
Sesampainya di kantor Vanya pun berjalan di belakang tubuh Riki, sampai akhirnya langkah kaki Vanya terhenti saat melihat seseorang.
"Kak Renita?" Vanya pun berseru tetapi sesaat kemudian menutup mulutnya.
"Hihi, kelepasan. Maklum biasa di hutan," celetuk Vanya.
Renita pun tersenyum melihat Vanya, meskipun sedikit bingung dengan keberadaan Vanya di perusahaan tempatnya bekerja.
"Kamu ya, ada-ada saja."
"Kak Renita apa kabar?"
"Baik, kamu ke sini ada tujuan?"
"Aku kerja Kak, jadi asistennya Om Riki."
Renita pun mengangguk, tetapi bukankah ada Andre?
Tetapi Renita pun tak ingin mengetahui lebih jauh, sebab orang kaya bebas memiliki berapapun asisten pikir Renita lagi
"Kakak juga kerja di sini?"
"Aku sekretaris Bos."
"Wah, hebat juga ya ternyata Kakak. Kalau gitu bisa bantuin aku nantinya."
"Ya dong."
"Aku ke ruangan Bos dulu ya Kak."
Vanya pun menyusul Riki, tak menyangka jika dirinya dan Renita bisa bekerja di tempat yang sama.
Bekerja?
Akankah ada pekerjaan yang di kerjakan oleh Vanya nantinya ataukah dirinya hanya bertugas untuk menemani saja.
Ini sungguh sangat membingungkan sekali, karena pada nyatanya Vanya adalah karyawan yang bekerja di hati Riki. Bukan untuk bekerja di perusahaannya.
"Om." Vanya pun masuk ke ruangan Riki, tapi siapa sangka ternyata bukan hanya Riki yang ada di sana. Tapi juga Indah, seorang wanita yang di jumpainya saat berada di Mall. Wanita kasar yang tak lain adalah mantan istri Riki.
Sebenarnya Vanya tidak perduli sama sekali akan hal itu tetapi Riki tidak mengijinkannya untuk keluar. Yang ada Riki mengusir wanita yang bernama Indah yang tampak masih duduk manis di sofa tanpa ingin pergi. Padahal sudah berulang kali dengan tegas Riki mengusirnya.
"Keluar dari sini! Siapa yang mengijinkan mu untuk masuk?" Tanya Riki dengan suara baritonnya.
Wajahnya penuh dengan kemarahan, andai saja bisa mungkin Riki akan melempar Indah melalui jendela.
Tetapi pada dasarnya Riki tak suka berbuat kasar pada seorang wanita mana pun, lagi pula tak ingin semakin memperpanjang masalah dengan wanita gila itu yang bisa saja semakin berulah.
__ADS_1
"Mas, aku ingin bicara. Aku minta maaf," Indah pun bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Riki yang duduk di kursi kebesarannya.
"Menjauh, kau bukan siapa-siapa lagi untukku. Dia, calon istri ku!" Riki pun menatap Vanya yang hanya berdiri di dekat pintu yang sudah tertutup rapat. Vanya pun menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak dengan cepat apa yang di katakan oleh Riki.
Sayangnya Vanya tak memiliki kesempatan untuk berbicara, sebab Riki sudah menghampirinya dan merangkul pundaknya dengan cepat.
"Eng..." Vanya lagi-lagi harus mendadak diam, saat dirinya akan berbicara lagi-lagi Riki menimpali dengan cepat.
"Jangan pernah datang lagi ke sini, karena ada wanita lain yang akan menjadi pendamping ku"
"Mas" Indah pun mendekati Riki, memasang wajah melas seperti dulunya saat dirinya melakukan sebuah kesalahan dan ingin Riki segera memaafkan dirinya.
Tetapi mungkin Indah lupa, karena dulu dan saat ini keadaanya sangat berbeda. Dulu Indah yang menjadi ratu di hati seorang Riki, kini tidak. Hanya ada Vanya dan tak ada yang bisa menggeser posisi itu lagi.
"Keluar!"
Dengan membawa kekesalannya, akhirnya Indah pun memutuskan untuk pergi.
Tetapi dirinya pun akan terus berusaha untuk mendapatkan Riki kembali, dirinya sadar setelah beberapa tahun ini ternyata yang mencintanya dengan tulus hanyalah Riki. Sedangkan yang lainnya hanya datang lalu pergi saat sudah tak membutuhkan dirinya. Indah pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mendapatkan Riki kembali dalam waktu cepat ataupun lambat.
Sedangkan Vanya kini mengomel terus-menerus karena lagi-lagi Riki mengatakan bahwa mereka akan segera menikah.
"Om, jangan bilang kita mau nikah terus dong! aku nggak mau ya!"
Vanya pun segera duduk di sofa, kemudian memakan camilan yang tersedia di atas meja.
"Lagian ya Om, kalian itu cocok banget. Dia ketus, Om Arrogant. Jadi, ya samalah. Balik aja napa Om? Kan, dari pada Om jadi duda selamanya, gimana?"
Vanya pun memberikan saran yang sangat bagus menurutnya sambil terus mengunyah makanannya sedangkan Riki masih diam menatap mulut wanita tersebut.
"Dengar ya Om, sedikit saran. Tante Sela udah tua. Memangnya Om nggak pengen membahagiakan dia? Nikah Om!"
"Ayo kita menikah kalau begitu," kata Riki dengan santainya.
Sedangkan Vanya menunjukan bibir manyun nya, tentu saja menolak dengan keras.
Hingga akhirnya Riki pun ikut duduk saling berhadapan dengan Vanya.
"Kenapa Om nggak mau balikan sama wanita tadi? Kayaknya dia masih pengen banget balikan sama Om? Udahlah Om, nggak bosan jadi duda mulu?" Tak ada hentinya mulut Vanya komat-kamit memberikan saran pada Riki seakan dirinya sudah sangat dewasa.
Dasar wanita aneh ini memang ada-ada saja, lihatlah saat ini seakan dirinya adalah wanita paling pintar di dunia ini.
"Lagian, kenapa Om sama dia cerai? Kan, kalian sama-sama memiliki keanehan yang sama, sama-sama gila."
"Karena dia sudah sangat menyakiti aku, dia berkhianat dengan sahabat ku. Sampai mengandung anak dari laki-laki lain saat aku dengan bahagia menantikan kelahiran bayi yang aku pikir adalah anak ku!" Jawab Riki tanpa sadar.
Vanya pun meletakkan toples di tangannya, menatap Riki dengan penuh intimidasi. Sayangnya Riki terlanjur tersadar dari lamunanya sehingga memilih untuk bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Kemudian berpindah duduk di kursi kebesarannya, mencoba untuk memulai pekerjaannya seperti hari-hari sebelumnya.
Meskipun matanya tertuju pada layar laptopnya tapi percayalah pikirannya benar-benar sangat kacau.
Sedangkan Vanya semakin penasaran saja, jika sudah menyangkut soal penasaran tentunya Vanya tak akan bisa tenang sebelum rasa penasarannya hilang.
Segera bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah Riki.
"Om, aku bingung Maksudnya, wanita tadi hamil anak orang, anaknya sahabat Om, gitu?" Tanya Vanya dengan jelas.
Lama sekali Riki menjawabnya, bahkan hanya melihat laptopnya tanpa melihat dirinya sama sekali.
"Om, jangan diam aja dong!" Vanya pun menjauhkan laptop Riki, hingga akhirnya Riki pun menatap dirinya.
"Jawab Om!"
"Iya, kenapa?" Tanya Riki.
Vanya pun melebarkan mulutnya, tak menyangka ternyata nasib pernikahan Riki hancur karena kecurangan.
"Terus anaknya sekarang di mana?"
"Mana aku tahu, itu bukan anak ku!" Jawab Riki ketus.
"Terus, Om udah cerai sama dia?"
"Sudah lama, kembalikan laptopnya!" Riki meminta dengan cara baik-baik, tetapi Vanya tidak memberikannya.
Sebab, masih banyak pertanyaan yang harus di jawab oleh Riki saat ini.
"Terus, Om trauma untuk menikah lagi?"
"Banyak tanya!" Riki pun mencoba untuk merebut laptopnya yang kini di sembunyikan oleh Vanya di belakang tubuhnya.
Hingga akhirnya posisi keduanya seakan berpelukan dengan posisi tangan Riki yang melingkar di pinggang Vanya.
Vanya pun terdiam, begitu juga dengan Riki. Tetapi, percayalah jika posisi ini sangat nyaman dan tak ingin ada yang menjauh sama sekali.
Bahkan Vanya sekalipun, entah apa yang terjadi pada bocah aneh itu.
"Selamat pagi Bos," Andre pun masuk dan melihat apa yang sedang terjadi.
Suara Andre pun menyadarkan keduanya, hingga akhirnya Vanya sendiri yang meletakkan laptop Riki pada meja.
Kemudian segera menuju toilet dengan perasaan anehnya.
Sampai di depan cermin Vanya memegangi dadanya yang mendadak berdetak kencang saat berada di dekat Riki.
__ADS_1
"Aku kenapa? Kenapa jantungku begini?" Vanya pun mencuci wajahnya hingga beberapa kali agar bisa membuatnya menjadi lebih baik.