakal nya.


Cahaya pun mengacak rambut Felix, tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Yang jelas dirinya begitu kehilangan kesabaran untuk menghadapi Felix yang menjengkelkan.


"Ahahhaha," Felix pun tersenyum dengan cepat menarik pinggang Cahaya hingga berakhir duduk di atas pangkuan nya. Cahaya belum menyadari posisinya saat ini, sehingga terus saja menarik rambut Felix dengan kencangnya.


"Kak Aya!" Teriak Vanya.


Cahaya pun mendengar suara itu, seketika itu dirinya tersadar dengan posisinya yang duduk di pangkuan Felix. Dengan cepat Cahaya pun meloncat, turun dari atas pangkuan Felix.

__ADS_1


"Vanya, ini nggak seperti yang kamu pikirkan," Cahaya takut jika Vanya berpikir dirinya dan Felix memiliki hubungan khusus.


Apa lagi kini Felix sudah bertunangan dengan Rena.


Tidak!


Cahaya tidak mau di anggap sebagai wanita perusak hubungan orang. Bukan hanya hubungan orang jika itu terjadi, hubungan keluarga pun bisa rusak karena dirinya.


"Memangnya aku mikirin apa?" Tanya Vanya. Vanya memang berbeda, otaknya sedikit lelet dan juga memiliki hobby berbelanja. Itu adalah sikap dari Oma Ana yang kini di warisinya, jadi keluarga besarnya tidak heran lagi.


"Ya," Cahaya lupa jika Vanya adalah orang paling aneh.


"Kamu mikirin apa?" Cahaya pun mulai menormalkan pikirannya berbicara dengan Vanya harus dalam keadaan baik-baik, jika tidak kita bisa kehilangan kesabaran. Atau mungkin ikut di buat gila.


"Tadi katanya kamu tahu, sekarang kok tanya balik?"


Felix pun mengeluarkan dompetnya, kemudian mengeluarkan black card milik nya.


"Berbelanja lah, agar otak mu tidak tergeser!" Kata Felix.


Vanya pun tersenyum.


"Makasih Kakak aku," Vanya memeluk Felix kemudian pergi dengan rasa bahagia dan melupakan apa yang di lihatnya karena ada black card yang jauh lebih penting untuk di pikirkan.


Cahaya pun melongo melihat Vanya kemudian beralih melihat Felix. Felix pun mengangkat bahu nya dengan santai seakan biasa saja.


"Felix, ini untuk terakhir kalinya aku peringatkan! Jangan pernah lagi melakukan hal tadi!" Cahaya pun kembali membahas tentang beberapa saat lalu.


Felix hanya diam saja, anggap saja peringatan itu hanyalah angin lalu.


"Felix! Kamu dengar aku atau tidak!" Seru Cahaya.


Felix pun bangun dari duduknya dan mencium kening Cahaya.


"Aku cinta kamu!"


Setelah mengatakan itu, Felix pun berlalu pergi. Cahaya mematung seketika mendengar pengakuan Felix barusan.


Cinta?

__ADS_1


Maksudnya apa?


Cahaya tidak mengerti, bukankah Felix dan Rena akan segera menikah. Cahaya benar-benar terdiam dengan pikiran kosong, terlalu terkejut.


__ADS_2