
"Sekali ini saja" Felix tidak ingin menjawab lebih panjang, saat ini dia hanya ingin menumpang saja.
Setelah Felix dan Nayla sudah menaiki mobil akhirnya sopir pun melajukan mobilnya, hingga akhirnya Felix meminta sang sopir berhenti tepat di depan sebuah universitas. Nayla tentu saja bingung dan bertanya-tanya apa yang dilakukan anaknya disana.
"Kamu nggak ke kantor?"
"Hari ini aku mau nolong nenek-nenek Bunda soalnya kasihan banget dagangan nya nggak laku kemarin, untung ada aku dan Cahaya yang menolongnya, sebentar lagi juga pasti Cahaya sampai disini" jelas Felix sambil matanya mengedarkan pandangan mencari seorang Nenek yang kemarin hari dia tolong.
Nayla semakin bingung melihat perubahan sikap anaknya, betapa tidak? tidak biasanya Felix menjadi ramah seperti ini apalagi hanya untuk menolong orang lain rasanya itu terbilang cukup mustahil.
"Ya, itu dia Neneknya Bunda, aku turun dulu yah," pamit Felix hingga akhirnya turun dari mobil dan mendekati seorang Nenek yang sudah menunggu nya.
Nayla tampak penasaran dengan wajah wanita tua itu yang mana berhasil membuat putranya menjadi kasihan. Akhirnya Nayla pun ikut menyusul Felix mendekati Nenek tua itu.
"Mau beli pecel Nenek?" tanya wanita tua itu saat melihat Nayla berjalan ke arahnya kemudian melihat dirinya.
Sesaat kemudian wanita tua itu terdiam melihat wajah di hadapannya.
"Nayla?" Ratih pun terkejut melihat Nayla yang kini berada di hadapannya.
__ADS_1
"Ibu?" mata Nayla berubah berkaca-kaca melihat wanita dengan kulit keriput di hadapannya.
Sesaat kemudian Nayla pun mengusap air mata yang menetes di pipinya.
Felix malah bertanya-tanya ada apa dengan Nayla dan wanita tua itu
Namun dirinya memilih diam dan mendengarkan, menghormati Bundanya yang sedang berbicara dengan orang lain.
Hingga sesaat kemudian Nayla pun memeluk wanita tua itu dengan cepat, menangis tersedu-sedu setelah sekian lama mencari Ibunya yang pergi entah ke mana.
"Nayla maafkan Ibu, selama ini Ibu sudah jahat sekali sama kamu. Bahkan, Ibu menyia-nyiakan kamu hanya demi anak orang lain. Ibu benar-benar minta maaf Nayla sudah menelantarkan kamu," tutur wanita tua itu penuh rasa penyesalan.
"Sudahlah Bu yang berlalu biarlah berlalu, sekarang ibu ikut aku, ya," pinta Nayla tidak tega melihat Ibunya yang kurus kering berjualan di usia yang sudah begitu rentan.
"Kenapa?"
"Ibu malu, biarlah Ibu begini saja. Sampai nanti akhirnya harus pergi menghadap Nya, anggap saja ini hukuman di sisa akhir-akhir umur Ibu karena pernah bersalah kepada kamu," mata Ratih tampak berkaca-kaca tak kuasa menahan air mata penyesalan saat dulu menelantarkan Nayla bahkan tak menganggap anak sama sekali.
"Nggak Bu. Ibu harus ikut sama aku, apapun yang terjadi Ibu adalah orang tua aku dan aku tetap sayang sama Ibu sampai kapanpun," Nayla terus saja berusaha meyakinkan Ratih bahwa tak ada kebencian sedikit pun di hatinya.
__ADS_1
Bahkan sejauh ini Nayla terus mencari keberadaan Ibunya itu hingga akhirnya di pagi hari ini Felix yang membawanya bertemu dengan Ratih.
Tapi lagi-lagi Ratih menolak, dirinya memilih hidup serba kekurangan daripada harus merepotkan Nayla yang dulunya selalu dia sakiti.
"Bunda?" Felix tak dapat lagi menahan rasa penasarannya hingga akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Ibu ini yang kamu tolong ini, adalah Ibu kandungnya Bunda, Artinya dia adalah Nenek kamu yang selama ini Bunda cari-cari."
Felix benar-benar terkejut mendengarnya siapa sangka ternyata wanita yang dia tolong itu adalah Neneknya sendiri.
"Ternyata kamu cucu ku pantas saja aku seperti melihat wajah Nayla pada wajah mu," Ratih pun tersenyum menatap wajah Felix, tak menyangka jika lelaki baik hati yang menolongnya itu adalah cucunya sendiri.
Felix hanya mengangguk lemah dirinya benar-benar terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Ibu ikut aku, kita tinggal sama-sama."
Ratih pun melepaskan tangan Nayla yang terus menggenggam tangannya kemudian menggeleng lemah.
"Ibu tinggal sendiri saja, kalau kamu berkenan jenguk Ibu sekali-sekali di rumah. Ibu malu dan tidak mau merepotkan kamu."
__ADS_1
Nayla pun hanya terdiam mendengar jawaban Ratih yang benar-benar tak ingin ikut dengannya karena rasa malu dan juga penyesalan.
Kemudian keduanya lagi-lagi berpelukan seakan terus saja melepaskan kerinduan yang sudah lama tidak pernah bertemu.