
"Huuueekkk," Rena malah muntah bertepatan dengan Vanya yang keluar dari kamarnya.
Vanya pun menghirup aroma tubuhnya, tetapi merasa baik-baik saja.
Tetapi, tetap saja Rena muntah-muntah dan membuat Vanya merasa bingung.
"Kakak, Ipar. Apa aku sangat bau? Aku memang baru buang air, tapi udah cebok, pakai sabun lagi," kata Vanya masih dengan bingungnya.
"Nggak tahu, kenapa. Dari pagi aku muntah terus, ini bukan karena kamu," jawab Rena.
Kemudian sesaat kemudian Rena pun kembali masuk ke dalam kamarnya, ingin menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Vanya tentunya merasa kasihan, dengan cepat menyusul Rena, bahkan membantu menggosok punggung Rena dengan minyak angin.
"Aku panggil Ayah aja ya, buat meriksa keadaan kamu," kata Vanya, sebab Vanya tahu Ayahnya adalah seorang Dokter hebat.
"Nggak usah, aku segan sama Ayah. Cahaya aja," kata Rena.
"Ya udah, tunggu dulu," Vanya pun segera menuju kamar Cahaya, ataupun kamar Kakak iparnya itu.
Dengan seperti biasanya, ugal-ugalan adalah sikap Vanya dan itu sudah tidak lagi asing bagi keluarganya.
Sehingga jika satu hari saja Vanya tidak berada di rumah akan sepi seketika, sehingga semua anggota keluarga tidak ingin Vanya pergi dari rumah.
"Kakak ipar!" Seru Vanya dari depan daun pintu, bahkan sambil menggedor pintu kamar dengan kuatnya.
"Ada apa itu?" Felix sangat kesal saat mendengar suara Vanya yang tak pernah bisa lembut, membuatnya menatap Cahaya yang tengah sibuk di depan meja riasnya.
Cahaya pun meletakan alat kecantikan di tangannya pada meja riasnya, kemudian segera menuju pintu.
"Kakak Ipar!" Seru Vanya lagi tanpa hentinya.
Hingga akhirnya pintu pun terbuka tampak Cahaya di sana.
"Ada apa?" Tanya Cahaya.
__ADS_1
"Kakak Ipar Rena sakit, bisa tolong di periksa?" Vanya pun tersenyum pada Cahaya.
"Sakit apa?"
"Ya ampun Kakak ipar, kalau aku tahu tidak perlu repot-repot untuk memanggil mu ke sini, biar aku saja yang mengatasinya!" Kesal Vanya.
"Ya, sudah Aku ambil peralatannya dulu."
Cahaya pun segera mengambil tasnya dengan isi peralatan Dokter yang tak pernah lupa di bawa kemanapun.
Hingga akhirnya menuju kamar Rena dan melihat wajah Rena yang begitu pucat.
"Kamu sakit?" Tanya Cahaya berbasa-basi.
"Ya ampun Kakak ipar, lihat mukanya Kakak ipar kedua ini sangat pucat, masih aja nanya!" Kata Vanya lagi.
"Ya, iya, kau benar," Cahaya pun memilih mengalah, percuma saja berdebat dengan Vanya.
Selama ini belum ada yang bisa mengalahkan Vanya dalam hal perdebatan.
Hingga akhirnya Cahaya pun mulai memeriksa keadaan Rena.
"Hampir dua minggu."
"Kalau begitu, besok kamu ke rumah sakit. Temui Dokter kandungan," jelas Cahaya.
"Maksudnya gimana?" Tanya Rena tidak mengerti.
"Kamu hamil, selamat ya," Cahaya pun tersenyum, merasa bahagia atas kehamilan Rena.
"Apa?" Pekik Vanya dengan shock dan juga bahagia.
"Vanya," Cahaya pun menegur Vanya, hingga membuat Vanya menutup mulutnya.
"Hehe, maaf. Tapi, selamat ya, besti," Vanya pun memeluk Rena, mengingat keduanya memang memiliki kedekatan sejak awal sebelum menjadi keluarga.
__ADS_1
"Aya, kamu serius?" Tanya Rena yang masih berada dalam keterkejutannya.
"Iya, buat lebih pastiin kamu temui Dokter kandungan. Aku kan Dokter anak," jelas Cahaya lagi.
Rena pun mengangguk penuh kebahagiaan, tidak menyangka kini dirinya akan menjadi seorang Ibu.
"Kak Adnan, ke mana?" Vanya tidak melihat Adnan hingga membuatnya bertanya-tanya.
"Di kantor, katanya ada sedikit pekerjaan. Tapi, udah perjalanan pulang kok," kata Rena lagi dengan bibirnya yang terus tersenyum bahagia.
Hingga beberapa saat kemudian Nayla pun ingin menuju kamar Vanya, namun saat itu malah melihat pintu kamar Rena yang terbuka lebar bahkan sampai terdengar suara dari dalam sana.
Membuatnya penasaran dan segera menuju kamar tersebut, Nayla tidak ingin masuk begitu saja ke kamar anak menantunya.
Meskipun pintu terbuka tetap saja mengetuknya, hingga membuat yang lainnya melihatnya di sana.
"Kenapa pada ngumpul di sini?" Tanya Nayla melihat tiga orang perempuan yang sedang berada di sana.
"Ini Bunda, Vanya hamil," kata Cahaya.
"Apa?" Pekik Nayla shock berat.
Bahkan Nayla jatuh pingsan seketika itu juga.
"Bunda!" Teriak ketiganya dengan panik.
Ketiganya pun berhamburan ke arah Nayla yang sudah tergeletak di lantai.
"Bunda bangun," Vanya menepuk-nepuk wajah Nayla, ketakutan bukan main saat ini.
"Ya ampun Aya, kamu ngomong apa barusan?" Tanya Rena.
"Aku ngomong apa?" Tanya Cahaya yang belum menyadari kesalahannya.
"Ya ampun, coba ingat apa yang barusan kamu katakan," kata Rena lagi.
__ADS_1
Cahaya pun kembali mengingatnya, kemudian merasa bersalah.
"Bunda, maksudnya bukan Vanya. Tapi Rena," kata Cahaya yang kini ketakutan bukan main, sebab dirinya yang salah mengucap nama hingga ini terjadi, sayangnya Nayla sudah tidak sadarkan diri sehingga tidak mendengar apa yang dikatakannya.