Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Merasa nyaman...


__ADS_3

Suara benda jatuh membuat Rena merasa takut, seketika itu mendudukkan tubuhnya. Kedua tangannya meremas selimut dan matanya melihat seluruh sudut kamar. Rasa takut begitu membayanginya, sehingga begitu sensitif terhadap apa saja. Rena pun memilih keluar dari kamar, mencari keberadaan Adnan yang mungkin bisa membuatnya lebih baik.


"Kamu mau ke mana?"


Rena pun tersentak melihat Adnan ternyata duduk di sofa tepat berada di depan kamar yang di tempati olehnya.


"Kamu di sini?"


"Aku nanya, kamu kenapa bertanya kembali," kata Adnan sambil melihat Rena dari bawah sampai ke atas.


Sebab Rena terlihat seperti ketakutan.


"Aku takut, barusan aku dengar suara kencang banget," Rena pun mencoba melihat ke dalam kamar dari pintu yang masih terbuka lebar.


Adnan pun bangkit dari duduknya, kemudian berjalan memasuki kamar Rena.


Lampu menyala dengan terangnya.


"Apa kamu selalu tidur dengan lampu terang atau bagaimana?"


"Aku takut, jadi aku tidur dengan lampu yang menyala."


Sesaat kemudian Adnan pun melihat sesuatu yang berserakan di lantai.


"Vas bunganya terjatuh dan pecah," kata Adnan.


"Benarkah?" Rena merasa lega, sebab ternyata hanya sebuah vas bunga.


Dirinya yang terlalu ketakutan sehingga memberikan reaksi yang begitu berlebihan.


"Maaf ya, aku memang sedang kacau," Rena pun merasa tidak enak hati.


"Kalau malam-malam mu begini, pantas saja kamu sakit," kata Adnan.


Rena pun mengangguk, malam-malamnya terasa tidak nyaman. Tidurnya tidak pernah nyenyak sebab selalu saja teror menghantuinya.


"Kamu tidur lagi ya.


Rena pun mengangguk.


Adnan pun tersenyum dan ingin keluar dari kamar.


"Adnan, pintunya tidak usah di tutup. Aku takut."


"Tidak usah takut, aku akan tidur di sofa. Di depan pintu kamar ini," kata Adnan.

__ADS_1


"Kamu serius?"


"Iya."


"Pintunya di buka saja."


"Baiklah."


Adnan pun segera membaringkan tubuhnya di sofa tepat berada di depan kamar Rena.


Setelah memastikan Adnan tidur di sana, Rena pun segera naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.


Dalam sekejap Rena terlelap dalam tidur, merasa aman saat sedang berdekatan dengan Adnan.


Setelah memastikan Rena terlelap Adnan pun kembali memeriksakan ponsel Rena, semakin penasaran pada ancaman yang selalu datang.


Sesaat kemudian Adnan pun meminta temannya yang seorang hacker hebat, mencari tahu siapa pemilik nomor yang tak di kenal tersebut.


Tidak perlu menunggu lama satu jam kemudian Adnan pun menerima data seseorang yang menjadi pemilik nomor ponsel tersebut.


"Riki Pratama?"


Adnan terdiam dan merasa tidak asing dengan nama tersebut.


"Apa yang di maksud ini adalah Riki, bukankah nama mereka sama?"


"Apa orang ini ada hubungannya dengan Kak Felix?" Adnan merasa ada yang tidak beres.


Sejenak dirinya terdiam sambil terus berpikir untuk memecahkan teka-teki yang ada. Kemudian berpikir lagi, rasanya tidak mungkin Rena bermasalah dengan Riki.


Adnan tahu jika Felix tidak mencintai Rena, sebab sejak dulu sampai sekarang hanya ada Cahaya. Lagi pula Adnan juga tahu Felix banyak menyimpan foto Cahaya, tidak ada sama sekali foto Rena. Adnan pun menyimpulkan bahwa Felix dan Riki bekerja sama meneror Rena untuk membuat Rena membatalkan pernikahan mereka.


"Itu benar sekali, ternyata itu masalahnya," Adnan yakin itu adalah masalah utamanya.


Rasanya tidak mungkin Rena memiliki masalah dengan Riki, lagi pula Riki tidak bisa setia pada satu wanita. Mana mungkin menyukai Rena dan ingin memilikinya, rasanya itu terlalu tidak mungkin. Tapi sekarang Adnan pun masih di buat bingung, selama ini berpikir jika Rena mencintai Felix sehingga memutuskan tetap berkeras untuk melanjutkan pernikahan dengan Felix.


Tetapi barusan Rena sendiri mengatakan tidak mencintai Felix, lantas apa tujuan Rena tetap melanjutkan rencana pernikahannya?


Adnan semakin penasaran saja, esok hari semua itu harus di selesaikan agar Rena tidak lagi merasa ketakutan. Terancam karena teror yang membuatnya menjadi ketakutan terus menerus, mengusik ketenangan wanita yang di cintainya itu terus-menerus.


#########


Pagi harinya Rena pun terbangun, dirinya merasa malam ini begitu lelap. Selama beberapa hari ini tidak pernah menikmati tidurnya hingga akhirnya Rena pun keluar dari kamar.


Ingin menikmati suasana pagi berada di puncak, namun Rena melihat Adnan yang terlelap di sofa. Artinya semalaman penuh Adnan benar-benar tidur di sofa.

__ADS_1


Sejenak Rena merasa bersalah, tetapi ada yang lebih aneh. Rena terdiam menatap wajah Adnan yang masih terlelap. Hingga betah berlama-lama untuk memandanginya.


"Rena?" Adnan pun membuka matanya, terbangun dari tidurnya saat itu juga.


"Maaf, aku ganggu kamu, ya," dalam hati Rena merasa malu sebab tertangkap basah saat sedang asik memperhatikan wajah Adnan.


"Sudah pagi?"


"Iya."


"Aku mandi dulu, kamu juga. Sebaiknya pinjam pakaian Bibik, pasti dia sedang di dapur."


"Iya," Rena tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Adnan. Akan tetapi sudah pasti seorang pekerja yang tinggal di vila tersebut dan Rena juga masih berusaha untuk menormalkan diri setelah tertangkap basah saat memandangi wajah Adnan.


Saat ini matahari pagi begitu indah, menerangi pagi dengan cahayanya. Duduk manis sambil menikmati secangkir teh hangat buatan Rena. Adnan pun menyeruputnya.


"Ternyata teh buatan mu enak juga," kata Adnan memberikan pujian.


Pertama kalinya merasakan teh buatan Rena. Rena tersenyum, merasa malu saat mendapat pujian dari Adnan.


"Tehnya biasa saja yang aneh itu aku yang pakai daster," ujar Rena sambil menunjukkan daster milik Bibik yang sedang melekat di tubuhnya, bahkan daster tersebut terlalu besar. Adnan terkekeh melihatnya, sesaat kemudian Adnan pun mulai bertanya.


"Kamu kenal nama Riki? Riki Pratama?" Tanya Adnan.


"Nggak," Rena menjawab dengan cepat, sebab dirinya memang tidak mengenal.


"Em," Adnan pun mengangguk, menyimpulkan jika benar teror gila itu adalah Felix yang bekerja sama dengan Riki.


"Kenapa?"


"Tidak, aku pikir ada mahasiswa namanya Riki Pratama, sepertinya aku salah mengingat nama," kata Adnan yang tidak ingin memberitahukan kepada Rena apa yang sebenarnya terjadi.


"Sementara ini aku yang memegang ponsel mu boleh? Aku akan memberikan mu ponsel ini."


Adnan menunjukkan salah satu ponsel miliknya.


"Terserah kamu aja, aku takut banget kalau lagi-lagi orang misterius itu ngancem aku," Rena pun menunjukan wajah murungnya.


"Nggak apa-apa, semua akan baik-baik saja."


"Aku sedih, kenapa kelinci aku jadi korban. Dia, kejam banget nya," Rena mengusap air matanya, kelinci yang selalu di jaganya kini sudah tidak ada.


Adnan pun mencoba untuk membuat Rena lebih baik, dengan tiba-tiba tangannya mengusap lengan bagian atas Rena.


Rena memperhatikan tangan Adnan.

__ADS_1


"Maaf aku tidak bermaksud......" Adnan pun menyadari kesalahannya.


Tapi sejujurnya Rena bahagia dan merasa nyaman saat sedang bersama Adnan.


__ADS_2