
"Apaan sih Om?"
Meskipun bibir Vanya terus menggerutu tetap saja Riki membawanya pergi. Tak perduli sama sekali pada apapun yang keluar dari mulut bocah itu. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah apartemen milik Riki.
"Om, ngapain ke sini?"
Riki langsung saja menarik Vanya, lagi-lagi tidak perduli pada apa yang di katakan oleh wanita tersebut.
"Om!" Vanya pun menghempaskan tangan Riki setelah memasuki sebuah unit apartemen.
"Bukankah kau mengatakan akan menurut pada ku barusan?"
Vanya diam sambil mengingat apa yang di ucapkannya barusan, balikan Vanya tidak mengelak sama sekali.
"Ya terus?" Vanya pun melempar tubuhnya pada sofa, dirinya baru bangun tidur. Masih mengumpulkan nyawa, bukannya malah di tarik paksa begini bukan?
"Ya sudah, temani aku!"
"Aku baru bangun tidur Om! Kasih waktu aku buat cuci muka dulu palingan!" Mulut Vanya pun komat-kamit karena kesal pada Riki.
"Tidak perduli, tidak mencuci muka juga kau sudah cantik!" Riki juga ikut duduk di samping Vanya sambil tangannya bergerak mengambil remote televisi dan menyalakannya.
Sedangkan Vanya merasa sedikit bergetar saat mendapatkan sebuah pujian sederhana dari Riki.
Riki terus melihat ke layar televisi.
Tampak sebuah berita yang sedang menayangkan beberapa pebisnis hebat termasuk Devan dan juga dirinya.
Tanpa di ketahui oleh Riki ada seorang wanita kesayangan seorang Devan di sampingnya.
"Wah, hebat sekali dia ya," kata Vanya menunjuk wajah Devan.
"Bukankah dia majikan Ibu mu?" Tanya Riki.
"Ha?" Vanya pun sejenak terdiam sambil berpikir keras.
"Iya," kata Vanya lagi setelah mengingat kembali apa yang selama ini di ketahui oleh Riki.
"Vanya!"
"Em!" Vanya terlihat cuek bahkan kini matanya berfokus pada toples berisi camilan yang ada di atas meja.
"Om, ini boleh di makan nggak?" Tanya Vanya belum juga Riki menjawabnya Vanya sudah terlebih dahulu membuka toples dan mengunyahnya.
Membuat Riki hanya bisa diam, lagi pula apa yang bisa di lakukan wanita itu dengan baik? Tidak ada.
Semua hanya sesukanya saja tanpa ada aturan dalam hidupnya.
"Om, biasa aja liatin aku!" Vanya merasa tatapan Riki begitu dalam membuatnya menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
Sejak kapan Vanya tidak nyaman akan tatapan mata Riki yang demikian?
Sejak beberapa hari ini, terutama tadi malam dirinya sampai tidak bisa tidur karena memikirkan Riki, aneh bukan?
"Vanya, aku ingin bicara serius."
"Ngomong aja, ribet banget deh!" Vanya pun kembali melihat layar televisi yang menyala, tidak perduli saat tatapan mata Riki terus tertuju pada dirinya.
"Coba lihat aku!" Riki pun menarik tengkuk leher Vanya agar menatap dirinya.
Riki ingin Vanya melihatnya juga, membalas tatapan matanya.
Vanya pun melebarkan matanya, membalas tatapan mata Riki.
"Dasar bocah!" Riki pun mengetuk kepala Vanya, bocah itu terlalu menggemaskan dan membuatnya menjadi semakin tergila-gila.
"Om!" Pekik Vanya dengan sejuta kekesalannya.
"Ahahahhaha," Riki tertawa puas melihat wajah Vanya yang kesal padanya.
Hingga akhirnya Vanya pun mengambil toples dengan refleks memukulnya pada dahi Riki. Hingga akhirnya cairan merah pun tumpah ruah bersamaan dengan toples kaca yang juga pecah seketika itu. Vanya pun terkejut menyadari apa yang di lakukan olehnya.
"Om, maaf," wajah Vanya berubah panik, itu hanya gerakan refleks karena ulah Riki yang membuatnya menjadi tidak menentu.
Vanya pun tidak sanggup untuk membalas tatapan mata Riki yang begitu dalam, sebab lagi-lagi dirinya merasa ada yang tidak beres.
Sedangkan Riki hanya diam saja, membiarkan Vanya melakukan apapun. Hingga akhirnya Vanya menemukan kotak obat, segera mengobati luka pada dahi Riki dengan secepat mungkin.
Setelah berhasil menutupnya dengan perban akhirnya Vanya pun merasa lebih baik, tetapi apakah mungkin setelah ini akan ada penambahan hari untuk dirinya tetap bekerja dengan Riki?
Kurang ajar!
Vanya membuat dirinya terus terjebak dalam lingkungan hidup Riki dan sulit untuk keluar.
"Om?" Vanya pun merasa takut saat Riki hanya diam saja sejak tadi, tanpa kata, tanpa ekspresi dan tanpa ada yang di lakukannya sama sekali.
Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini semakin membuat Vanya bertanya-tanya.
"Maaf ya Om," Vanya pun tersenyum canggung, benar-benar suasana menjadi tidak nyaman.
"Kapan kau tidak melukai ku?" Tanya Riki, sebab selalu saja Vanya membuatnya terluka.
"Hihi, maaf Om. Tadi aku refleks. Lagian Om juga ngapain begitu!"
"Gitu gimana?"
"Nah, kan? Matanya, ngapain liatin aku begitu terus?"
Riki pun tersenyum kecil melihat wajah Vanya yang sedang kesal padanya.
__ADS_1
"Vanya."
"Vanya, Vanya mulu! Apa? Ngomong kali Om!" Vanya sudah kesal dari tadi Riki hanya memanggilnya saja, setelah itu hanya diam tanpa kata.
Lihat saja saat ini malah duda lapuk itu tersenyum saat dirinya mengomel.
"Ngomong!"
"Aku, mencintaimu!"
Vanya pun mengibaskan tangannya sambil berkata.
"Bercandanya nggak lucu!
Riki pun memilih diam, kemudian berbaring di sofa.
Sepertinya sudah terbiasa dengan posisinya, lagi-lagi Riki menjadikan Vanya sebagai bantalnya.
"Aku harus bayar berapa?" Tanya Riki.
"Black card masih di aku," jawab Vanya, meskipun sebenarnya dirinya juga merasa aneh, entah mengapa mendadak menjadi tidak karuan saat bersama dengan Riki.
"Mau aku tambah satu black card lagi?"
"Tambah?" Vanya sungguh sangat shock mendengarnya.
"Aku tidur dulu, anggap saja bayaran karena lagi-lagi kamu membuat ku cidera lagi. Kamu sangat suka membuat ku terluka," Riki pun melipat kedua tangannya di dada, kemudian menutup mata yang perlahan mulai memasuki alam mimpi dengan mudahnya.
Tak lama berselang terdengar suara dengkuran, Vanya yakin jika Riki sudah terlelap.
Seketika itu terlihat ponsel Riki pada saku kemejanya.
Ponsel itu terus berdering hingga akhirnya Vanya pun memberanikan diri untuk melihatnya.
Melihat nama Felix di sana membuat tangannya bergetar dan ponsel pun hampir saja terlepas dari tangannya.
Tetapi beruntung Vanya masih bisa menjaganya, hingga tidak mengenai wajah Riki.
Panggilan pun selesai tanpa jawaban, Vanya pun melihat layar ponsel Riki di mana ada gambar wajahnya di sana.
"Profil nya kok muka aku, ya?" Vanya tidak merasa pernah mengambil gambarnya dengan gaya demikian.
Lantas apakah mungkin Riki yang mengambilnya secara diam-diam?
Sepertinya begitu, sebab tampak Vanya sedang mengajar di sekolah, berbicara pada muridnya yang memperhatikan dirinya.
Semakin penasaran Vanya pun melihat lebih jauh, ternyata ada begitu banyak gambar wajah dirinya di sana dan ini sungguh mencengangkan, sungguh sesuatu di luar dugaan seorang Vanya.
Tetapi malah Vanya merasa bahagia, entahlah tetapi ada sesuatu yang berbeda melihat tatapan mata seorang Riki saat menatap dirinya dan itu terus membuatnya bahagia.
__ADS_1