
Sepulang dari sekolah kini Vanya berada di kediaman Sela, sedang makan siang bersama. Semuanya tampak biasa saja, tanpa ada yang berbicara sama sekali.
"Kamu tidak ingin berenang?" Tanya Sela.
Sebab, biasanya Vanya akan selalu meminta ijin untuk berenang sepulang dari sekolah. Mungkin juga sudah cukup lama Vanya tidak berenang. Apa lagi Sela tidak tahu mengapa Vanya tak pernah datang ke rumahnya selama Riki berada di luar Negeri. Tanpa di ketahuinya jika bocah itu sempat di landa kegalauan tingkat tinggi akibat rasa cemburu yang luar biasa.
"Lagi nggak pengen Ma, aku lagi mager" jawab Vanya sambil mengunyah makanannya.
"Begitu," Sela pun mengangguk mengerti.
"Aku ke kantor dulu ya, Ma," Riki pun meneguk mineral kemudian bangkit dari duduknya.
"Iya, tapi Vanya belum boleh pulang. Mama sendirian di rumah nggak punya teman," kata Sela.
"Ya Ma, aku pulangnya setelah Om Riki pulang," jawab Vanya.
Tapi apa yang di katakan oleh Vanya malah membuat Sela tertawa.
"Om? Ahahahhaha......"
Tawa Sela benar-benar menggelegar sempurna, Vanya sangat membuatnya terhibur dalam sekejap saja.
Inilah salah satu alasan Sela menyetujui Riki segera menikahi Vanya bahkan sebelum keduanya berpikir untuk menikah Sela sudah berusaha untuk menjodohkan keduanya.
Tapi keduanya jelas menolak dengan tegas, namun siapa sangka ternyata kini malah keduanya yang mengatakan akan menikah dalam waktu dekat ini. Semuanya sungguh sangat luar biasa dan juga penuh dengan kejutan.
Sementara Riki menunjukan wajah masamnya menatap Vanya dengan gemas. Untung ada Sela, jika tidak maka bibir Vanya harus di hukum karena berani membuatnya menjadi bahan tertawaan.
"Aku salah ya, Ma?" Vanya pun memasang wajah polosnya, tidak mengerti penyebab pasti Sela tertawa hingga begitu menggelegar sempurna.
"Nggak sayang, kamu tidak salah. Dan, Om Riki pergi sana!" Sela mengusir Riki di iringi dengan tawa yang masih saja menggelegar sempurna, bagaimana tidak? Wajah kesal Riki juga terlihat sangat lucu di mata seorang Sela.
Kapan lagi bisa menertawakan putra kesayangan yang sangat nakal itu.
"Sayang, panggil Mas!" Pinta Riki.
"Hihi," Vanya pun cengengesan setelah mengetahui kesalahannya.
"Ya ampun, malah cengengesan!" Kata Riki lagi dengan menahan dirinya sekuat tenaga.
__ADS_1
Sementara Sela semakin di buat tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Riki beradu dengan wajah polos Vanya.
"Ahahahhaha."
Berdekatan dengan Vanya benar-benar obat mujarab untuk menyembuhkan segala penyakit, terutama darah tinggi yang bisa langsung normal. Tanpa menelan obat yang sangat pahit sekalipun, ya ampun menantu impian itu adalah Vanya. Vanya yang apa adanya membuat pelangi tanpa sadar di keluarga Sela. Sela semakin menyukai Vanya dan semakin tidak sabar menantikan resminya Vanya menjadi anggota keluarganya dan mereka akan tinggal bersama. Entah tingkah konyol apa lagi yang akan terlihat setelah itu.
"Baiklah, Mama ke kamar duluan ya Vanya, setelah selesai makan datang ke kamar Mama. Mama punya sesuatu untuk kamu," Sela pun pergi setelah Vanya mengangguk setuju, selanjutnya Sela akan menunggu Vanya di dalam kamarnya. Sambil Sela beristirahat untuk memulihkan tenaga yang terkuras hari ini.
Riki beralih berdiri di samping Vanya yang sebelumnya duduk saling berhadapan dengan dirinya, tepatnya Vanya duduk bersebelahan dengan Sela. Tatapan mata Riki malah membuat Vanya salah tingkah.
Aneh bukan?
Tapi itulah yang terjadi saat ini Riki benar-benar terlihat tampan di matanya bahkan kini Vanya baru menyadarinya. Tidak ada lagi duda lapuk yang ada duda keren. Ah, Vanya bisa gila kalau terus berhadapan dengan Riki.
"Kenapa menatap ku seperti itu? Aku memang tampan sayang," goda Riki.
Vanya pun memalingkan wajahnya karena tertangkap basah menatap wajah Riki dengan penuh kekaguman.
"Om, jangan liatin aku terus dong. Aku sesak tahu Om!"
Vanya tersenyum mendengarnya.
"Ya terus?" Vanya tidak mengerti sama sekali maksud Riki bahkan tidak juga ingin mengerti karena Vanya memang tidak ingin semakin jantungan jika terus berada di dekat Riki.
"Sayang, tatap aku."
Vanya pun menarik napas dan menatap Riki dengan melebarkan kedua matanya.
"Hehehe," Riki tersenyum melihat kekonyolan Vanya.
"Ketawa, tadi katanya dilihatin?"
Riki pun melihat sekitarnya, tidak terlihat siapapun hingga akhirnya merebut sendok di tangan Vanya. Bahkan menjauhkan piring yang masih berisi makanan yang seharusnya masih di makan oleh Vanya.
"Itu piring aku Om, aku masih makan!" Vanya yang kesal pun bangkit dari duduknya, menatap Riki dengan tajam.
Tetapi Riki malah tidak perduli dan mengangkat tubuh mungil Vanya hingga duduk di atas meja.
"Om?" Vanya pun panik saat melihat di mana dirinya duduk. Vanya pun melihat sekelilingnya, bagaimana jika Sela tiba-tiba muncul dan melihatnya? Duduk di atas meja sangat tidak sopan bukan? Vanya benar-benar di buat panik seketika itu.
__ADS_1
"Om, turun!"
Riki pun mendekati Vanya dan melihat dengan jarak yang lebih dekat. Tidak peduli pada Vanya yang meminta untuk diturunkan.
"Om?"
"Sssstttt," Riki pun mengarahkan jari telunjuknya pada bibir Vanya membuat bibir wanita itu untuk tidak lagi bersuara. Vanya pun terdiam bahkan menegang saat Riki semakin mendekati bibirnya. Menciumnya dengan perlahan namun penuh cinta, rasanya begitu luar biasa membuat Vanya pun terbuai seketika. Namun, setelah itu Vanya pun menjauh. Dirinya takut ada yang melihat apa yang mereka lakukan.
"Om, turunin. Takutnya ada yang lihat!"
"Tidak ada siapa-siapa."
Riki pun kembali menarik tengkuk Vanya, mencium bibir bocah itu dengan perlahan hingga akhirnya ciuman pun semakin kasar dan menuntut.
"Sssstttt, Om," dengan polosnya Vanya pun mendesah.
Membuat Riki semakin merasa panas dan terpancing oleh gairah bocah yang kian semakin membuatnya menjadi kepanasan.
Hingga akhirnya tangan Riki pun menelusuri lekuk tubuh Vanya, semakin membuat Vanya menggeliat hebat.
Dirinya yang baru merasakan sentuhan sedemikan rupa dengan mudahnya terbuai dan tidak ingin di lepaskan sama sekali.
Bocah polos itu bahkan membiarkan saat tangan Riki menelusup masuk ke dalam kemejanya. Meraih dua benda kenyal yang membuat Vanya semakin menggeliat.
"Sssstttt,......"
"Kurang ajar!"
Riki pun segera mengakhiri semuanya, dirinya tidak ingin membuat Vanya rusak sebelum waktunya.
Dengan segera menurunkan Vanya dari atas meja dan tanpa bicara sama sekali memilih untuk pergi begitu saja. Masuk ke dalam kamarnya untuk menuntaskan hasratnya yang bangkit karena Vanya.
Sementara Vanya merasa malu setelah menyadari apa yang barusan terjadi, napasnya tersengal-sengal hingga meneguk mineral dengan cepat.
Merapikan pakaiannya dengan segera, merasa dirinya tidak lagi ingin melepaskan Riki setelah apa yang terjadi barusan.
Meskipun tidak pada intinya, tetap saja Riki harus bertanggung jawab.
Sebab Vanya tidak pernah melakukan seperti itu dengan lelaki manapun.
__ADS_1
Vanya benar-benar menikmatinya, tapi tidak masalah. Sebentar lagi juga Riki akan menikahinya.