
"Terus aku gimana?" Rena pun terlupakan saat dirinya turun dari mobil tiba-tiba ada mobil yang melaju dari arah berlawanan.
Ciiitt!
"Aaaaaa!" Teriak Rena dengan tangan yang menyilang di depan wajahnya. Sesaat kemudian Rena menyadari tidak ada merasakan apa-apa membuka matanya dengan perlahan kemudian melihat ke depan. Kakinya terasa lemas seketika itu juga. Tetapi masih beruntung tidak tertabrak
"Kamu baik-baik saja?" Nanda segera memeluk putrinya memastikan bahwa tidak ada yang harus di khawatirkan.
"Rena maaf. Aku juga terkejut kamu tiba-tiba ada di tengah jalan," Adnan pun merasa tidak enak hati.
Rena pun menyadari siapa yang hampir saja menabraknya.
"Adnan, hampir saja jantung ku copot!" Kata Rena dengan memegang dadanya.
"Om, maaf ya," Adnan pun tersenyum pada Nanda.
Sedangkan Nanda menyadari jika yang salah adalah putrinya lagi pula tidak ada yang harus di permasalahkan melihat Rena baik-baik saja.
"Kamu ke kampus sama Adnan saja," Nanda pun memberikan saran pada Rena.
Akhirnya Adnan dan Rena pun menuju kampus bersama-sama.
"Maaf ya, aku ngerepotin kamu," kata Rena dengan tidak enak hati.
"Ya sangat merepotkan karena bayangan mu tidak pernah bisa hilang dari mata ku," kata Adnan.
Sayup-sayup terdengar suara Adnan yang bergumam hingga membuatnya bertanya.
"Apa?"
"Nggak apa-apa, aku yang minta maaf. Hampir saja menabrak kamu," Adnan pun memberi alibi agar menutupi hati yang sedang rapuh.
"Kalau itu, aku yang salah."
Keduanya pun terus saja berbincang-bincang hingga tidak terasa akhirnya sampai di kampus. Adnan pun memarkirkan mobilnya.
"Sebenarnya aku ke kampus buat ketemu kamu. Pertama, mana liontin aku?" Rena menadahkan tangannya.
Adnan pun mengambil dari saku kemejanya kemudian meletakkan pada tangan Rena.
__ADS_1
"Terima kasih," Rena tersenyum bahagia menatap liontin perak kesayangannya.
"Kedua skripsi!" Wajah Rena pun mendadak kesal.
"Kenapa sepertinya aura kebahagiaan mu hilang jika berbicara skripsi?" Tanya Adnan sambil tersenyum kecil. Lucu saja melihat perubahan Rena yang begitu drastis dalam waktu bersamaan.
"Kepala aku pusing jika sudah menyangkut skripsi," Rena mengacak rambutnya.
Adnan pun merapikan rambut Rena yang berantakan. Rena terkejut saat itu juga mendadak mematung karena perlakuan Adnan yang begitu menghangatkan.
"Maaf," Adnan tidak sadar melakukannya, itu hanyalah gerakan refleks yang terjadi saat ingin menunjukkan betapa dirinya begitu menyayangi Rena.
"Nggak apa-apa kalau perlu rapikan aja sampai benar-benar rapi" Rena pun merasa ketenangan menjadi miliknya saat berada di dekat Adnan. Seketika itu juga Adnan sendiri yang mengacak rambut Rena sebab terlalu gemas.
"Adnan!" Seru Rena kesal pada Adnan.
Adnan pun tertawa melihat wajah kesal Rena, senyuman wanita itu seakan mampu meneduhkan hati yang sedang terpuruk nya karena nasib cinta yang begitu malang.
"Kamu jahat!" Rena pun mencubit lengan bagian atas Adnan karena terlalu kesal.
"Sudah sampai kampus di sini kamu harus sopan pada Dosen mu!" Ujar Adnan memperingati Rena.
Rena pun mengangguk.
'Bisakah kau ku miliki? Aku hanya ingin memiliki mu. Lalu, membahagiakan mu dengan sepenuh jiwa,' Adnan pun membatin.
Adnan terus memandangi wajah Rena dengan perasaan yang tidak karuan.
"Adnan, kamu dengar aku nggak sih?" Rena pun menjauhkan wajahnya merasa kesal pada Adnan.
"Iya, aku akan membantu. Tapi aku ingin bertanya satu hal."
"Gimana kalau kita ngobrol di kantin? Aku nggak sarapan pagi dan lapar."
Adnan pun mengangguk setuju keduanya menuruni mobil kemudian segera berjalan beriringan menuju kantin. Mungkin banyak yang iri akan posisi Rena yang bisa begitu dekat dengan Adnan yang notabene nya adalah Dosen tampan dan paling berkarisma di kampus. Dari Dosen wanita sampai mahasiswi terkagum-kagum melihat Adnan, tapi sayang tidak di lirik sama sekali. Sebab, tujuan awal Adnan menjadi Dosen adalah Rena. Sedangkan pekerjaan utamanya adalah seorang CEO di perusahaan cabang. Sesampainya di kantin keduanya pun memilih tempat duduk yang di rasa paling nyaman.
"Bapak Dosen tunggu di sini, biar mahasiswi mu yang cantik ini yang memesan makanan untuk mu," goda Rena.
Adnan tersenyum kecil melihat kelucuan Rena padahal mereka sudah kenal sejak kecil. Tetapi mendadak getaran aneh itu terasa beberapa waktu ini. Adnan tahu dirinya sudah benar-benar jatuh hati pada Rena. Entah cintanya bisa berlanjut ataukah hanya menjadi mimpi belaka.
__ADS_1
"Ini Bapak, nggak harus di suapin juga dong," Rena pun meletakkan semangkuk bakso dan juga es teh manis pada meja untuk Adnan. Begitu pun selanjutnya untuk dirinya.
Perut Rena terasa begitu lapar namun tangan nya membalas chat Vanya yang menanyakan keberadaan nya. Sampai akhirnya Rena tidak sadar sudah meminum-minuman punya Adnan. Adnan pun lagi-lagi tersenyum melihatnya setelah di letakkan Rena kembali, tanpa rasa jijik Adnan pun meminumnya kembali. Akhirnya keduanya minum dalam gelas yang sama tanpa di sadari oleh Rena. Sesaat kemudian Rena ingin mengambil lagi tetapi gelasnya sudah kosong. Membuatnya bingung dan bertanya-tanya seketika melihat Adnan. Adnan pun menunjukkan gelas milik Rena yang masih terisi es teh manis kesukaan Rena. Seketika itu juga tersadar jika dirinya dari tadi menyeruput minuman milik Adnan.
"Hehe," Rena pun cengengesan.
Adnan menggerakkan kedua alis matanya menyadari rasa malu yang di rasakan oleh Rena setelah menyadari kesalahan nya. Rena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tak kuasa menahan malu. Kemudian mengacak rambutnya sendiri. Tapi tiba-tiba dengan refleks tangan Adnan merapikan rambut Rena.
Rena tercengang seketika itu juga, tapi entah mengapa jantungnya mendadak berdegup kencang.
Adnan pun menyadari perlakuan nya barusan, entah mengapa lagi-lagi refleks melakukan hal itu, seketika mengacak rambut Rena kembali agar tidak menjadi kecanggungan.
"Ya ampun! Aku pikir kamu mau rapikan rambut aku beneran," ujar Rena kesal.
"Siapa bilang!" Adnan pun semakin mengacak rambut Rena.
"Adnan!" Seru Rena kesal tanpa sadar dirinya sudah mengundang perhatian sekitarnya.
"Hehe," Rena pun merasa malu.
"Bapak harus bayar rasa malu ini! Bantu skripsi aku," imbuh Rena dengan suara pelan agar hanya keduanya yang mendengar.
"Tidak masalah," Adnan pun bangkit dari duduknya, dirinya tersenyum bahagia setelah begitu dekat dengan Rena.
Rena pun memandangi punggung Adnan yang perlahan menjauh. Seketika itu juga memegang dadanya, Rena merasa ada yang tidak beres. Bahkan perlakuan Adnan yang tidak biasa membuatnya semakin bertanya-tanya.
"Jantungku kenapa berdebar?" Rena pun cepat-cepat meneguk minuman miliknya, dirinya merasa butuh waktu istirahat.
Mungkin terlalu stres memikirkan pertunangan dengan Felix yang tidak di inginkan nya membuatnya menjadi aneh.
"Kakak ipar!" Teriak Vanya yang tiba-tiba muncul.
Rena pun terkejut seketika itu juga.
"Kamu ya, hampir aja bikin jantung aku copot!" Omel Rena.
"Hehehe, maaf," Vanya pun menangkup kedua tangannya, kemudian mengkedipkan kedua matanya.
"Dasar!" Rena pun mengetuk dahi Vanya kemudian pergi.
__ADS_1
"Rena, tunggu!" Teriak Vanya.
Peduli setan dengan orang-orang yang melihatnya kesal karena suara emasnya yang begitu nyaring.