
"Aku mencintaimu," bisik Felix.
Cahaya pun tersenyum saat mendengar bisikan yang begitu menghangatkan hati. Bukan hanya hati yang hangat tetapi juga bulu-bulu seakan ikut berdiri merasakan hembusan napas hangat yang terasa pada telinga nya. Tangan Felix pun mengangkat dagu Cahaya menatap dengan keindahan yang begitu luar biasa. Dalam hati memuji betapa indah nya ciptaan Allah di hadapan nya.
Cahaya.
Bukan hanya penyejuk hati tapi juga penghangat jiwa saat lelah nya menghadapi dunia.
"Kenapa?" Felix bertanya saat melihat wajah wanita pujaan hatinya menunduk seakan ingin menutupi keindahan yang ingin di pandanginya.
Lagi-lagi Cahaya hanya tersenyum dengan menggigit bibir bawah nya seakan menahan betapa sesak di dada yang bersemayam cinta.
Tak kuasa hanya memandang saja Felix pun mencoba lebih jauh. Merasakan hangat nya bibir merah merekah milik Cahaya. Cahaya tak menolak sama sekali sampai akhirnya Felix benar-benar menyentuh bibir tersebut.
Sesaat kemudian Felix pun melahap, merasa ada yang begitu nikmat.
Seharusnya.
Tetapi tidak rasanya begitu berbeda.
Hingga sesaat kemudian Felix pun membuka matanya, ternyata ada sebuah benda di hadapan nya.
"Kurang ajar!" Felix merebut sebuah botol sampo dari tangan Riki.
Riki yang melihat Felix sudah tersadar dari lamunan nya pun segera melarikan diri, sayangnya tidak semudah itu.
Botol sampo pun melayang beruntung Riki dapat mengelak dengan cepat. Hingga botol sampo mengenai dinding dan berakhir di lantai.
Napas Felix begitu menggebu dengan dadanya yang naik turun, raut wajah nya begitu kecewa sebab Riki tidak terkena lemparan nya.
"Apa yang kau lakukan kurang ajar!" Geram Felix yang tidak ingin memberi ampun pada Riki.
"Ahahahha," Riki pun tertawa terbahak-bahak melihat wajah Felix yang menatap nya penuh kekesalan, belum lagi saat-saat Felix sedang membayangkan wajah Cahaya.
"DIAM!" Sergah Felix.
"Ahahahha," Riki terus saja tertawa lebar, semakin membuat Felix kesal.
"Kau sedang memikirkan apa? Botol sampo saja sampai ternodai karena mu!" Riki tidak henti nya tertawa mengingat betapa gila nya Felix.
Felix pun menghempaskan tubuh nya pada sofa, tidak lupa mengacak rambut nya sendiri hingga berulangkali.
__ADS_1
Semenjak kejadian kemarin dirinya sudah tidak bisa lagi berhubungan dengan Cahaya, semuanya sudah terputus.
Bahkan untuk menghubungi melalui sambungan telepon seluler saja sudah tidak bisa, tampaknya Alex benar-benar ingin membuat keduanya berjarak.
"Kau pikir sedang bersama pujaan hati mu itu?" Tanya Riki yang kini melompati sofa, kemudian duduk di samping Felix yang terlihat begitu putus asa.
Felix pun hanya menatap wajah Riki dengan berdecak kesal, apa lagi yang bisa di lakukannya.
Belum lagi penjagaan di rumah Cahaya semakin di perketat bahkan kemana pun pergi memiliki bodyguard yang menjaganya selama dua puluh empat jam penuh.
"Dia benar-benar membuat ku kacau!" Umpat Felix.
"Kau memang kacau, ini di kantor. Di ruangan mu seharus nya kau bekerja secara profesional. Malah menutup mata dan membayangkan wajah Cahaya, aku juga tahu barusan khayalan mu sangat kotor," tebak Riki.
Felix pun melirik Riki, sesaat Riki menggerakkan kedua alis matanya, Felix pun memilih melihat ke depan dengan tangan yang terus saja mengusap wajah nya, berharap bisa membuat pikiran nya menjadi jernih meskipun sulit.
"Kau juga sahabat yang tidak berguna! Untuk mengurus Rena saja tidak mampu!" Felix begitu kesal pada Riki, sampai saat ini pun belum ada hasil kerja keras nya untuk membuktikan bahwa dirinya dan Rena tidak pernah melakukan hubungan suami istri seperti yang di tuduhkan.
"Ya, aku akan membantu mu. Tenang saja, kali ini aku bersungguh-sungguh," Riki pun tersenyum berusaha untuk meyakinkan Felix.
Felix tampaknya tidak percaya pada Riki, sebab dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu Cahaya.
"Sepertinya wajah mu itu mengatakan tidak yakin pada ku!"
"Kau punya ide agar aku bisa bertemu dengan Cahaya?" Wajah Felix penuh permohonan, berharap otak Riki dapat digunakan untuk berpikir. Sebab, otaknya sedang buntu karena isinya hanya di penuhi dengan raut wajah cantik Cahaya.
Riki pun mengangguk lemah sebab otak nya sudah memikirkan sebuah ide agar Felix bisa bertemu dengan Cahaya.
Felix pun seketika memiliki tenaga, meloncat dengan girang nya membayangkan akan bertemu dengan Cahaya.
"Cahaya, aku akan datang," Felix pun memeluk Riki membayangkan itu adalah Cahaya.
Sesaat kemudian Riki merasa horor, dirinya yang tidak suka pada sesama nya pasti akan melepaskan diri.
"Jangan kurang ajar! Aku masih normal!" Geram Riki.
"Maaf, aku juga masih normal. Barusan aku sedang bahagia dan tidak sadar saja!" Jelas Felix sambil meninju lengan bagian atas Riki.
Riki pun menggosok lengan nya, namun itu jauh lebih baik dari pada harus di peluk oleh Felix.
"Aku kira kau sudah berpindah haluan setelah putus cinta!"
__ADS_1
"Aku tidak putus cinta, cinta kami hanya sedang di uji."
Riki pun mengangguk mengerti dengan perasaan cinta yang di maksud oleh Felix, walaupun dirinya tidak percaya dengan cinta.
"Makan cinta itu tidak kenyang!"
Felix pun menatap Riki dengan tajam.
"Aku beda dengan mu! Aku cukup dengan satu wanita, kau tidak! Menikah sekali, bergonta-ganti wanita sampai janda pun habis kau pacari!" Felix tersenyum miring menatap Riki yang memang seorang playboy tingkat tinggi.
"Jika bisa mendapatkan seribu wanita mengapa harus setia pada satu wanita saja," jawab Riki santai.
Felix tidak perduli sama sekali, percuma berbicara pada Riki yang memang pada dasar nya adalah seorang "casanova" lebih baik memikirkan Cahaya saja.
"Kau yakin bisa menolongku?"
"Yang mana dulu?"
"Rena! Pertama kau harus membuat Rena mengatakan pada semua orang bahwa kami tidak melakukan apapun ataupun sampai dia mau di bawa ke rumah sakit di periksa untuk membuktikan bahwa aku dan dia benar-benar tidak melakukan apa -apa!" Terang Felix.
"Ya, aku pasti menolong mu!" Riki pun mengangguk yakin.
Persahabatan kedua nya memang masih hitungan tahun, tepatnya saat masih berada di Amerika tetapi Riki dan Felix bersahabat begitu tulus.
Begitu pun saat ini, Riki bersedia untuk menolong Felix.
"Lalu yang ke dua, aku sudah sangat merindukan Cahaya. Ide apa yang kau miliki untuk membuat ku bisa bertemu dengan Cahaya? Kau serius bisa menolong ku?" Felix terlihat begitu serius, berharap Riki tidak sedang bercanda padanya.
"Tidak, aku serius! Sangat serius! Terlalu serius!" Riki pun tersenyum membayangkan ide yang kini melintas di benaknya.
"Baiklah," Felix menarik napas dengan lega membayangkan sebentar lagi akan segera bertemu dengan Cahaya.
Wanita pujaan hati yang mampu membuatnya setengah gila.
"Ayo apa lagi?" Tanya Felix yang sudah tidak sabar.
"Tunggu sampai lima belas menit lagi, setelah itu kita siap-siap."
"Siap-siap?" Felix bingung dan tidak mengerti.
"Kau mau bertemu Cahaya?"
__ADS_1
"Masih saja bertanya!"
"Ya sudah, diam dan tunggu sampai aku berikan instruksi selanjutnya"