Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Merasa lega.


__ADS_3

Nayla pun akhirnya sadarkan diri, dirinya memijat kepalanya yang terasa begitu pusing. Rasanya begitu shock dengan apa yang dikatakan oleh Cahaya beberapa saat yang lalu.


"Sayang, kamu udah sadar?" Devan pun langsung bangun dan memeluk Nayla yang duduk di sampingnya.


Nayla pun mengangguk, tetapi bayangan apa yang dikatakan oleh Cahaya masih saja terngiang-ngiang di benaknya.


Nayla pun sejenak menatap wajah Devan, dirinya bingung apakah Devan sudah tahu tentang Vanya yang hamil.


Tetapi, sepertinya belum. Jika sudah tidak mungkin Devan bisa begitu tenang.


"Kamu mikirin apa?" Devan menyadari istrinya tengah memikirkan sesuatu, hingga akhirnya dirinya pun bertanya.


Namun, Nayla hanya diam saja tidak ingin berbicara.


"Ayo tidur," Devan pun menarik Nayla untuk segera berbaring kembali, sebab malam pun semakin larut.


Namun, Nayla tidak dapat terlelap hingga pagi harinya karena memikirkan Vanya.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu, Nayla pun melihat asal suara.


Begitu pun dengan Devan yang langsung terbangun dari tidurnya.


"Biar Mas, saja. Muka kamu masih pucat sekali," Devan langsung menuju pintu dan membukanya.


Tampak Cahaya di sana, tampaknya tidak bisa tenang sebelum melihat Nayla yang membuka matanya.


"Ayah, maaf. Aku ganggu, aku cuma mau lihat Bunda. Boleh ya," pinta Cahaya penuh harap.


Devan pun mengangguk, sebab Cahaya masih saja terlihat khawatir. Mungkin dengan melihat Nayla yang sudah lebih baik bisa membuat keadaan menjadi lebih baik.


Segera Cahaya pun masuk dan melihat wajah Nayla yang begitu pucat, Cahaya masih saja dengan rasa bersalahnya.


Dengan segera dia duduk di sisi ranjang, dan memegang tangan Nayla.


"Bunda, maaf ya. Sebetulnya yang hamil bukan Vanya. Tapi, Rena," kata Cahaya dengan penuh rasa bersalah.


Nayla pun seketika menatap Cahaya dengan penuh tanya, berharap telinganya tidak salah mendengar.

__ADS_1


"Hamil?" Tanya Devan yang samar-samar mendengar suara Cahaya menyebut nama putri kesayangannya, bahkan ada kata hamil pula.


Membuatnya bertanya-tanya apakah yang hamil Vanya.


"Bukan Yah, aku salah ngomong. Maksudnya yang hamil itu Rena setelah aku periksa, bukan Vanya," kata Cahaya lagi mengulangi kalimatnya.


"Cahaya, kamu serius? Kamu tidak bohong?" Tanya Nayla lagi.


Nayla tidak ingin di bohongi oleh Cahaya karena takut dirinya kenapa-kenapa, jika memang itu kebenarannya maka lebih baik tahu sejak awal.


Agar bisa mengambil keputusan secepat mungkin, asalkan tidak sampai menjadi aib bagi keluarga karena orang di luar sana mengetahui kehamilannya Vanya tanpa suami.


"Nggak Bunda, aku nggak bohong," jelas Cahaya lagi meyakinkan Nayla.


Huuuufff...


Nayla menarik napas dengan panjang, merasa lebih lega.


"Jadi penyebab Bunda pingsan karena itu?" Tanya Devan pada Cahaya.


"Maaf ya Ayah, aku yang salah," kata Cahaya sambil meremas kedua tangannya.


Mengingat Riki adalah orang yang tidak kalah memiliki kekayaan yang luar biasa, bahkan pria itu mungkin bisa melakukan apapun dengan uang yang dimilikinya.


"Nggak Yah, ngapain di bayar. Suami aku juga tidak pernah ngasih uang kurang, aku juga punya rumah sakit yang baru di bangun sama suami aku," kata Cahaya meyakinkan, bahwa tidak ada yang bisa membayarnya dengan uang. Sebab, suaminya juga memiliki banyak uang.


Devan pun mengangguk, tetapi tetap saja Riki harus berbicara langsung padanya nanti.


"Ayah sudahlah, artinya putri kita tidak hamil di luar nikah," kata Nayla yang tidak suka membesarkan masalah yang kecil, lagi pula ini hanya sebuah kesalahan yang tidak disengaja.


"Sekali lagi maaf ya Bunda."


"Lalu, yang hamil siapa? Rena?" Tanya Nayla dengan senyuman di bibirnya, dirinya sangat bahagia mendengarnya.


"Iya, Bunda," Cahaya pun mengangguk dengan yakin.


Semakin membuat bibir Nayla tersenyum saja, wajah pucatnya berangsur membaik setelah mendengarkan sebuah penjelasan sederhana ini.


"Ya ampun, sebentar lagi Bunda bakalan punya cucu."

__ADS_1


"Aku, keluar dulu ya Bunda. Mau, nyiapin keperluan Abang,"


"Ya sayang, hati-hati ya."


Cahaya pun akhirnya keluar dari kamar mertuanya dengan hati yang lebih lega, tidak ada lagi hal yang membuatnya menjadi terbeban setelah ini.


Sementara Nayla masih saja terlihat bahagia, mengingat dirinya akan menjadi seorang Oma.


"Syukurlah, yang hamil Rena bukan Vanya yang belum menikah," Nayla pun mengusap dadanya merasa jauh lebih lega.


"Kau yakin?"


"Iya."


"Apa mungkin?"


"Mas, ternyata kita udah tua ya," kata Nayla sambil melihat Devan yang perlahan duduk di sisi ranjang.


"Ya, tapi apa kamu yakin Vanya benar-benar tidak hamil?" Devan masih saja memikirkan anak bungsunya itu, rasanya dirinya belum yakin.


"Ayah apaan sih, pikirannya negatif mulu. Aya, nggak akan bisa bohong!" Kata Nayla yang justru kesal pada suaminya.


Devan pun terdiam sejenak, tetapi pikirannya masih saja pada Vanya.


"Ayah kan Dokter, jangan asal tebak aja. Periksa saja Vanya. Tapi, Bunda yakin bahwa apa yang dikatakan Cahaya benar! Senangnya sebentar lagi jadi Oma, ini harus dirayakan dengan makan-makan mengundang semuanya," kata Nayla dengan penuh semangat.


"Sayang, nanti. Istirahat dulu, muka mu masih pucat begitu."


"Mas, aku udah lebih baik."


"Nayla!"


Dengan terpaksa Nayla pun mengangguk setuju pada apa yang diperintahkan oleh Devan, yaitu beristirahat.


"Tapi, setelah istirahat cukup aku mau masak-masak ya, Mas?"


"Iya, Oma," jawab Devan dengan tersenyum melihat wajah Nayla yang terus saja berbalut kebahagiaan tidak terkira.


Begitu juga dengan Devan yang tidak menyangka ternyata sudah tua dan akan segera menjadi Opa untuk cucunya nanti.

__ADS_1


__ADS_2