Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2

Terpaksa Menikah Dengan Suami Orang 2
Mencintai Adnan sungguh sangat indah...


__ADS_3

"Ya, aku menunggumu untuk menjelaskan!"


Adnan pun terus menatap Rena, sebab dari tadi tak juga berbicara apa-apa.


Sejenak Rena menimbang sambil menatap wajah Adnan yang terus menatapnya penuh intimidasi.


Tapi kenapa harus malu juga, bukankah Rena tidak mencuri atau melakukan pekerjaan kriminal lainnya.


"Aku malu sekali saat Abi menghubungi ku dan memberitahu kamu bekerja di kantin," Kata Adnan lagi.


Agar Rena tahu jika yang memberitahukan kepadanya adalah Nanda sendiri, sebagai seorang suami yang bertanggung jawab tentunya Adnan tak ingin dipandang sebelah mata.


Apa lagi di tegur langsung oleh mertuanya sendiri, itu sungguh sangat memalukan.


"Abi?" Rena mendesus setelah menatap wajah Adnan, awalnya sempat berpikir jika dirinya tak lagi memiliki mata-mata setelah menikah.


Tetapi sama saja, kebebasan hakiki tak pernah didapatkannya.


Rasanya lelah jika harus hidup dalam pantauan selama dua puluh empat jam.


"Iya!"


"Aku nggak punya uang, kamu tau? Sejak Abi tahu aku dan Vanya mabuk, semua fasilitas yang aku punya di sita. Aku nggak punya uang," Rena menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa malu untuk menjelaskan masalahnya pada Adnan.


Akan tetapi semua harus dikatakan agar Adnan tahu dirinya memang sedang kesulitan keuangan.


Adnan masih diam melihat Rena dengan segala perkiraannya.


"Aku lapar juga!"


"Kamu lapar?" Adnan terkejut mendengar pernyataan Rena, seakan begitu menyedihkan karena kelaparan membuatnya menjadi pelayan kantin.


"Lapar banget, sarapan pagi tadi cuma sedikit. Soalnya aku malu, waktu tahu yang masak adalah Bunda. Maaf ya, aku bikin kamu malu di depan Abi."


"Ayo kita makan!"


Adnan pun menarik tangan Rena dan membawanya ke sebuah restoran, semua menu makanan di pesan. Hingga membuat Rena bingung mau diapakan makanan yang begitu banyak tersaji di hadapannya tersebut.


"Kenapa? Ayo makan, mau aku yang menyuapinya?"


"Tidak, tapi ini banyak sekali."


"Harus habis!"


"Apa?" Rena pun terkejut mendengarnya.


"Iya, karena ini di bayar! Nggak gratis. Jadi harus habis!"


Rena pun menghirup udara sebanyak mungkin, kemudian memulai makan. Adnan hanya menatapnya saja, menyaksikan Rena yang sedang makan dan harus menghabiskan semuanya.

__ADS_1


Sampai akhirnya mata Rena sudah membulat dan ingin muntah sebab memaksakan diri untuk menghabiskan semuanya.


"Sudah, kalau sudah kenyang kenapa dipaksakan. Aku memang meminta mu untuk menghabiskan semuanya, tapi tidak dengan memaksakan diri," Adnan pun membersikan mulut Rena dengan tangannya.


Membuat Rena menegang seketika itu.


"Adnan, maaf ya. Aku udah bikin kamu di marahin sama Abi."


"Nggak perlu minta maaf, aku nggak marah. Tapi, lain kali jangan ulangi lagi,"


Adnan mengeluarkan kartu ATM miliknya dan beberapa kartu kredit.


"Mulai sekarang kamu yang atur keuangan," kata Adnan.


Rena menatap benda tersebut tanpa berniat untuk mengambilnya sama sekali dan Adnan menyadari itu.


"Kenapa hanya diam? Ayo ambil!"


"Maaf Adnan, tapi aku tidak terbiasa menerima barang apapun dari orang lain."


Adnan pun tak dapat menahan tawanya, istrinya itu mungkin sedang terlalu tegang sehingga lupa siapa posisinya sekarang.


"Kok ketawa sih?" Rena belum mengerti mengapa Adnan tertawa, membuatnya semakin kebingungan.


"Apa aku salah?"


"Nggak, kamu benar!"


"Makanya, panggil Mas Adnan. Biar kamu tidak lupa kalau aku ini suami mu," kata Adnan.


Ah iya!


Kenapa lupa jika kini sudah menikah dengan Adnan?


Rena pun tersenyum kecut sambil merutuki kebodohan dirinya sendiri.


"Ambil!"


Rena pun mengangguk dan perlahan tangannya bergerak mengambil benda tersebut.


"Jangan lupa jatah ranjang juga ya," bisik Adnan.


Glek.


Seketika itu Rena meletakan kembali benda tersebut, beralih menatap Adnan dengan horor.


"Ranjang?" Tanya Rena dengan tidak sadar, sesaat kemudian menutup mulutnya.


"Adnan, aku..."

__ADS_1


Kurang ajar!


Jatah ranjang itu sangat membuatnya menegang.


Padahal Adnan adalah suaminya sendiri, bukankah Rena mencintai Adnan juga.


Iya, itu benar.


Tetapi mengapa harus ada rasa gugup seperti ini.


Oh tidak, bisakah Rena meminta ampun dan dunia berhenti berputar sejenak saja untuk Rena bisa menarik napas dan membenturkan kepalanya sendiri agar kembali normal.


"Ambil! Sekarang kamu tanggung jawab ku!"


Rena pun kembali mencoba untuk mengambil kartu tersebut, tetapi dirinya juga ragu.


"Ayo ambil, gunakan semau mu!" Adnan tahu apa yang kini dipikirkan oleh Rena, tetapi dirinya juga tidak memaksa apa yang diinginkannya saat ini.


Sadar akan Rena yang masih canggung dengan status mereka saat ini, hingga membuat Adnan ingin membuat istrinya itu nyaman dulu di sampingnya dengan status istri yang disandangnya.


"Adnan, aku..."


Tatapan mata Adnan begitu tajam, membuatnya mengingat sesuatu, Rena tidak lupa panggilan yang diminta Adnan.


Tapi itu sangat geli di bibirnya, namun bagaimana reaksi Adnan jika menolak. Rena pun ingin mencari jalur aman, bukankah dirinya ingin menjadi istri yang baik?


Rasanya hanya perlu sedikit belajar, nanti pasti terbiasa dan tak akan ada lagi kecanggungan ini.


"Mas Adnan..." Rena pun memanggil Adnan dengan panggilan 'Mas' untuk yang pertama kalinya, walaupun dengan suara kecil cukup terdengar jelas di telinga Adnan.


Hingga membuatnya tersenyum sambil menatap wajah Rena.


Namun, tatapan mata Adnan malah membuat Rena tidak karuan.


"Coba ulangi?"


"Apaan sih!" Rena pun memilih diam dan melihat sekitarnya.


Tidak ingin terus berada dalam ketegangan karena Adnan yang seakan terlihat begitu tampan.


Kurang ajar!


Rena bisa mabuk kepayang kalau senyuman manis Adnan terus saja seperti ini.


Salahkan jika Rena saat ini ingin terbang melayang di udara, kemudian menikmati keindahan dunia ini?


Ah tidak!


Dalam hati Rena pun menjerit, mencintai Adnan sungguh sangat indah.

__ADS_1


Walaupun ada rasa lainnya juga.


__ADS_2