
Kini Vanya duduk di gazebo kayu yang terletak di bagian belakang rumah besar milik keluarga besar Riki, tepatnya masih berada di kediaman Sela.
Matanya terus saja memandangi cincin berlian yang melingkar di tangannya. Vanya merasa itu mungkin sedikit berlebihan, tetapi Vanya pun tidak enak untuk menolaknya.
Melihat wajah Sela begitu tulus padanya, bahkan Vanya takut Sela tersinggung jika terus bersikeras untuk menolak pemberian Sela. Sampai akhirnya tiba-tiba saja Riki muncul kembali di hadapannya.
Wajah Vanya pun kembali memerah, belum juga Riki berbicara karena Vanya mengingat peristiwa siang tadi.
Seharusnya Vanya langsung pulang saja, mengapa masih di sana duduk dengan berdiam diri.
Bahkan hari padahal sudah sore, lihatlah sekarang dirinya mendadak tidak memiliki muka di hadapan Riki.
Padahal selama ini Vanya tidak pernah perduli akan hal demikian, apa lagi untuk memikirkan orang lain sangatlah tidak penting baginya.
Lagi-lagi kini dan sebelumnya berbeda, jika dulu Riki hanya orang lain maka kini adalah yang spesial dan sepertinya tidak akan mungkin tergantikan.
Inikah cinta?
Mengapa rasa ini begitu berbeda, rasanya semuanya terlihat indah di matanya.
Bahkan hari pun begitu berbunga-bunga hanya karena melihat seseorang yang sudah mengenalkan mu apa itu cinta.
"Kenapa?" Tanya Riki saat melihat Vanya yang gelisah ketika menyadari kehadirannya.
Riki pun merasa tidak ada kesalahan yang di lakukan olehnya ataukah mungkin wajahnya yang begitu menyeramkan?
Sepertinya tidak, lantas apa?
"Aku, pulang dulu ya, Om," Vanya langsung bangkit dari duduknya saat Riki duduk di sampingnya.
Untuk apa?
Untuk menghindari Riki akibat rasa malu yang terasa setelah adegan siang tadi di meja makan.
Bahkan untuk menatap meja makan saja Vanya merasa tidak berani.
Karena apa?
Karena malu pula pada meja makan yang menjadi saksi bisu.
Aneh bukan?
Tentu, cinta memang tidak mudah namun tidak pula sulit jika sudah bertemu dengan orang yang di rasa tepat.
"Nanti saja, biar Mas yang mengantarkan mu" tangan Riki dengan cepat menggapai lengan Vanya.
Hingga akhirnya Vanya pun tidak bisa pergi kemana-mana, sedetik kemudian menarik Vanya untuk duduk di pangkuannya.
Jantung Vanya kian berdegup kencang untuk pertama kalinya duduk di atas pangkuan Riki.
Rasanya tidak nyaman tentunya, karena perasaan yang tidak menentu ini sangat menyiksa.
"Om?"
"Nanti, Mas yang mengantarkan mu pulang sayang," bisik Riki.
Kurang ajar.
__ADS_1
Bisikan pria yang sepertinya cukup handal dalam bercinta itu membuat Vanya seketika menegang, belum lagi napas hangat Riki yang berhembus di tengkuknya seakan membuat suasana semakin menginginkan lebih.
Ya.
Vanya yang kian merasa penasaran akan hubungan itu setelah tadi, itu karena ulah Riki yang mulai mengenalkan padanya apa itu belaian panas.
Karena rasa cinta yang menggebu Vanya tidak bisa menolak.
Beruntung Riki masih bisa mengendalikan diri, sebab jika tidak maka habislah Vanya saat itu juga. Karena menginginkan lebih dari sekedar belaian saja.
Meskipun bibirnya tidak berkata secara langsung tetapi tubuhnya mengatakan, iya.
"Aku sangat merindukan mu," bisik Riki sambil menyelipkan sehelai rambut pada bagian telinga Vanya.
"Tapi, beberapa jam yang lalu kita juga ketemukan Om?" Tanya Vanya bingung.
"Iya, tapi Mas tidak bisa jauh dari mu," bisik Riki lagi.
"Om, geli banget sih! Jauh, jauh dong!"
"Hehe," Riki pun terkekeh geli melihat kelakuan polos Vanya.
Tapi bagaimana lagi, Vanya sangat membuatnya jatuh hati.
Sehingga tak ada kata yang mampu menjelaskan segala rasa yang telah bersemi di dalam dada.
"Rambut mu wangi sekali, Mas suka."
Mungkin itu adalah sesuatu yang sederhana, menurut Riki. Namun, bagaimana dengan Vanya.
Dari tengkuk Vanya sampai ke ujung kaki rasanya bergetar, padahal Riki hanya menghirup aroma rambutnya saja.
Hingga akhirnya Riki pun mengelus tengkuknya, Vanya hanya meneguk saliva saja merasakan gelagat aneh pada dirinya.
Hingga akhirnya perlahan Riki pun menarik tengkuk Vanya.
"Om!" Vanya pun menjauhkannya.
"Sayang, tidak ada orang. Tidak usah khawatir," tatapan Riki masih tertuju pada bibir Vanya hingga akhirnya Vanya pun menurut saja.
Keduanya saling berciuman satu sama lainnya, meskipun Vanya tidak terlalu lihai tapi cukup merasa Riki bahagia.
Hingga terdengar suara derap langkah kaki yang semakin mendekati.
"Vanya, kamu ngapain?" Tanya Sela yang tiba-tiba muncul.
"Mama?" Vanya pun shock melihat kehadiran Sela.
"Kamu terkejut? Maaf," Sela pun merasa tidak enak hati setelah tahu membuat Vanya terkejut.
Vanya terlihat sangat tegang, tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Dirinya juga takut jika saja Sela sempat melihat apa yang barusan terjadi antara dirinya dan Riki.
Mungkin saja Sela akan sangat membenci dirinya, ini sungguh sangat menegangkan bagi seorang Vanya.
"Kamu kenapa?" Sela menyadari sesuatu yang cukup membuat Vanya tidak nyaman. Meskipun sebenarnya dirinya tidak tahu pasti apa yang terjadi.
__ADS_1
"Aku, em......" Vanya tidak melihat apa-apa, tidak ada Riki sama sekali.
Kemana Riki?
Vanya pun tampak mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Riki yang sebelumnya berada di sampingnya.
Tepatnya keduanya cepat-cepat berdiri sebelum Sela memergoki mereka berdua yang sedang dalam pangutan itu.
Dan, Vanya pun tidak tahu apakah Sela sempat melihatnya atau tidak.
Malahan yang menjadi pertanyaan saat ini adalah Riki, entah di mana Om-Om nakal yang kini sudah mengajarkan Vanya dewasa sebelum waktunya.
Sedangkan Sela malah melihat sesuatu yang berbeda pada Vanya, ada sesuatu yang membuat Sela bertanya-tanya.
"Leher kamu kenapa?"
"Leher?" Vanya tidak mengerti sama sekali dengan pertanyaan Sela hingga membuatnya segera memegang lehernya.
Sela hanya diam menatapnya, pikirannya kini hanya tertuju pada Riki.
Tapi apakah Riki sudah pulang?
Ini sangat tidak beres, Sela tahu itu merah tanda apa, dirinya sudah puluhan tahun menikah. Tidak lagi bisa di bohongi dalam hal seperti ini.
Sudah pasti itu adalah bekas gigitan lokal yang seharusnya belum boleh terjadi.
Matanya benar-benar tertuju pada Vanya, menatap penuh intimidasi.
"Kamu barusan bertemu Riki?" Tanya Sela kian semakin penasaran saja.
"Iya, Ma," Vanya pun menutup mulutnya, tapi apakah salah? Memang benar bukan?
Tetapi seharusnya tidak mengatakan pula, tapi bagaimana lagi Vanya tidak pandai berbohong.
Vanya ingin menjerit karena ketakutan, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Em, anak itu memang nakal sekali," Sela pun meremas kedua tangannya, tapi sebentar lagi Riki yang akan di remasnya.
Sementara Vanya masih dalam kebingungan di tempatnya, bertanya-tanya apakah Sela melihat dirinya dan Riki saat bercumbu mesra.
"Lain kali, kalau duda lapuk itu meminta macam-macam kamu harus menolak! Ingat itu, kalau dia ngotot bilang ke Mama! Mama yang akan mematahkan burungnya!" Amarah Sela benar-benar memuncak, tak ingin Vanya hanya menjadi tempat pelampiasan semata.
Bagaimana pun Vanya adalah wanita sama seperti dirinya, bahkan Sela dapat melihat ketulusan dan kepolosan yang terpancar dari mata Vanya.
"Burung Ma?"
"Iya, burung perkututnya itu!"
"Burung perkutut?" Vanya semakin bingung saja sampai di sini.
"Iya, yang di dalam celananya itu!" Papar Sela.
Glek!
Vanya pun meneguk saliva saat mendengarnya, rasanya sungguh sangat luar biasa hingga Vanya pun hanya bisa tersenyum kecut.
"Dasar anak nakal!" Sela segera menuju kamar Riki, dirinya akan menghajar duda lapuk itu karena sudah melecehkan seorang wanita.
__ADS_1
Sementara Vanya masih menatap horor punggung Sela yang kian semakin jauh.