Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Memilih pergi.


__ADS_3

"Sebaiknya kamu istirahat dulu, itu kamar mu. Dan ini kamar ku," Adnan menunjukkan kamar yang di gunakan untuk tempat beristirahat sejenak sambil menunggu makan malam di persiapkan.


"Iya," Rena pun perlahan melangkah menuju kamar yang sudah di arahkan oleh Adnan.


Sesaat kemudian Adnan pun memasuki kamarnya, memberitahu pada Nanda jika Rena bersama dengan dirinya.


Adnan pun meyakinkan jika Rena baik-baik saja, dan berjanji tidak akan terjadi hal-hal yang dapat merugikan Rena maupun dirinya.


Adnan pun mengatakan bahwa Rena sedang stress menyelesaikan skripsinya. Sehingga memintanya untuk jalan-jalan ke puncak hingga akhirnya hujan turun dan akan sangat berbahaya jika memaksakan untuk pulang.


Nanda pun mengijinkannya bahkan merasa tenang dengan penjelasan Adnan.


Sampai saat ini Nanda merasa percaya pada Adnan, hingga dirinya memberikan kepercayaan sepenuhnya.


Setelah itu Adnan pun meletakkan ponselnya pada ranjang, kemudian berniat untuk menemui Rena untuk mengajaknya makan malam.


Namun, saat Adnan memutar tubuhnya ternyata Rena ada di ambang pintu kamar. Pintu kamar yang terbuka lebar tentunya memudahkan untuk masuk.


Rena mendengar saat Adnan berbicara pada Nanda, meminta ijin saat membawa dirinya dan menyampaikan alasan menginap di sana.


Rasa tanggung jawab yang di miliki oleh Adnan patut di akui, Rena semakin merasa yakin bahwa Adnan adalah lelaki yang baik.


Hanya saja tidak mungkin untuk memilikinya.


"Kamu sudah lama di situ?" Tanya Adnan bingung.


"Lumayan"


"Oh," Adnan merasa malu, dirinya yakin jika Rena sudah mendengar pembicaraannya dengan Nanda.


"Barusan aku....." Adnan berusaha untuk menjelaskan, tetapi bingung harus mengatakan seperti apa pada Rena.


"Makasih ya," Rena tersenyum.

__ADS_1


"Kamu nggak marah?"


Rena pun menggeleng dengan pasti.


"Kalau kamu kasih tahu sama Abi aku artinya kamu menghargai orang tua aku."


Adnan pun mengangguk membenarkan, lagi pula Rena adalah seorang wanita. Rasanya tidak mungkin membawa tanpa ijin, apa lagi dengan membawa artinya harus bertanggung jawab penuh atas keselamatan Rena.


"Kita makan dulu, lagi pula ini sudah malam. Kamu juga harus minum obat," Adnan mengingatkan obat yang di berikan oleh Dokter saat berada di rumah sakit.


Rena pun mengangguk, keduanya berjalan beriringan menuju ruang makan.


Makanan sudah tersaji sesuai dengan perintah Adnan saat baru saja sampai, sebab tidak ingin membuat Rena telat makan.


Apa lagi sampai tidak meminum obat.


"Ayo makan, makan harus banyak," kata Adnan lagi sambil mengisi piring Rena.


"Adnan, ini terlalu banyak."


"Hehe," Rena pun menggaruk kepalanya merasa malu.


"Ayo makan, senyum saja tidak akan kenyang."


Rena pun mengangguk dan memulai makannya.


Adnan tersenyum melihat Rena yang makan begitu lahap.


"Besok kita akan ke kebun teh, kemudian kita segera pulang agar tidak sampai hujan deras. Aku tidak mau sampai kita harus menginap di sini," jelas Adnan.


"Kenapa?" Rena yang masih betah berada di sana merasa tidak setuju dengan keinginan Adnan.


"Abi juga udah kasih ijin."

__ADS_1


"Tidak baik, lagi pula kamu calon istri Kakak ku," papar Adnan penuh kesakitan.


Seketika itu juga Rena kehilangan nafsu makannya.


Rena pun tertunduk dengan air mata yang menetes, jika saja bisa meminta Rena akan bahagia jika saja menikah dengan Adnan.


"Kenapa?" Tanya Adnan merasa bingung saat melihat wajah Rena yang mendadak murung setelah menyebutkan nama Felix.


Bukankah Rena mencintai Felix, lantas mengapa bisa seakan tidak ingin mendengar nama tersebut.


"Aku tidak tau Adnan, tapi sejujurnya aku dan dia tidak pernah melakukan apa-apa," papar Rena.


"Ya aku yakin," jawab Adnan tanpa rasa ragu.


Rena pun menatap Adnan penuh tanya, tidak mengerti dengan pernyataan Adnan barusan. Bahkan, Rena membutuhkan sedikit penjelasan.


"Aku yakin, karena saat malam itu lampu mati, saat itu juga Kak Felix kembali, kemudian memasuki kamarnya. Tidak lama kemudian Bunda datang jarak waktu antara Bunda masuk ke kamar dengan Kak Felix yang terlebih dahulu masuk tidak terlalu jauh. Mana mungkin ada yang terjadi," Jelas Adnan.


Rena pun mengangguk membenarkan apa yang di katakan oleh Adnan.


"Hanya kamu saja yang mabuk, Felix tidak. Lantas kenapa kamu ingin sekali menikah dengan kak Felix, sedangkan tidak dengan sebaliknya?" Adnan bertanya penyebabnya.


"Cinta?" Tanya Adnan lagi.


Rena mendadak kehilangan kata-kata, sebab tak pernah ada cinta untuk Felix.


"Tentu, jika bukan cinta apa lagi?" Adnan menjawabnya sendiri, kemudian meneguk mineral untuk menetralkan dirinya yang sedang merasa terguncang karena cinta yang tak bisa dimiliki.


"Tidak," Jawab Rena.


Adnan terkejut mendengar, seketika itu menatap Rena dengan penuh tanya.


"Aku tidak pernah mencintainya."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal yang membuat Adnan terkejut Rena pun memilih pergi.


__ADS_2